
Adam berjalan gusar setelah menerima informasi dari Meja resepsionist, bahkan buku-buku tangannya yang tadi berdarah kini tak merasakan sakit setelah membaca banyak pesan dari Zara.
Bahkan Zara sudah menelponnya berkali-kali, bahkan ratusan pesan sudah ia kirimkan namun karena Adam lupa menyalakan data seluler setelah keluar dari kantor membuat pesan Zara tak ada yang masuk satupun.
Adam membuka knop pintu tergesa disana sudah ada Zara beserta keluarganya dan kedua orang tuanya yang menemani Anissa. Sementara itu tangis Zara langsung pecah melihat kedatangan Adam, ibunya mengusap pelan punggung Zara mencoba menenangkan dirinya.
Adam duduk di kursi sebelah Anissa yang kini terbaring di ranjang dengan wajah yang memerah penuh bentolan dan selang oksigen yang terpasang di hidung mungilnya, diusapnya lembut rambut hitam legam milik Anissa dengan sayang.
Zara yang melangkahkan kakinya menuju Adam yang duduk disamping ranjang Anissa. Dia bahkan duduk bersimpuh di lantai memohon maaf pada Adam.
"Adam maafkan aku, aku lalai menjaga Anissa" menagkupkan kedua tangannya di depan wajahnya, air matanya berlinangan, menahan isak tangis.
"Aku bodoh Adam, maafkan aku kumohon maafkan aku". Mohon Zara diselingi isakan menahan tangisnya.
"Zara berdirilah". ucap Adam lembut, menatap manik mata Zara. Adam berdiri dari duduknya kini dia menggandeng lengan Zara keluar dari kamar ingin membicarakan sesuatu empat mata dengan Zara.
Mereka berdua kini berada di taman Rumah Sakit ddilihatnya Zara masih sedikit sesegukan menahan tangisnya.
"Udah dong Zara jangan nangis terus, nanti dikira aku jahat sama kamu". Adam terkekeh melihat kondisi Zara yang matanya sembab dan mukanya yang memerah karena menangis.
"Sekali lagi aku minta maaf ya". ungkap Zara yang masih sedikit terisak. "Astagfirullah!, Adam tangan kamu!". Pekik Zara panik melihat buku tangan Adam yang berdarah terkena pecahan kaca.
"Gak papa Zara, ini nggak sakit". Adam menenangkan Zara, menggerakkan tangannya meskipun sedikit ngilu.
Zara berdiri menarik ujung lengan tuxedo Adam, langsung membawanya ke IGD untuk segera diobati. Adam meringis ketika lukanya di sterilkan dengan Alkohol.
"Pasti sakit". Zara ikut meringis melihat Adam. Adam hanya terkekeh melihat Zara yang ekspresinya ikut menahan perih di tangannya yang sedang diobati.
"Sudah selesai pak, untuk obatnya silahkan tebus di apotek sebelah sana". terang perawat yang menangani Adam.
***
Sekembalinya Adam dan Zara dari IGD kini mereka berdua ada di ruangan dokter Aisyah yang menangani Anissa.
"Apakah dari anda berdua ada yang alergi dengan seafood?". tanya dokter itu, Adam dan Zara tersentak mendengar pertanyaan Dokter itu.
Adam segera menetralkan raut wajahnya. "Ya, saya alergi seafood Dok tapi untuk asma, ibu saya yang mengidap.Namun tidak terlalu sering kambuh". Ucap Adam yakin
Dokter Aisyah mengangguk. "Anissa terindikasi alergi dengan seafood, bu Zara sudah menjelaskan bahwa makanan terakhir yang dikonsumsi tidak mengandung seafood dan sebelum Anissa mengalami pingsan, sesak nafas, dan ruam. Bu Zara mengatakan bahwa mereka berada di bazar". Jeda tiga detik. "Jadi bisa saja alergi yang diidap Anissa berasal dari asap seafood,saat melewati stand yang menjual seafood di bazar. Pernah ada kasus yang serupa seperti ini tetapi di Luar Negeri. Beruntung Anissa segera di bawa ke RS, jadi dia ditangani dengan cepat."
__ADS_1
Adam mengangguk mengerti "Terima kasih dokter". Ucap Adam diakhir.
Zara dan Adam berjalan beriringan kembali ke kamar rawat inap VIP Anissa, mereka diam dalam perjalanan berkutat dengan pikiran masing-masing.
"Zara"
"Adam"
Panggil mereka secara bersamaan
"Kamu duluan,Ladies First" Ucap Adam sebelum Zara mengelak.
Zara memilih ujung hijabnya menyalurkan rasa gugup yang melingkupi hatinya sembari menundukkan kepalanya.
"Emm, Adam aku minta maaf. Karena aku sangat panik makanya aku langsung bilang bahwa Anissa adalah putriku". Ucap Zara ragu.
Adam hanya memandang Zara datar,"Aku mengerti" Adam kembali mengangguk. Lalu melanjutkan jalannya lagi.
Sedangkan Zara menatap bingung kearah Adam lalu dia segera menyusul Adam yang sudah berjalan dulu di depan.
***
"Makan ya sayang". bujuk Adam menyuapi Anissa, Anissa tetap menggeleng.
"Anissa mau tante Zara". Mulutnya mengerucut
Ardina yang melihat tingkah laku cucunya pun terkekeh dia menggeleng, lalu mendekat ke arah Adam.
"Telepon saja Zara". ucapnya lembut ketika berdiri disamping putranya.
"Tapi nggak enak bu, Zara udah terlalu banyak bantu Anissa dan aku. Dia juga punya kehidupan sendiri". Kilah Adam.
"Assalamualaikum". panggilan salam berasal dari pintu yang knopnya diputar.
"Tante Zara!!" Pekik bahagia Anissa.
Zara berjalan mendekati Anissa, memeluk dan menciumnya."Bagaimana kabar Anissa hari ini?".
"Dia merindukanmu Zara". Jawab Ardina yang antusias melihat kebahagiaan cucunya. Lalu dia menyusul Adam yang duduk di sofa ketika Zara datang.
__ADS_1
"Benarkah?". Kepala Zara meneleng ke arah Anissa.
Anissa menganggukkan kepalanya sembari menyembunyikan senyum bahagianya yang bertemu dengan tante Zaranya.
"Anissa sudah makan?". Lagi-lagi Anissa menggeleng "Yaudah tante suapin yaa?". Rayu Zara.
Anissa kembali lahap ketika Zara menyuapinya, dengan celoteh-celoteh dimulutnya dia sedang asyik berimajinasi. Zara juga masih asyik menimpali celoteh Anissa.
"Adam kamu kenapa?". tanya Ardina kepada Adam yang duduk melamun di sofa "Dari kemarin kelihatan ada masalah yang kamu sembunyikan". tebak Ardina
"Gak ada apa-apa bu". Kilah Adam, tersenyum terpaksa pad ibunya.
Ardina menggeleng " Kamu putra ibu, ibu tau kamu berbohong atau tidak". Jawab Ardina Sebal.
Adam diam dia merasa bingung apakah harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak, semenjak kedatangan Della ke kantor membuat kepala Adam sangat pusing memikirkan perkataan Della yang akan merebut hak asuh Anissa.
Ardina cemberut, sembari tangannya masih melipat baju ganti Anissa. Kedatangan Zara yang menyusul mereka duduk di sofa membuatnya mendongakkan kepala.
"Anissa tidur?". tanyanya ketika Zara mendekat ke arah sofa
"Iya bu, bagaimana kata dokter?". Tanya Zara, lalu tangan kanannya mengambil meminum air mineral.
"Dia kembali". Adam tiba-tiba berbicara dengan kedua telapak tangan yang menangkap kepalanya.
Ardina dan Zara saling bertatapan tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Adam, mereka saling bertatapan menyiratkan apa yang dimaksud Adam.
"Ibunya Anissa dia kembali". ucap Adam lirih
Ardina yang mendengar itupun langsung berdiri hingga baju-baju Anissa terjatuh berantakan. sedangkan Zara melongo kaget dengan pernyataan Adam.
Ardina kembali duduk lalu menatap tak percaya ke arah Adam."Kapan?". tanyanya penasaran
Adam menceritakan seluruhnya tanpa ada terkecuali, Ardina menangis sementara Zara mencoba menenangkan Ardina yang begitu syok atas apa yang diceritakan oleh Adam.
Dia sangat takut kehilangan cucu kesayangannya Anissa, bagaimana pun Anissa masih kecil dia tau Adam yang selama ini berjuang sendirian untuk mengasuh, menjaga, mendidik,dan membesarkan Anissa sendirian.
**Like dan Komen
Maaf jika ada typo
__ADS_1
dalshabe**