Bunda untuk El

Bunda untuk El
32. Bundanya El?


__ADS_3

"Mama kakak itu bundanya El ya?" tanya Daren pada mamanya Dinda dengan suara yang cukup besar sehingga bisa di dengar Damar Shadev Nazra dan juga Razeel


Dinda terdiam dia juga bingung harus mengatakan apa takut salah menjawab "Ren kenapa tanya begitu?" Bukannya menjawab Dinda memilih untuk bertanya kembali pada putranya


"Soalnya kata El kakak itu bundanya tapi El selalu manggil kakak Ren nggak pernah dengar El manggil kakak itu bunda" ucapan polos dari Daren berhasil membuat Razeel menunduk takut


Razeel takut setelah ini Nazra tidak mau lagi dekat dengan dirinya, Shadev juga merasa tidak enak pada Nazra jika putranya menganggap seperti itu dan membuat Nazra merasa tidak nyaman


Dinda dan Damar juga merasa tidak enak pada Nazra dan Shadev atas ucapan putra mereka "Daren nggak boleh seperti itu, nggak boleh kepo urusan orang lain" tegur Damar


"Maaf ya Dev Ra kalo ucapan putra kami buat kalian merasa nggak nyaman" ucap Damar


Shadev mengangguk Nazra hanya tersenyum tipis tidak tahu harus apa, dia masih tidak menyangka jika Razeel benar benar menganggapnya sebagai bunda meski ia hanya mendengar ucapan Daren, Walau Nazra sudah menduga tetap saja dia sedikit kaget


Nazra tersadar dari pikirannya saat mendengar suara Isak tangis dari Razeel yang kini sudah turun dari kursinya dan berdiri di hadapan Nazra "Kak A..ara hiks Maafin El hiks" Ucap Razeel tersedu sedu


Nazra langsung mengangkat Razeel ke pangkuannya "Kenapa minta maaf El kan nggak salah" ucap Nazra menghapus air mata Razeel dengan lembut, satu tangannya ia gunakan mengelus punggung Razeel agar merasa lebih tenang


"El takut kakak marah karena El bilang kakak bundanya El sama teman teman" Cicit Razeel


Nazra merasa tersnetil mendengarnya, sungguh dia merasa tidak masalah jika Razeel menganggap seperti itu, tidak ingin mengacaukan acara Nazra segera izin membawa Razeel ke taman pada Shadev, Nazra juga pamitan pada Damar dan Dinda


Nazra membawa El yang masih menangis di pelukannya ke sebuah kursi yang ada di taman "El masih mau nangis?" tanya Nazra


Razeel mengangguk dalam pelukan nazra "Ya udah nangis aja dulu kalau sudah berhenti nangis baru kakak ajak El bicara" ucap Nazra


Razeel melampiaskan semua kesediaannya dalam pelukan nazra sedangan Nazra hanya diam sambil mengelus punggung Razeel, bahkan Khimar yang Nazra kenakan sudah basah terkena air mata Razeel


Setelah merasa tenang Razeel mengangkat kepalanya "Sudah tenang?" tanya Nazra di balas Razeel dengan anggukan


"Kalau begitu kenapa nangis kakak kan nggak marahin El?" ucap Nazra dengan lembut


"El takut kakak marah dan nggak mau ketemu El lagi" ucap Razeel jujur "Teman teman pada pamer punya mama jadi El pamerin kak Ara sebagai bundanya El karena El gak punya mama" ucap Razeel


Nazra yang mendengar ucapan Razeel merasa sedih, Nazra menatap sendu Razeel setetes air matanya turun membasahi pipinya. dia jadi mengingat dirinya saat masih kecil dalam diri Razeel "Kakak nggak akan marah El, kakak ngerti gimana rasanya, El boleh kok bilang sama teman teman kalau kak Ara bundanya El, kakak gak mau El ngerasain apa yang kakak Ara rasain dulu" ucap Nazra kembali menarik Razeel ke dalam pelukannya


Dari kejauhan Shadev menatap Razeel dan Nazra, sejak tadi Shadev memang sudah berdiri di sana karena khawatir dengan putranya dan juga Nazra. dia sengaja berdiri dengan jarak yang jauh agar tidak mengganggu Razeel dan Nazra

__ADS_1


Shadev tidak mendengar percakapan Nazra dan juga Razeel namun melihat interaksi keduanya Shadev merasa lebih tenang


.........


Setelah acara di sekolahnya tadi Razeel jadi lebih pendiam meski Nazra tidak marah padanya, Shadev dan keluarganya tentu merasa bingung jika di tanya Razeel hanya akan menggeleng dan mengangguk saja


"El kenapa diam aja?" Tanya Amira untuk yang kesekian kalinya namun El kembali menggelengkan kepalanya


"Dev cucu mama kenapa jadi pendiam begini?" tanya Amira pada putranya karena sejak tadi hingga selesai makan malam Amira belum mendengar suara cucunya


"Dev juga nggak tau ma, tadi El baik baik aja" ucap Shadev karena memang putranya sempat berbicara padanya namun saat di perjalanan mengantar Nazra pulang Razeel tertidur dan baru bangun saat tiba di kediaman Bagaskara


"El kenapa sini cerita sama Oma" ucap Amira "Ayah nakal ya sama El?" tanya Amira di balas Razeel dengan gelengan kepala


"El ngomong sama om Afi dong, om mau dengar suara El" ucap dhafi


"El kalau ada apa apa cerita sama om sama ayah Oma opa atau om Afi juga bisa jangan diam begini om jadi nggak tau apa yang El rasakan" ucap Rafa


"Cucu opa kenapa diam aja, ada yang nakal di sekolah?" tanya Farhat dan Razeel kembali menggelengkan kepalanya


Shadev menarik Razeel ke atas pangkuannya "El ngomong sama ayah kalau ada yang menggangu perasaan El, atau El mau sesuatu bilang sama ayah" ucap Shadev


"El cari bunda itu nggak mudah, kenapa El mau punya bunda ayah yang selalu sayang sama El ada Oma opa om Rafa dan om dhafi yang sayang sama El juga" ucap Shadev


Razeel turun dari pangkuan ayahnya "El mau punya bunda yah El capek di ejek teman teman karena nggak punya bunda El pengen punya bunda yang selalu nemenin El kalau El main dan belajar, El mau punya bunda yang selalu masakin dan buatin El bekal" ucap Razeel lalu berlari ke lantai dua


"El jangan lari nak" ucap Amira panik melihat cucu satu-satunya yang menaiki tangga dengan cara berlari


Shadev mengusap rambutnya dan beranjak dari duduknya untuk menyusul putranya "Biar mama yang susul kamu tenangin diri dulu" ucap Amira lalu berjalan menuju lantai dua meninggalkan empat laki laki kesayangannya di ruang keluarga


"Dev sepertinya sudah waktunya untuk kamu cari pasangan, El masih kecil sudah pasti dia akan menginginkan kasih sayang seorang ibu" ucap Farhat mencoba menasehati putranya


Shadev membenarkan ucapan papanya dalam hati namun dia masih tidak yakin untuk menikah lagi "Dev ayah rasa kasih sayang yang diberikan Nazra pada Razeel membuat Razeel bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, dan ayah yakin Razeel juga akan meminta Nazra yang menjadi bundanya" ucap Farhat


Rafa yang mendengar ucapan ayahnya merasa tidak nyaman di hatinya, karena tidak ingin membuat suasana semakin buruk rafa memiliki meninggalkan ruang keluarga


.........

__ADS_1


Amira masuk ke kamar cucunya setelah menutup pintu kamar Razeel Amira berjalan mendekati Razeel yang duduk di meja belajarnya "El lagi ngapain sayang?" tanya Amira


"menggambar Oma" ucap Razeel dengan tangan yang sibuk mencoret coret buku gambar di hadapannya


Amira mengusap kepala cucunya "El mau cerita sama Oma?" tanya Amira dengan lembut


Razeel mengangguk, Amira mengukir senyumnya melihat respon dari cucunya "Sini duduk sama Oma" ucap Amira menepuk sisi tempat tidur disebelahnya


Razeel berdiri lalu mendekati omanya dan duduk di samping omanya "Teman teman El nakal ya sama El?" tanya Amira langsung di jawab Razeel dengan anggukan kepala


"Dulu mereka ejek El gak punya bunda, waktu El di antar kak Ara mereka udah nggak ejek El lagi tapi mereka udah tau kak Ara bukan bunda El karena El manggil kak Ara kakak, mereka jadi kembali ngejek El Oma" ucap Razeel dengan mata berkaca kaca


Amira yang melihat cucunya menahan tangis langsung membawa Razeel ke dalam pelukannya "Maaf ya El Oma sama ayah nggak pernah tahu kalau El di ejekin teman teman di sekolah" ucap Amira merasa bersalah


Razeel mengangguk "Oma El mau punya bunda juga seperti teman teman El, El mau kak Ara jadi Bundanya El Oma" ucap Razeel dalam pelukan omanya bahkan kini Razeel sudah menangis


Amira tidak menjawab dia justru mengelus punggung cucunya membiarkan Razeel mengeluarkan segala keluh kesahnya


"Oma El mau kak Ara jadi bundanya El" ucap Razeel lirih sebelum jatuh terlelap dalam pelukan omanya


Karena memnag Razeel sudah merasa lelah karena acara di sekolahnya di tambah Razeel tidak ada tidur siang jadi wajar jika saat ini Razeel mengantuk


Amira memperbaiki tidur Razeel setelah membersihkan wajah cucunya Amira menarik selimut hingga menutupi tubuh Razeel sebatas dadanya, sebelum pergi Amira mengecup kening cucunya "Tidur yang nyenyak cucu Oma, maafin Oma yang buat kamu seperti ini" ucap Amira


Meski sebenarnya masalah yang menimpa Razeel bukan salahnya tetap saja Amira merasa bersalah karena dulu sempat menjodohkan putranya dengan gadis yang salah


Setelah mengganti lampu utama dengan lampu tidur Amira keluar dari kamar Razeel "El sudah tidur ma?" Tanya Shadev yang ternyata menunggu di depan kamar Razeel sejak tadi


Amira mengangguk "Dev sepertinya sudah waktunya kamu cari ibu untuk Razeel, kali ini mama tidak akan memaksa kamu menikah dengan pilihan mama, mama hanya tidak tega melihat Razeel yang ternyata selama ini menginginkan sosok ibu dalam hidupnya" ucap Amira


Shadev mengerti namun dia merasa tidak siap menikah lagi, bukan karena masalah finansial melainkan masalah gadis yang ingin ia nikahi "Dev akan mencoba menuruti keinginan Razeel ma" ucap Shadev


Amira mengukir senyumnya "Mama tunggu kamu membawa gadis pilihan kamu untuk menjadi istri dan bunda El" ucap Amira lalu menepuk bahu putranya sebelum berjalan menjauhi kamar Razeel


Sedangkan Shadev masuk ke kamar putranya untuk melihat putranya. Shadev berjalan mendekati tempat tidur ia menatap wajah Razeel yang tampak sembab karena menangis sebelum tidur


Shadev mencium kening dan pipi Razeel "Ayah sayang El mimpi indah ya" ucap Shadev lalu berjalan keluar dari kamar putranya

__ADS_1


...****************...


__ADS_2