Bunda Untuk Anissa

Bunda Untuk Anissa
Bimbang


__ADS_3

Adam mengusap kasar rambut hitamnya, setelah kepergian Nina menyerahkan amplop cokelat berisi gugatan hak asuh Anissa terhadapnya ia sangat marah sekali, bagaimanapun caranya ia harus memenangkan gugatan itu. Sungguh Adam sangat pusing dibuat oleh periksa Della, entah permainan apa lagi yang akan ia rencanakan.


Ponselnya berdering membuyarkan pemikiran Adam, terdapat nama Acara di layar ponsel itu. Segera ia menerima panggilan, setidaknya mendengar suara Zara sedikit meringankan beban yang ada diotak dan hatinya.


"Assalamualaikum, Ada apa Za?".


"Waalaikumsalam, mas aku sudah di lobby kantor. Apa kamu ada di kantor?".  Jawabnya dari seberang


"Oh, iya aku di kantor". Adam membenarkan letak duduknya,"Tumben ada apa ?".


Zara terkekeh,"Tidak hanya saja kupikir kita jarang sekali makan bersama, aku membawa makan siang". Jelasnya


"Apa kamu merindukanku?". Tanya Adam menggoda Zara.


"Siapa bilang?". Zara mendengus kesal,"Sudah kututup teleponnya, aku segera kesana. Assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam, I Love You Za".


"I Love you too". Balas Zara lirih.


"Apa aku tida dengar bisa kau ulangi lagi?". Goda Adam


"Sudah kututup  teleponnya". Pipi Zara bersemu merah mendengar kejahilan Adam.


***


Zara menyiapkan makanan yang ia bawa diatas meja Adam, meletakkan aneka masakan buatannya untuk dicicipi Adam. Namun pikiran Adam bergelayut kemana-mana, ia tidak fokus hari ini seakan seluruh tenaganya terkuras karena surat pengajuan hak asuh Anissa.


"Mas?!". Panggil Zara kesekian kalinya.


Adam tersadar dari pemikirannya, ia tersenyum kaku melihat Zara."Ya ada apa Za?".

__ADS_1


Zara meletakkan sendok, lalu ia mengembalikan nafas kasar melihat Adam sekilas."Kamu kenapa? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?". Tanyanya menyelidik


Adam menyenderkan punggung ke sofa," Hanya ada sesuatu, jangan khawatir". Pungkasnya.


Zara mengangguk ragu, meskipun dibenaknya mengatakan ada sesuatu yang Adam sembunyikan dari dirinya,"Baiklah".


Ia kembali menyiapkan makan siang untuk Adam,"Mas, tadi bunda telepon. Untuk hal gedung dan lain-lain persiapan pernikahan sudah 75℅. Tinggal kita mengurus undangan dan hal-hal pribadi kita".


Adam mendongak, ya benar pernikahan dirinya dan Zara kurang dari dua bulan lagi. Persiapan sudah dilakukan oleh dua keluarga besar itu. Meskipun Zara sudah meminta agar pernikahan dilakukan secara sederhana, tapi keluarga besar Haydar sangat menentang karena hari itu adalah hari yang paling bersejarah untuk putri kesayangan mereka.      


Adam mengulum senyum,"Mungkin aku bisa fitting baju dan mengurus cincin hari sabtu, kamu nggak keberatan kan?".


"Baiklah, jika memang tidak bisa aku bisa sendiri mengurus hal itu".


Adam menyiapkan capcay kedalam mulutnya,"Tidak, yang menikah kita berdua kenapa kamu yang repot sendirian". Adam lahap mengunyah makanan yang dibawa Zara," Butikmu bagaimana?".


"Alhamdulillah, lancar bulan depan sudah siap intuk launching produk baru". Zara meraih ponselnya yang ada di meja,"Astagfirullah, aku lupa untuk memberi pesan kepada pak Tono untuk menjemput Anissa". Segera ia mencari kontak pak Tono dan hendak menelponnya, namun suara Adam menghentikan kegiatan Zara.


"Syukurlah, hampir saja jantungku rasanya melompat keluar".


"Za boleh aku tanya?". Ucap Adam selesai makan siang," Ini yang masak semua ini siapa?". Sembari menunjuk kotak makanan yang di jejer rapi diatas meja.


"Kenapa?". Zara terlihat panik,"Apakah ada yang aneh ?". Wajahnya semakin serius saat bertanya pada Adam,"Rasanya tak enak?".


"Pasti kebiasaan, kalau ada yang tanya itu dijawab jangan malah balik nanya".


Zara memelas,"Aku yang masak semua ini, pasti nggak enak ya".


"Enak, sangat enak aku suka. Jika boleh setiap hari kamu yang harus masakin aku". Jelas Adam membuat Zara tersipu malu mendengarnya.


"Insyaallah, tapi nanti kalau udah sah setiap hari pasti aku masakin". Ucap Zara bersemangat, sembari merapikan kotak makan yang sudah kosong.

__ADS_1


Adam tersenyum bahagia mendengar jawaban Zara,lalu ia beranjak berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan. Zara yang melihat ekspresi Adam yang bahagia, iapun juga bahagia berlanjut ia juga merapikan meja kerja Adam yang terlihat berantakan dengan telaten ia merapikan dokumen dokumen dimeja Adam dan menatanya kembali ketempat semula.


Sebuah amplop cokelat  terjatuh  mengeluarkan sebuah kertas, sebenarnya Zara tidak ingin tau apa yang tertulis didalam kertas itu. Namun sekelebat nama Anissa juga tertera di dalam tulisan itu, segera ia membaca lengkap surat penuntutan hak asuh Anissa dari Adam..


Adam berjalan menghampiri Zara yang kembali duduk di sofa, "Za, ayo aku antarkan pulang sekalian hari ini juga aku akan kerja saja dirumah. Karena kupikir moodku kurang bagus bekerja di kantor hari ini".


Zara hanya mendongak sejenak, lalu ia mengambil kotak makan yang ia bawa tadi. Sedikit kecewa hati Zara, mengapa Adam tidak menceritakan kegundahan hatinya?, mengapa Adam tidak memberi taunya akan surat itu?, Mengapa Adam menyembunyikan masalah sebesar itu darinya?. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar dibenaknya, ia semakin merasa bahwa dirinya bukanlah siapapun untuk Adam. Satu hal lagi pertanyaan Zara yang paling mengganggunya, Apakah Adam mencintai dirinya atau ia masih mencintaimu Della?, pertanyaan yang sukses membuat hati Zara sangat tersayat, membuat hati dan pikiranmu goyah dan bimbang. 


Sepanjang perjalanan menuju rumah Adam, Zara hanya memandang nanar kearah kaca mengamati gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi. Namun pikirannya sudah bergelayut kemana-mana, ia ingin marah, kesal, kecewa, pada Adam. Tapi akal sehat Zara masih berfungsi ia berpikir Adam juga memikul beban yang lebih berat dalam pundaknya.


"Mas". Panggil Zara, membuat Adam mengangguk menoleh sebentar lalu fokus pada jalan raya lagi."Sampai kapan kamu mau menyimpannya sendirian?".


Adam menoleh sejenak,"Menyimpan apa Za?". Tanyanya balik dengan wajah yang tak mengerti.


"Kamu menganggap aku apa?". Mata Zara mulai buram karena air mata,"Kupikir kita bisa saling berbagi cerita, menceritakan segala beban berat yang ada dalam hati kita". Air mata Zara mengalir, lalu ia tepis dengan cepat sebelum Adam mengetahuinya.


"Apa maksud kamu Za, aku nggak mengerti".


"Ini tentang Anissa". Jawab Zara datar."Seharusnya kamu tidak menyembunyikan hal sebesar itu, apa kamu mengganggap aku orang asing?".


Adam hanya diam mendengar perkataan Zara, hingga ia menepikan mobilnya di sebuah pom bensin. Sedikit menarik nafas berat, Adam menata hatinya bersih untuk menceritakan semuanya pada Zara.


"Aku nggak mau kamu kepikiran Za". Menggenggam tangan Zara,"Maaf jika diamku membuatmu seperti orang asing. Aku hanya berpikir belum ada waktu yang tepat untuk memberi tau kamu yang terjadi sebenarnya".


Zara menatap nanar, apa yang dikatakan Adam memang ada benarnya. Air mata Zara jatuh tanpa permisi,"Seharusnya kamu bilang padaku, setidaknya kamu punya tempat untuk berkeluh kesah. Mungkin aku bisa membantu".


"Terima kasih sudah mengerti posisiku".


Adam tersenyum,mengulurkan tangan mengusap air mata Zara."Jangan menangis karena aku".


Zara semakin terisak,"Maaf membuatmu khawatir".

__ADS_1


__ADS_2