Bunda Untuk Anissa

Bunda Untuk Anissa
Quality Time


__ADS_3

"Tante kita mau kemana?".


Zara hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Anissa, ia tetap berjalan dengan menggandeng tangan mungil Anissa ke dalam sebuah tempat spa. 


"Tante Anissa mau itu". Tunjuknya pada sebuah sesi manicure pedicure.


Zara berpikir,"Tapi nanti wudhunya nggak sah, kalau di rapikan saja bagaiamana?".


Anissa sedikit kecewa dengan jawaban Zara,"Baiklah".


Melihat Anissa sedikit muram setelah mendengar jawabannya, Zara menggandeng tangan mungilnya untuk diajak mendekat ke arah bagian nail art.


"Ada yang bisa dibantu". Tanya seorang pelayan dengan senyuman ramah.


Zara tersenyum,"Mbak itu fake nail ?". Menunjuk kuku palsu dengan gambar dianya princess.


"Iya bu, kami mempunyai produk ini khusus untuk anak-anak". Jelas pelayan itu.  


Zara mensejajarkan tingginya dengan tinggi Anissa,"Kamu pilih yang mana, tapi janji saat sholat harus dilepas dan boleh dipakai disaat hari libur. Bagaimana?".


Anissa mengangguk bersemangat dengan binar mata keceriaan, mendengar pernyataan Zara.


"Aku mau model itu tante, Anissa suka Disney Princess. Mereka semua cantik-cantik dan juga baik hati".


Zara mengangguk,"Baiklah". Zara berdiri lalu menunjuk ke model kuku palsu yang dimaksud Anissa.


Zara memperhatikan Anissa yang duduk tidak terlalu jauh darinya, setelah memilih apa yang ia sukai kini Anissa sangat senang ketika kuku palsu yang ia pilih tadi dipasang pada kuku-kuku mungilnya.


Sedangkan Zara menikmati sesi manicure dan pedicure untuk dirinya sendiri. Hari ini ia akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengajak jala-jalan Anissa.


Ponsel Zara bergetar sebuah notifikasi masuk dari Adam, namun Zara tidak ambil pusing ia akan mengabaikan pesan Adam. Sedikit membuatnya merasa kesal Bukankah itu hal yang menyenangkan ? Pikir Zara.


***

__ADS_1


Adam terus mengirim pesan kepada Zara, ia sudah berkali-kali mengirim pesan namun tak satupun yang dibalas oleh Zara. Setelah acara Anissa menginap di rumah Zara saat malam minggu, jujur Adam merasa kesepian karena tinggalnya Anissa dirumah Zara meskipun hanya sehari semalam.


"Kenapa, mukanya tegang begitu?". Tanya Ardina sembari meletakkan secangkir kopi dihadapan Adam.


Ada mendongak mendengar pertanyaan ibunya."Aku hanya merindukan Anissa bu, tapi Zara tidak mau menjawab telepon maupun  pesanku."  


"Kamu merindukan Anissa atau Zara?". Goda Ardina pada putranya.


"Anissa lah bu, rasanya rumah sepi tanpa suaranya".


"Anissa atau Zara". Goda Ardina lagi.


"Anissa".


Ardina terus bertanya menggoda Adam, hingga Adam  tak sengaja menyebut nama Zara dalam pertanyaan bertubi-tubi dari ibunya.


"Tuhkan kamu kangen Zara, ngakunya kangen Anissa. Biarlah Adam, mereka mungkin jalan-jalan tanpa kamu yang super cerewet ini kalau diajak belanja". 


Adam malu menunduk, dengan mengelus belakang kepalanya. Benar kali ini ia merindukan dua orang wanita yang sangat berarti dalam hidupnya setelah ibunya. Ingin sekali Adam mengetahui diamana Zara dan Anissa sekarang berada, tapi benar kata ibunya jika ia menyusul pasti akan mengganggu interaksi antara putri kesayangannya dan calon istrinya.


***



"Cantik sekali". Zara mencubit gemas dagu Anissa.


Zara menggandeng Anissa untuk melanjutkan acara Quality Time mereka berdua, dan kini saatnya mereka untuk berbelanja pakaian, bersyukur nya Zara ia mengenal gadis kecil bernama Anissa karena ia sangat suka sekali dengan pakaian-pakaian lucu anak-anak seusia Anissa.


"Ini cantik sayang". Zara menempelkan baju kearah Anissa melihat ukuran berapa yang pas untuknya.


"Baju Anissa banyak tante".


 "Benarkah?". Zara menyakinkan Anissa,"Tapi tante pengen beli baju untuk Anissa".

__ADS_1


Anissa berpikir,"Baiklah tapi hanya satu saja ya tante, karena nenek bilang nggak boleh boros".


"Siap tuan puteri".


Hampir setengah hari Anissa dan Zara menghabiskan waktu berdua mengitari mall,Zara mengajak Anissa untuk makan siang di salah satu food court. Rasa bahagia menyelimuti  perasaan hati Zara, kurang dua bulan lagi ia akan menikah dengan Adam dan rasa bahagia bertambah lagi disaat Anissa nanti memanggilnya dengan sebutan bunda.


"Anissa tunggu disini, tante mau pesan makanan dulu". Pesannya diangguki Anissa.


Zara berjalan menuju salah satu  kios makanan, namun Anissa yang asyik dengan bola warna-warninya tak menghiraukan pesan Zara. Bola itu menggelinding jauh hingga tak sadar Anissa terus mengikuti arah bola itu menggelinding. Hingga ia menabrak seorang laki-laki dengan setelan jas lengkap.


Anissa duduk terjatuh, namun dengan sigap laki-laki itu membantunya bangkit berdiri dengan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Anissa. 


"Hai, kamu tidak apa-apa kan cantik?".


Anissa yang ketakutan diam saja sembari terus memeluk bola itu, ia ketakutan karena baru kali ini berhadapan dengan laki-laki dewasa selain ayah, kakek, dan om Alfathnya. Apalagi teringat nasihat dari nenek Ardina yang mengatakan untuk tidak terlalu percaya dengan orang yang baru saja dikenal.


Zara kembali dengan membawa nampan berisi makanan, namun ia kebingungan saat mengetahui Anissa tidak ada dibungkus itu.


"Anissa!". Panggil Zara panik.


Zara meletakkan nampan, ia bergegas mencari Anissa kemanapun. Selang beberapa menit Zara melihat seorang anak kecil mirip Anissa berdiri membelakanginya dengan seorang pria yang berlutut didepan anak kecil itu. Zara berjalan cepat kearah anak kecil itu, sembari terus merapalkan doa berharap itu benar Anissa.


"Anissa". Panggil Zara saat ia tiba disamping anak kecil itu.


"Tante!". Pekik Anissa lalu ia memeluk senang Zara, meskipun air mata berlinang di pipinya.


Laki-laki itu berdiri,"Zara?". Panggilnya menyakinkan dengan apa yang ia lihat.


"Azara?". Ulangnya lagi.


Zara yang merasa namanya dipanggil menoleh, ia mengernyit tak mengerti bagaimana pria yang baru ia temui mengenal dirinya.


"Apa kamu lupa?". Mengulurkan tangan,"Aku Satria Ahmad, kita pernah bertemu di Perancis tiga tahun lalu". Jelasnya semangat.

__ADS_1


Zara menyadarinya ia menyambut uluran tangan Satria,"Maaf aku tidak mengingatmu". Jelas Zara diakhiri dengan senyuman.


__ADS_2