Cahaya Langit

Cahaya Langit
Bab 10


__ADS_3

***


"


Mas Langit mana sih?" lirihnya sedih. Suami yang ia tunggu tak kunjung datang. Cahaya menatap layar ponselnya. Berharap Langit mengangkat panggilannya. Namun, sayangnya harapan itu berbuah kecewa. Karena, Langit tak kunjung menjawab panggilan darinya. Cahaya hanya bisa mendesah resah.


"Mana sih Mas Langit ini?" gumamnya sambil melirik jam tangannya.


Dinn... din...


Senyum langsung merekah diwajah Cahaya mendengar suara klakson mobil. Namun, senyumnya langsung lenyap saat melihat bukan mobil Langit yang datang. Melainkan mobil Dara.


Seorang gadis manis dengan khimar berwarna dongker turun dari mobil, dengan menenteng sebuah kotak persegi panjang.


"Assalamualaikum Cahaya," dengan suara lembut ia memberi salam.


"Waalaikumsalam mbak," Cahaya membalas salam dan langsung menyalami Dara.


"Ini Ay, donat pesanan kamu. Sori telat yah. Soalnya, kang kurir Mama lagi pulang kampung. Istrinya melahirkan," beritahu Dara kepada Cahaya sambil menyerahkan kontak berisi donat.


"Makasih yah mbak," ucapnya seraya menerima kotak tersebut. "Gak apa-apa mbak. Kalo gak begitu kita gak jumpa, hehehe,"


"Hehehe iya yah Ay, padahal satu kota. Tapi jarang jumpa ya Ay," timpal Dara yang diakhiri tawa kecil.


"Iya nih mbak. Oh yah ini berapa donatnya mbak?"


"Apaan sih Ay, gak usah lho,"


Dahi Cahaya mengkerut. "Lho kok gitu. Ayakan beli donat. Masa gak dibayar sih?"


Dara tersenyum manis. "Uda gak apa-apa Ay. Kayak sama siapa aja. Uda itu ntuk kamu aja donatnya,"


"Alhamdulillah. Makasih yah mbak," ucap Cahaya dengan mata berbinar.


"Eh, Aya mau kemana?" Dara baru sadar dengan penampilan Cahaya yang rapi.


"Anu mbak mau ke rumah sakit,"


Alis Dara langsung bertaut. "Ngapain?"


"Periksa kandungan mbak," jawab Cahayalemah.


"Kamu hamil?" kedua mata Dara langsung tertuju ke arah perut Cahaya.


"Eh gak mbak. Cuma mau periksa aja. Kenapa Aya belum hamil. Apa ada yang salah gitu sama diri Aya. Kalau gak ada apa-apa, yah Aya mau konsul gimana biar cepat hamil. Apa ada cara-cara biar cepat hamil gitu. Aya pengen nimang bayi mbak," Cahaya menjelaskan kepada Dara.


Dara mangut-mangut. "Trus, kenapa masih di sini?"


Terdengar helaan napas dari Cahaya. "Aya nungguin Mas Langit. Dia janji mau nemeni. Tapi, ini gak datang-datang orangnya," cerita Cahaya dengan mimik kesal. "Aya uda nunggu dari tadi," imbuhnya lagi.


"Uda dihubungi?"


Kepala Cahaya mengangguk. "Uda mbak, tapi gak diangkat panggilannya,"


"Aku antar yuk!" tawar Dara.


"Heh? Antar?"


"Iyah. Yuk!"


Cahaya terdiam tak langsung mengiyakan ajakan Dara.


"Kenapa Ay?"


"Aya... Gak enak mbak. Nanti merepotkan mbak lagi?"


Dara hanya tertawa. "Gak Ay. Gak repot kok. Ayok aku antar kamu,"


"Di rumah sakit-"


"Ibrahim kerja?" potong Dara cepat. Kepala Cahaya mengangguk lemah. "Aelah, no prob itu. Udah yuk aku anteri kamu! Uda ga usa sungkan!"


Dara masih menangkap keraguan dimata Cahaya. "Uda ayuklah Ay. Aku juga senggang. Pintu rumah uda dikuncikan?"


"Uda mbak,"


"Yuk!" Dara langsung menarik tangan Cahaya. Cahaya mau tak mau menuruti Dara.


"Tunggu ya Ay," beritahu Dara sesampai di depan pintu mobil. Dara membuka pintu mobilnya. Sehingga menampakkan sosok lelaki muda dengan sorotan mata tajam.


"Pindah lu ke belakang!" titah Dara pada lelaki itu.


"Harus?"


"Iya!"


"Napa?"


"Ada yang mau numpang! Cepatan!" perintah Dara dengan galak.


"Gak mau! Diakan yang numpang. Kenapa gue yang ke belakang. Dia tuh yang di belakang. Bukan gue!" lelaki itu tak menuruti perintah Dara.


"Uda deh mbak. Aya duduk di belakang aja,"


"Gak Ay, bocah ini harus nurut!" kata Dara. "Abi! Lu gak nurut sama tante! Inget, lu dikirim tanpa uang seperpun ke mari. Oma sama opa, gak boleh ngasih lu duit!"


"Tanteeee!" ucapnya dengan penuh nada penekan.


Tante? Abi? Hubungan mbak Dari ini apa sih? Pertanyaan itu muncul dibenak Cahaya.

__ADS_1


"Apa? Mau ngelawan sama tante?"


"Gak! Ya uda Abi ke belakang!" putusnya dengan enggan. Lelaki yang diketahui bernama Abi itu langsung turun dari mobil. Abi langsung membuka pintu belakang mobil, sebelum lelaki masuk ke dalam mobil, ia melemparkan pandangan tak suka pada Cahaya. Membuat Cahaya menjadi tak enak.


"Naik Ay!" suruh Dara setelah mengibas ngibas bangku yang diduduki Abi tadi.


"I... iya mbak." Cahaya langsung masuk dan duduk manis dengan hati perasaan yang tidak enak. Ada rasa sungkan dihatinya.


"Abi, mulut lo itu. Jangan merengut!" tegur Dara saat ia sudah masuk di dalam mobil.


"Fokus aja liat jalan tan, jangan liati muka gue!" jawabnya dengan dingin.


Dara hanya menggelengkan kepalanya. "Ya uda kita berangkat yah," beritahu Dara, yang diangguki Cahaya.


"Bismillah," ucap lalu Dara  menjalankan mobilnya. Dan meluncur ke jalan dengan kecepatan sedang.


Cahaya pun tak lupa mengabari Langit jika, ia pergi bersama Dara.


"Oh yah mbak, Abi ini siapa mbak?" Cahaya membuka percakapan. Cahaya begitu penasaran dengan hubungan keduanya.


"Ouh. Dia itu keponakan aku Ay,"


"Keponakan?" Cahaya tak percaya, ia diam-diam mencuri pandangan ke belakang melihat ke belakang.


"Iya,"


"Kok bisa?"


"Bisalah Ay. Dia anak Mas aku. Mas aku nikah muda. Punya anak. Dan inilah anaknya. Umurnya baru 21 taun,"


"Ouh gitu,"


"Kenapa Ay? Kok masih gak yakin gitu?"


"Soalnya mbak masih muda banget. Kaget dong Aya tiba-tiba dipanggil tante," beritahu Cahaya.


Dara tertawa terbahak bahak. "Ay, aku uda tua. Uda 34 taun lho. Sebaya sama Anugrah,"


"Tapi mbak awet muda," puji Cahaya.


"Cewek jomlo emang kelihatan lebih muda lho Ay," kelekar Dara.


"Jadi, dia ngapain ke sini mbak?"


"Kepo," desis Abi tak suka dari belakang.


"Abi ini ngabisi uang orangtuanya. Mumpung libur kuliah, Abi dikirim dari Jakarta kemari. Disuruh kerja di toko donat Mama. Dia suruh cari uang sendiri. Kebetulan, kang kurir kami pulang kampung. Jadi dia disuruh jadi kang kurir. Dan mbak lagi ajak dia keliling biar tahu jalan," Dara memberitahukan Cahaya.


"Gak boleh lho menghambur hamburkan uang. Itu kawannya setan," komentar Cahaya spontan. Detik selanjutnya Cahaya tersadar. Ia langsung menutup mulutnya.


"Bangga dong setan. Berkawan sama orang ganteng kek gue!" respon Abi dengan  ketusnya.


***


"Tan, kita pulang yuk!" ajak Abi. Sudah kedua puluh kali Abi meminta Dara untuk pulang. Namun, Dara tidak mengindahkan permintaan Abi, yang terus merengek minta pulang.


"Tan, pulang kuy. Gue males banget di sini tan!" lagi lagi Abi merengek minta pulang sambil menarik narik ujung jilbab Dara.


"Aduh Abi! Bisa diem gak sih!"


"Ngapain kita nunggui tante itu periksa?" tanyanya dongkol. "Tann,"


"Lu maen hape gih. Biar gak rewel Bi," Dara mulai emosi melihat keponakannya itu.


"Ga ada kuota, gak ada duit buat belinya," ucapnya dengan pelan.


"Dara," tegur Ibrahim dengan ramah.


"Baim," Dara langsung berdiri berhadapan dengan Ibrahim.


Ibrahim menoleh ke arah Abi. "Brondong?" tebaknya dengan satu alis diangkat ke atas.


Dara menoleh ke arah Abi. "Brondong? Maksudnya?" Dara tak paham.


"Iya. Calonmu brondong? Lebih muda dari kamu," jelas Ibrahim dengan santai.


Dara terkesiap mendengar perkataan dokter itu. "Kagaklah. Ini Abi. Keponakanku. Kamu inget kan?"


"Ouh Abi toh! Uda gede kamu yah!" Ibrahim hendak mengacak rambut Abi, tapi Abi langsung menangkis tangan Ibrahim dengan kasar. Ia pun langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Dara.


"Ngapain tegur-tegur tante gue heh?"


"Hah? Kenapa gak boleh?" Ibrahim bingung dengan sikap Abi.


"Iyahlah. Lelaki pengecut kek lo masih punya muka yah deketi tante gue!" cibir Abi.


"Abi apaan sih lo!" tegur Dara dari balik tubuh Abi yang tinggi.


"Uda tante diam saja di dibalik tubuh Abi. Ngapain tante ramah sama orang yang uda buat malu keluarga kita!" sindir Abi pada Ibrahim. Ibrahim hanya tersenyum kecut mendengar kata-kata Abi.


"Dasar laki-laki pengecut! Bukannya mempertahankan pernikahannya! Malah memilih melepaskan! Penakut!" ejek Abi lagi dengan sorot mata penuh kebencian.


"Abi!" Dara menggeser tubuh Abi.


"Gak sopan lo yah!"


"Ngapain sopan sama orang model beginian!" Abi membela dirinya.


Dara menghela napasnya. "Bi, dahlah. Itu masa lalu. Jangan menyimpan dendam dihati kita Bi. Biar hidup kita tenang. Tante uda maafi Baim. Dan menerima keputusan Baim," beritahu Dara pada Abi.

__ADS_1


"Apa tante gak punya rasa sama dia? Kok bisa legowo gitu ditinggal dia?"


Dara tercenung mendengar pertanyaan Abi.


"Kamu gak akan paham apa yang aku rasakan. Pilihan kusangat sulit. Antara berbakti sama kedua orang tua atau memilih cinta! Maaf banget, aku juga menyesal telah membuat keluarga kamu malu! Aku gak akan ganggu tante mu lagi. Assalamualaikum." Ibrahim langsung pergi meninggalkan Dara dan Abi.


"Benerkan tan, tante gak suka sama dia?" tebak Abi.


"Suka sama siapa?" sambar Cahaya yang baru keluar dari ruang pemeriksaan.


"Gak ada!" jawab Abi pendek. "Uda selesai periksanya?" Cahaya menganggukkan kepalanya. "Yuk, pulang!" ajak Abi dengan menyeret tangan tantenya yang masih tercenung. Cahaya mengikuti kedua dari belakang


**


"Yuk Ay, masuk. Kami antar ke rumah!"


"Eh ndak usa mbak. Mas Langit katanya mau jemput kok!"


"Ouh, ya udah kami temeni kamu sampai Langit datang," kata Dara santai.


"Tapi tan, aku mau pulang!" protes Abi.


Dara mencubit perut Abi dengan geram. "Abi. Gak mungkin kita ninggali Aya sendirian!"


"Gak apa-apa lho, Aya nunggu sendirian aja," lagi lagi Cahaya merasa tak enak dengan kebaikan Dara.


"Apaan sih Ay, gak apa-apa kok! Gak usa gak enakan gitu,"


"Nunggunya di mobil aja ngapa tan! Berdiri di sini kayak sales mobil aja!" usul Abi dengan wajah yang datar.


"Iya juga. Yuk Ay, kita tunggu di mobil aja," Dara menyetujui usulan keponakannya.


"Bi, kayaknya kita gak jadi pergi ke nonton entar malam deh!" beritahu Dara kepada keponakannya itu, setelah mereka sudah berada di dalam mobil.


"Apa! Gak jadi!? Kok gak jadi tan?" Abi sangat terkejut plus kecewa mendengar ucapan sang tante.


Dara memutar kepalanya ke arah Abi. "Iya sori yah bi. Opa tadi kirim pesan. Ngajaki tante ke pertemuan penting ntar malam. Tante harus nuruti Opa, maaf yah bi," Dara merasa bersalah.


"Capek capek aku tadi tante suruh ngantri. Eh gak jadi!" omel Abi.


"Ya bagaimana. Kita bisa kapan-kapan nontonnya, pertemuan ini gak bisa kapan-kapan," Dara harap Abo mau memakluminya. Namun, melihat wajah Abi, sepertinya lelaki itu tak memakluminya.


"Atau lo nonton sendiri yah nanti malam?" Dara memberi solusi.


"Gak mau!" tolak Abi.


"Hmm ya udah deh kalo gak mau," kata Dara pasrah. "Ng... Ay, ini tiket film yang lagi booming. Untuk kamu sama Langit aja. Biar gak mubazir," Dara mengeluarkan tiket film dari tasnya. Dan memberikan kepada Cahaya.


"Beneran untuk Aya mbak?" Cahaya mencoba memastikan.


"Iya. Untukmu,"


"Gratis?" tanya Abi.


"Iyalah," jawab Dara.


"Enak aja! Bayar! Aku yang ngantri, tante ini yang nonton!" Abi tak terima. Ia mengulurkan tangannya ke arah Cahaya. Mata Dara mendelik ke arah Abi. Tak habis pikir dengan tingkah keponakannya.


"Gak usa dibayar Ay," kata Dara melarang Cahaya.


Cahaya tersenyum manis. "Gak apa-apa lho mbak.Berapa Abi harga tiketnya?" dengan lembut Cahaya bertanya.


" 100 ribu!" Cahaya memberi Abi uang seratus ribu kepada Abi.


"Makasih yah Abi," ucap Cahaya. Abi hanya diam tak menjawab ucapan terimakasih Cahaya.


Tok tok tok


Terdengar dari dalam seseorang mengetuk jendela kaca mobil. Cahaya segera menoleh, ia tersenyum melihay siapa yang mengetuk kaca mobil. Cahaya langsung turun dari mobil. Melihat Cahaya yang turun dari mobil, Abi langsung pindah ke depan. Tempat Cahaya duduki tadi. Ia pun menurunkan kaca mobil, ingin melihat siapa suami dari Cahaya.


Begitu Cahaya turun bersama donatnya dari mobil Langit langsung memeluk dan mencium dahi Cahaya. Tanda penyesalan karena telah mengingkari janjinya. Abi tersenyum sinis melihat tingkah suami Cahaya.


"Maaf yah Ay, aku gak jadi nemeni kamu,"  Langit sungguh menyesal.


Cahaya hanya menggeleng. "Gak apa-apa. Mas bilang tadikan bantui orang yang mobilnya mogok," Cahaya mencoba mengerti dengan kondisi Langit. "Alhamdulillah ada mbak Dara," tambahnya.


Langit membungkukkan badan. "Makasih yah mbak uda mau nganter Cahaya ke rumah sakit,"


Dara mengangguk. "Iya sama-sama Lang,"


"Lelaki sejati, lelaki yang menepati janji! Kabari kalau gak bisa nemani. Bawa ponsel kemana mana!" komentar Abi tiba-tiba. Membuat Langit tersadar dengan kehadiran Abi.


"Siapa mbak?" tanya Langit. "Kok kayaknya mulutnya perlu dirukiyah?" imbuhnya lagi agak kesal setelah mendengar komentar Abi.


"Abi, ponakanku,"


Langit menganggukkan kepalanya. "Ouh, si Abi toh. Pantaslah! Sadis kalo bicara! Ngg... ya udah. Sekali lagi makasi yah mbak. Kami pamit pulang dulu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." Dara dan Abi menjawab salam Langit bersamaan.


"Tante Cahayaaa!" tiba tiba Abi menjerit. Cahaya menoleh dan mengangkat dagunya.


"Jangan percaya begitu saja, dan jangan gak percaya begitu saja!" ucap Abi dengan lantang pada Cahaya.


Cahaya menggelengkan kepalanya, tak mengerti maksud lelaki muda itu. Namun, ia menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum.



TBC

__ADS_1


__ADS_2