
Jangan lupa tinggalkan jejak
Enjoykeun😘
Sori for typo
***
Kedua mata Cahaya menatap sosok lelaki yang sedang mengenakan sarung bermotif kotak-kotak dan kaos putih yang membungkus tubuh subur lelaki itu. Bibir Cahaya tersungging, melihat sang suami yang tengah menjemur pakaian.
Semenjak Bi Ijah berhenti bekerja, Langit tak segan segan membantu Cahaya mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti membuka jendela, menyapu rumah, menyapu halaman, atau menjemur pakaian.
Bagi Langit membantu sang istri juga salah satu kewajibannya sebagai suami. Bukan hanya mencari nafkah saja. Membantu meringankan pekerjaan itu adalah salah satu kewajiban baginya. Karena Cahaya adalah istrinya, bukan pembantunya.
"Dek? Kok melamun di depan pintu?" tegur Langit sambil memegang ember berwarna hitam.
Cahaya hanya tersenyum melihat sang suami. "Makasih yah Mas. Mas mau bantui pekerjaan Aya," ucapnya dengan perasaan terharu.
Langit mengusap pipi Cahaya dengan lembut. "Sama-sama sayang,"
"Aya jadi merasa terbantu banget. Mas mau bantui pekerjaan adek. Tapi..."
"Hmm, tapi apa sayang? Merasa gak enak?" tebak Langit, Cahaya hanya menggembungkan kedua pipinya sambil menganggukkan kepalanya.
Langit meletakkan ember kosong berwarna hitam itu. Ia lalu menangkup kedua pipi sang istri. "Kamu ini jangan merasa gak enak begitu. Mas ini suami kamu lho. Wajarlah seorang suami membantu tugas istrinya. Kecuali suami tetangga yang bantui kamu. Baru gak enak,"
Cahaya buru-buru mencubit perut Langit yang penuh lemak itu. "Ih, mas ini. Kok jadi bawa-bawa suami tetangga!" protes Cahaya sebal.
Langit hanya terkekeh. "Habis adek sih! Merasa gak enakkan gitu," Langit memberi alasan.
"Iyahlah gak enak. Kan Mas juga capek kerja, ini malah bantui Aya lagi,"
"Maskan kuat. Gak kenal capek. Apalagi kalo olahraga ran-"
"Ssstttt!!" Cahaya langsung meletakkan jari telunjukknya dibibir Langit. "Iya tahu deh. Mas kuat. Karena Mas laki-laki."
Langit hanya melebarkan senyumannya. Tanpa sadar, tiba-tiba ia menggigit gemas jari telunjuk yang istri yang menempel di bibirnya. Tak ayal membuat Cahaya memekik kesakitan. Wanita yang tengah memakai daster berwarna kuning bermotif bunga-bunga, menjerit sambil memukul bahu Langit.
"Mas, isss sakit!!! Lepasss!!" pinta Cahaya sambil terus memukul bahu yang suami. Langit langsung melepaskan jari telunjuk sang istri. Lalki-laki itu langsung meringis, saat melihat istrinya mengibas-ngibaskan tangannya.
"Dek," panggilnya pada Cahaya dengan nada rendah. Cahaya menatap tajam Langit. "Maaf yah. Khilaf. Abis kamu itu gemesi banget! Gumush gumush gumush!" kata Langit dengan nada sok imut dan kedua mata dikedip kedipkan.
Cahaya hanya memutar kedua manik matanya. "Khilaf kok keseringan Mas, Mas..." cibir Cahaya dengan raut heran.
"Kalo khilaf sama istri sendiri yah kan ga dosa sih," balas Langit membela dirinya.
Cahaya hanya berdecak. "Dah yuk Mas. Kita sarapan dulu!" ajak Cahaya.
"Oke, ayok! Mari sarapan. Biar tambah kuat!" kata Langit yang langsung merangkul tubuh Cahaya dengan erat. "Sarapan apa kita hari ini?"
__ADS_1
"Biasa, nasi goreng sama telur ceplok. Gak bosan kan Mas?" tanya Cahaya dengan sedikit ragu.
"Gak kok. Mas gak akan bosan. Asal jangan lupa cuci mulutnya!" jawab Langit dengan mengedipkan satu matanya. Yang diacungi dua jempol sama Cahaya. Yang membuat Langit tertawa melihat respon sang istri. Apalagi melihat wajah Cahaya yang menurutnya semakin hari semakin menggemaskan saja.
***
"Mas, adek nanti mau ke rumah sakit," beritahu Cahaya saat memakaikan dasi Langit.
"Ngapain sayang? Kamu sakit?"
"Gak ih. Mau cek aja. Kenapa Aya belum hamil. Mungkin ada yang salah sama Aya," beritahunya dengan nada sedih.
"Gak ada yang salah sama adek!" dengan nada tegas Langit berkata. Membuat Cahaya sedikit terkejut
"Tapi adek penasaran. Adek harus cek diri adek. Kalo semisalnya ada yang salah. Biar adek perbaiki. Jadi biar kita bisa punya anak," sambil mengelus perut ratanya ia mencoba menjelaskan kepada Langit.
Langit hanya mengembuskna napasnya. "Mas gak mau kita punya anak?" tanya Cahaya tiba-tiba yang membuat Langit kaget dengan pertanyaannya yang dilontarkan istrinya
"Mas maukan kita punya anak?"
"Maulah sayang,"
"Sama! Adek juga mau! Mau banget punya anak! Anak melengkapi keluarga kecil kita. Anak membuat rumah kita ramai. Dengan tawanya, tangisnya, langkah kaki kecilnya. Ahh, adek pengen sekali punya anak Mas. Makanya adek mau cek diri adek dan konsultasi bagaimana bisa cepat hamil. Biar keluarga kita lengkap. Biar rumah kita ramai. Biar aku dipanggil Mama kamu dipanggil Papa," Cahaya mengungkapkan isi hatinya dengan menggebu gebu. Rasanya Langit ingin menangis mendengarkan perkataan istrinya, yang ingin sekali memiliki buah hati.
Langit mengatur napasnya, mencoba mengontrol emosinya. "Jam berapa mau ke rumah sakit? Biar Mas temeni,"
"Sekitar jam satu," beritahu Cahaya.
***
Cuaca hari ini sungguh bersahabat. Cerah, tapi tidak bikin gerah. Langit yang sudah membuat janji akan menemani sang istri ke rumah sakit, langsung tancap gas meninggalkan kantornya.
Jalan raya pun tidak terlalu ramai. Membuat Langit dengan sedikit laju membawa mobilnya. Namun, kecepatan laju mobil Langit melambat. Seketika dari arah berlawan ia melihat seorang wanita menendang ban mobilnya. Bisa Langit tebak pasti mobilnya mogok. Awalnya, Langit tak perduli, akan tetapi saat wanita itu berbalik badan ke arah jalan raya. Tentu saja Langit langsung peduli. Tanpa banyak berpikir, ia memutar setirnya. Dan menghampiri wanita itu.
"Kenapa mobilnya mbak?" tegur Langit pada wanita itu. Wanita itu langsung menoleh. Ia kaget bukan kepalang melihat siapa yang menegurnya. Sedangkan Langit hanya tersenyum ala devil dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Terdengar helaan napas wanita itu di antara suara-suara kendaraan yang melintas dijalan raya.
•••
Monalisa rasanya ingin cepat-cepat sampai ke rumahya. Ia mendapat telepon dari pengasuh anaknya, jika anakknya telah ditabrak motor. Dan saat ditelpon pengasuhnya, ia mendengar suara tangis anaknya yang meraung raung memanggil manggil dirinya. Tadi dirinya tengah rapat, membahas cafe yang akan ia olah. Namuan, ia segera pulang setelah mendapatkan kabar dari pengasuhnya. Dirinya rela meninggalkan apapun demi anaknya. Rasanya ia ingin segera memeluk anak semata wayangnya yang tengah menahan sakit.
Namun, sialnya bagi wanita itu. Mobilnya tiba-tiba mogok. Monalisa menggeram kesal, ia memukul kesal stir mobilnya.
"Kenapa mogok disaat begini sih!" Monalisa sungguh emosi dengan mobilnya yang mogok. Ia tak tahu harus berbuat apa dengan mobilnya itu. Karena ia tidak tahu apa-apa tentang otomotif.
Monalisa keluar dari mobilnya. Ia meniup poninya yang selalu menghias dahinya, dengan kasar. "Duh, gimana ini?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia berdecak kesal. Bingung mau berbuat apa. Dan alhasil ia menendang ban mobil. Ia semakin kaget melihat asap keluar dari mobilnya.
"Arrghh kesal kesal kesal!" pekik Monalisa putus asa.
Namun angin segar langsung menghampirinya, saat seseorang bertanya "Kenapa mobilnya mbak,"
__ADS_1
Monalisa merasa bahagia, ada seseorang yang bertanya kepadanya.
Namun saat ia melihat siapa yang bertanya kepadanya, rasa terkejut tak bisa ia hindari, melihat sosok itu. Dan kehadiran Langit membuat Monalisa semakin kesal saja. Ia mengembuskan napasnya, untuk mengurangi rasa kekesalan dihatinya.
Kenapa sih orang yang aku hindari, tapi selalu aku jumpai. Aaarrgghh!! Jerit Monalisa dari dalam hati.
"Kenapa mobilmu Mo?" tanya Langit sok akrab. Monalisa tak menanggapi pertanyaan Langit. Ia bahkan tak menganggap Langit ada.
"Mogok? Overheat tuh keknya?" kata Langit sambil melirik kap mobil Monalisa. Monalisa masih diam tak menanggapi perkataan Langit. Namun matanya sekilas melirik kap mobilnya. Monalisa mencoba mengabaikan lelaki yang mencoba membantunya.
Namun, pertahannya runtuh saat sang pengasuh menelpon lagi, dan memberi tahu jika anaknya terus menangis memanggil dirinya.
"Oh Tuhan," desisnya pasrah. Ia melirik Langit yang masih berdiri di sampingnya. "Kamu... kamu yakin bisa memperbaiki mobilku?" tanyanya menyerah.
"Bisa!" jawab Langit singkat dan bersemangat.
Lagi lagi Monalisa mengembuskan napasnya. "Oke. Tolong perbaiki," pintanya dengan nada rendah, tapi dengan kepala menunduk. Jujur ia tak sanggup melihat mata Langit.
"Eh, tapi ada syaratnya?" mendengar hal itu, kepala Monalisa langsung terangkat. Dan mau tak mau, harus membuat ia melihat wajah tampan Langit.
"Syarat?" beo Monalisa tak mengerti.
Langit menganggukkan kepalanya. "Iya ada syaratnya. Aku bantu kamu. Kenapa kamu selalu menghindar dari aku? Salah aku apa coba?" jantung Monalisa langsung tertohok mendengar pertanyaan Langit. Kamu gak salah Lang. Aku yang salah. Aku hanya malu. Perkataan itu hanya ia ucap dalam hati. Tak bisa ia ungkapan. Wanita itu hanya diam mematung.
"Trus, kamu itu juga harus cerita tentang kamu yang sudah.... hmm sudah berubah Mo. Mana Momo yang aku kenal dulu. Gak ada. Kamu kenapa Mo? Cerita sama aku," pinta Langit kepada Monalisa.
"Kamu cuma penasaran aja kan?" selidik Monalisa.
"Ya ampun Mo, jelek kali pikiranmu. Aku peduli samamu. Aku gak suka kamu jadi begini!"
Monalisa menggelengkan kepalanya. Ia tak mau menceritakan masa lalu yang kelam. Sama saja mengorek luka yang sudah kering. Namun, ia mendapat pesan beruntun dari pengasuhnya, agar segera menyuruh ia segera pulang. Anaknya membututhkan dirinya.
"Mo, gimana?" tanya Langit yang terus melirik mobil Monalisa.
Monalisa hanya bisa menghela napasnya dengan berat. Dari sekian manusia yang berada di jalan raya, kenapa Langit yang turun tangan membantunya.
Monalisa menendang ban mobilnya. Mengekpresikan kekesalan yang amat dalam dihatinya. Apalagi melihat wajah Langit yang memasang senyum licik di wajahnya.
"Udahlah gak usa banyak mikir. Terima aja tawaranku!" kata Langit yang sudah menggulung lengan bajunya.
Monalisa membuang napasnya dengan kasar.
"Cafe Antartika jam 7." putus Langit, Monalisa langsung mengangguk, tanda setuju. Langit langsung tersenyum penuh kemenangan. Dirinya memekik girang dari dalam hati. Akhirnya ia akan tahu penyebab sahabatnya itu berubah.
•••
Di sisi lain ada seorang istri yang sedari tadi menunggu kedatangan suaminya. Sudah berpuluh kali ia menelpon sang suami, tapi satupun teleponnya tidak diangkat. Cahaya mencoba bersabar dan berpikir positif. Ia mengirimi pesan Langit. Bertanya lagi dimana? Jadi nemani dia cek up? Namun dari beberapa pesan itu juga tak dibalas Langit.
Cahaya menghela napasnya. "Ini Mas Langit dimana sih? Kok belum muncul-muncul?" Cahaya mulai resah. Suami yang ia tunggu-tunggu, tak kunjung muncul.
__ADS_1
TBC