
Seminggu setelah pernyataan Adam kepada Zara, kini rumah Adam begitu sibuk dengan persiapan putra mereka yang akan melamar Zara secara resmi, setelah mengatakan perihal rencana Adam pada kedua orang tuanya. Keinginan Adam disambut bahagia, keinginan Ardina untuk memiliki menantu Zara pun akhirnya terwujud.
Adam menopang tubuhnya dengan kedua lutut, menyetarakan tingginya dengan Anissa yang kini sudah berpakaian gaun putih dengan motif pohon dan rambut yang dicepol. Yang terduduk disofa kamarnya.
Adam menyentuh belakang kepala putrinya,"Anissa". Panggilnya Pelan, membuat Anissa menatap ke mata sang Ayah.
Adam merasakan nerveous luar biasa, ingin mengatakan perihal menjadikan Zara sebagai bunda untuk Anissa. Dia takut jika Anissa menolak kehadiran Zara meskipun mereka selama ini dekat. Adam takut jika Anissa hanya mau menganggap Zara hanya sebagai seorang tante yang menemani kegiatannya.
Adam mengerapkan mata,"Anissa mau jika tante Zara menjadi bunda Anissa?". Tanya Adam pelan.
Anissa masih mencerna kata-kata Adam, sepersekian detik matanya berbinar "Benarkah Ayah?". tanyanya meyakinkan.
Adam mengangguk.
Anissa berdiri diatas sofa, diikuti Adam "Jadi aku boleh panggil tante Zara dengan panggilan bunda?". Adam tersenyum, Anissa bersemangat kini dia meloncat-loncat diatas sofa dengan bahagia.
Adam memberhentikan kegiatan Anissa dengan memeluknya, dilepaskan pelukan sayang darinya kini dia menatap mata cantik putri kesayangannya.
"Tapi panggil bundanya nanti saat Ayah dan tante Zara sudah menikah,Oke". Adam memberikan jempolnya.
"Oke !" Teriak semangat Anissa meskipun dirinya tak mengerti apa itu pernikahan.
***
Berbeda dengan Rumah keluarga Darimana yang sibuk di hari minggu, rumah keluarga Haydar masih seperti biasanya. Zara mulai ragu untuk menerima lamaran dari Adam, karena setelah hari dimana dia menyetujui Adam dan untuk segera bertemu dengan kedua orangtuanya selama itulah Zara tidak menghubungi Adam begitupun sebaliknya.
Zara menyibukkan dirinya dengan menggambar mode-mode pakaian untuk koleksi butiknya. Hingga pintu kamar yang terbuka mendadak membuat Zara terkaget.
__ADS_1
Zara menengok ke arah pintu dilihatnya sang kakak berdiri dengan bersedekap menatap remeh kepada Zara, Alfath berjalan mendekat ketawa Zara yang masih terheran-heran akan sikap kakaknya.
"Kenapa?".
Alfath duduk disamping Zara "Kamu bisa nggak sih, bilang sama sahabat kamu Deira itu untuk berhenti mengejar-ngejar abang terus". ucapnya kesal.
Zara tersenyum "Memang kenapa sih kak, dia cantik, baik, rajin ibadah, pinter, abang kan juga udah lama kenal dia". Tukas Zara.
Alfath mendengus kesal,"Tapi abang nggak bisa".
Zara meletakkan pensil
menggambarnya,"Apa karena Kak Imel?".
Alfath terdiam sudah empat tahun ini dia menutup hatinya untuk siapapun hanya seorang Imel Larasati lah yang akan tetap bertahta dihatinya, wanita yang sudah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya karena kecelakaan, ketika kurang dari dua bulan Alfath akan menjadikannya sebagai istri.
"Don't be sad my brother, im always here and always accompany you".
Alfath tersenyum lalu memeluk adik kesayangannya.
"Thank you so much my sister".
Alfath berdiri dari duduknya lalu melangkah kaki menuju pintu keluar, namun perkataan Zara membuatnya berhenti melangkahkan kakinya.
"Berilah kesempatan pada hatimu terbuka untuk hati yang lain, jika memang tidak bisa menerima katakan yang sebenarnya. Supaya ia bisa berhenti berharap kepadamu, karena dia juga berhak bahagia".
Alfath menengok kearah Zara tersenyum lalu melanjutkan lagi langkahnya.
Zara kembali melanjutkan desain-desain bajunya hingga tak sadar ia sendiri membuat sebuah gambar gaun yang sangat sederhana namun elegan. Zara jatuh cinta pada gaun rancangannya sendiri dia sudah memantapkan hati, nanti saat dia menikah ia akan mengenakan gaun karyanya sendiri.
__ADS_1
***
Tok Tok Tok
Suara pintu kembali diketuk kini Nuril ibunda Zara datang dengan senyum sumringah mendekati Zara.
"Bunda ada apa?".
Nuril memegang lengan Zara memberikan tatapan, bahagia dan terharu. Zara hanya melihat bingung dengan ekspresi wajah ibunya.
"Ayo kita turun, ada tamu buat kamu". Menggandeng tangan Zara
Zara kembali tak mengerti siapa tamu untuk Zara yang dimaksud.
Diruang tamu sudah duduk Adam beserta keluarga tak terkecuali Anissa, Tuan rumah Ahmad Haydar dan juga Alfath juga sudah Adam, ia di sofa ruang tamu.
Zara masih bingung mengikuti langkah kaki ibunya menuruni tangga, hingga suara memekik riang anak kecil menggema di seluruh ruangan membuat jantungnya berdebar keras.
"Tante Zara!". Pekik Anissa dan berlari ke arah Zara yang kini sudah ada dilantai dasar.
Zara merentangkan tangan dan mensejajarkan tingginya dengan Anissa, memeluk sayang malaikat kecil yang selama seminggu ini ia rindukan.
"Aku kangen". bisik Anissa
Zara mencium kedua pipi gembul Anissa, membuat Anissa terkekeh dengan perlakuan Zara.
Vote dan Komen
dalshabe
__ADS_1