Cahaya Langit

Cahaya Langit
Bab 8


__ADS_3

Jangan lupa tap tap komentar dan bintangnya.


Biar semakin semangat wkkkwk


Sori for typo


Enjoyken


😘


"Kalo uda besar, aku mau nikah sama akak Momo," ungkap Langit kepada Monalisa.


Mendengar itu, tawa Monalisa meledak. "Ih, kau nih. Belum lagi sunat. Dah cakap pasal kawin," ejek Monalisa yang langsung tergelak lagi.


"Abis akak Momo cantik. Baik pula. Aku suka sama kak Momo." kata Langit dengan sungguh-sungguh.


Monalisa menggelengkan kepalanya. "Ape apelah cakap budak nih." Monalisa tak menanggapi kesungguhan bocah laki-laki yang duduk di sebelahnya.


🌱🌱


Aku yakin itu Monalisa. Walaupun penampilannya sudah berubah. Tapi aku sangat yakin itu Monalisa. Tapi, kenapa dia berubah yah?


Langit beranjak dari sofanya. Ia mondar mandir memikirkan si Mona Monalisa itu.


Langit mengusap dahi sampai belakangan kepalanya.


Lagian yah, aku juga yakin. Pasti dia tuh masih kenal samaku. Gak mungkin dia lupa wajahku. Tapi, kenapa dia kayaknya menghindar . Padahal aku rindu. Ingin berbicara dan menanyakan kabarnya.


Langit kembali duduk di sofa. Ia mengusap dagunya dengan kasar. Ia masih sangat penasaran tentang Monalisa. Karena ia sangat sayang kepadanya.


Akhirnya ia mengambil ponsel dari sakunya. Ia membuka aplikasi whats app. Jempolnya segera mencari kontak atas nama Rega. Dengan cepat ia mengirim pesan kepada lelaki berambut keriting itu.


Langit :


Reg, lu ada nomor Momo?


Rega kiting :


Momo? 😕


Langit :


Monalisa


Rega kiting


Buat?


Langit :


Kerjaan


Rega kiting :


Yg bener? 😑


Langit :


Gue transfer gopek ke rekening lo


Rega kiting


08123455789


Ditunggu transferannya.


Langit langsung menelpon nomor yang baru dikirim Rega. Menunggu sesaat dengan jantung berdebar, akhirnya panggilan Langit tersambung dan diangkat.


"Assalamualaikum..." Langit memberikan salam.


"Waalaikumsalam,"


"Momo?"


Tut. Panggilan itu langsung terputus. Langit tak percaya dengan kelakuan Monalisa itu. Ia sedikit terluka mendapatkan perlakuan dari Monalisa yang baru dijumpai, setelah sekian lama tak ia temui.


Langit menghubungi Monalisa kembali. Langit berdecak kesal, karena nomor Monalisa tidak dapat dihubungi. Bolak balik ia menghubungi wanita itu, tapi tetap saja tak aktif nomornya.


Langit hampir membanting ponselnya karena geram.


"Mas?" tegur Cahaya yang mengejutkan Langit.


Langit menoleh. "Ya ada apa dek?"


"Mas kenapa? Kok kesel gitu wajahnya?" Cahaya mengusap wajah sang suami.


Langit mendesah. "Ini, temen Mas gak bisa dihubungi nomornya. Padahal tadi aktif," beritahu Langit.


"Ya udah. Nanti dihubungi lagi. Kita makan dulu yuk. Adek uda siapi makanannya." ajak Cahaya yang berjalan duluan ke ruang makan.


Sebelum Langit menyusul Cahaya, Langit mengirim pesan beruntun kepada Monalisa. Setelah itu, menyimpan ponsel ke sakunya dan menyusul sang istri ke ruang makan.


"Dek, gak ada cuci mulut?" tanya Langit kepada Cahaya yang sedang mencuci piring.


"Ada Mas bentar yah,"


"Iya sayang."


Langit menunggu beberapa saat, sambil menunggu pesan dari Monalisa. Ia terus menatap layar ponselnya.


Hingga Cahaya datang menghampirinya, Langit langsung menyimpan ponsel di kantung celananya.


Wanita yang berstatus istrinya itu duduk di atas paha lelaki itu. Langit menyerit bingung melihat istrinya yang duduk dipangkuannya tanpa membawa buah.


"Lho dek, mana cuci mul..."


Cup. Cahaya langsung mendaratkan bibirnya di bibir tebal milik Langit. Tangannya pun langsung ia kalungkan di lehernya Langit. Langit membalas ciuman itu. ********** dengan penuh gairah.


"Kamu mulai nakal yah!" kata Langit sambil menoel hidung Cahaya, setelah ciuman mereka berakhir. Cahaya hanya menaikkan kedua sudut bibirnya. Lalu ia mengedipkan satu matanya. Seperti yang dilakukan oleh Langit kepadanya. Kedua mata Langit membulat, melihat tingkah Cahaya yang menggodanya.


"Tuh, nakal banget nih kesayangan Mas sekarang."


Cahaya hanya tertawa renyah. Tawanya berhenti saat, Langit langsung ******* bibir Cahaya. Cahaya memejamkan matanya.


Satu detik


Dua detik.

__ADS_1


Tiga detik.


Bayangan itu tidak muncul. Hati Cahaya senang dan lega. Ia pun bisa terbebas dari bayangan masa lalu.


Cahaya mempererat pelukannya. Tanpa menyisakan jarak antara ia dan Langit


😍


Sedangkan di sisi lain, ada seorang wanita dengan perasaan resah yang menyelimuti kalbunya. Sampai-sampai ia menggigiti kuku-kukunya.


"Duh kenapa bisa jumpa sama dia sih?" rutuknya kesal. Ia lalu mengembus poninya dengan kasar.


Jika Langit terkejut saat melihat dirinya. Maka dia, Monalisa juga tak kalah terkejut saat berjumpa dengan anak lelaki yang dulu ingin menikahinya.


Monalisa mendengus gusar. Ia langsung merasa sangat malu saat bertemu kembali dengan Langit. Ia sungguh-sungguh malu dengan keadaan dia sekarang ini.


Wanita yang dulunya baik-baik yang selalu tertutup auratnya.


Kini menjadi wanita yang kotor dilumuri dosa.


Monalisa menghela napasnya. Ia menatap ponsel yang sengaja ia matikan. Setelah Langit tadi menelponnya.


Sebisanya ia harus menghindari lelaki itu. Selain karena rasa malu, pasti lelaki itu akan meminta penjelasan kenapa dirinya berubah. Dan sama saja ia mengkorek luka lamanya.


"Hmm, Langit..." desahnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


Walaupun dirinya sudah lama tak bertemu dengan Langit, ia dapat langsung mengenali, bahwa teman Rega itu adalah Langit. Baginya wajah Langit tak berubah. Sama saja seperti dulu. Hanya, postur tubuhnya saja yang berubah. Tubuh lelaki itu lebih tinggi dan berisi. Dan juga lebih menawan.


Ada desiran aneh, saat ia menjabat tangan Langit. Ia tak bisa menyangkal, ia terbius dengan pesona Langit.


Ingin rasanya ia menyapa dan mengobrol seperti dulu. Ingin rasanya ia berlari saling kejar-kejaran dengan Langit, dibawah terik mentari dengan diiringi suara tawa yang keras.


Sayang, itu hanya sebatas keinginan yang tak mungkin ia wujudkan. Karena saat ini, ia tak memiliki keberanian untuk sekedar menyapa atau mengobrol dengan Langit.


Walaupun ada setumpuk rindu dihatinya untuk Langit.


Monalisa mengusap wajahnya dengan kasar. Menguncir rambut coklatnya dengan ngasal. Ia beranjak dari kasurnya. Kaki jenjang putihnya menyentuh lantai.


Wanita yang tengah memakai gaun tidur itu berjalan ke arah balkon.


Monalisa menatap nanar gugusan bintang-bintang yang terbentang di langit malam.


"Andai saja dulu aku, tidak bertindak bodoh. Mengikuti hawa napsu. Mungkin, aku tak merasa malu jika bertemu dengan Langit. Dan mungkin saja, aku bisa menjadi pendampingnya?" ucapnya kepada diri sendiri dengan rasa penuh penyesalan dan cucuran air mata.


🌱🌱


"Assalamualaikum," Anugrah memberi salam kepada penghuni rumah.


"Waalaikumsalam," Langit dan Cahaya menjawab salam dari sang kakak.


"Ada apa, pagi-pagi kemari?" sosor Langit dengan ketus.


Anugrah tersenyum lebar. "Aku titip Ilham lagi yah. Aku ada pertemuan penting. Istriku masih mabuk. Sampai-sampai Ilham mandinya sehari sekali."


Langit mendesis. "Ini bukan tempat penitipan anak!" sindir Langit yang langsung menyesap kopinya.


Cahaya mencubit bahu suaminya. "Apaan sih Mas ini!" tegur Cahaya yang tak suka dengan ucapan Langit. Sedangkan Langit, langsung tersedak mendapatkan cubitan keras dari sang istri.


Ilham yang didalam gendongan Anugrah tertawa lebar melihat Langit dicubit dan tersedak.


"Ilham, sini sama tante!" ajak Cahaya sambil mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong Ilham.


Ilham segera menegakkan kepalanya lagi, saat mendengar suara Cahaya. Dan langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Cahaya.


Ilham pun kini sudah didalam gendongan Cahaya. Anak kecil berpipi gembul itu melingkarkan tangannya di leher Cahaya. Dengan cepat, ia mencium pipinya Cahaya.


"Eh bocah! Cium-cium istriku!" Langit langsung bangkit dari tempat duduknya.


Cahaya dan Anugrah hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lebay Langit.


"Ya udah, Ay. Kakak pergi dulu yah. Itu susunya mau habis tolong dibeliin. Popok juga. Dibeliin yah," beritahu Anugrah tanpa sungkan.


"Uangnya mana?" tanya Langit yang sudah berdiri diantara Cahaya dan Anugrah.


"Pake uangmu ngapa! Toh, Ilham kan keponakanmu. Jangan medit sama keponakan sendiri. Oke?"


"Yah kak. Tenang aja," sahut Cahaya dengan nada santai.


"Ya uda kalo gitu. Aku lega. Makasih Aya, baik banget sih kamu. Tapi kita salahnya gak jodoh! Hahaha,"


"Iya yah Pak, eh kak," Cahaya menyahuti becandaan Anugrah.


Langit yang mendengar itu langsung panas hatinya. Ia lemah. Mudah cemburu. "Uda pigi sana!" usir Langit yang mendorong dorong tubuh sang kakak.


"Iya... iya... gitu aja ngambek." ejek Anugrah yang mengkerlingkan matanya kepada Langit. Langit hanya memutar pupil matanya.


"Dah, Ilham buah cinta Ayahanda dan Bunda Azizah. Ayahanda pergi dulu yah," pamitnya kepada sang anak sambil melambaikan tangan.


"Idih, lebay!" cibir Langit. "Uda deh sana pergi!"


"Iya ini pergi. Sabar ngapa! Pamali loh ngusir orang ganteng," kata Anugrah.


"Yah kalo orang gantengnya rada rada gesrek, gak masalah!" kata Langit dengan sinis.


Anugrah menatap Langit dengan tajam. "Tega kau bilang gila sama kakak sendiri?"


"Masa? Kapan aku bilang gila?"


"Tadi?"


"Bukan gila. Rada rada gesrek!"


"Nah itu?"


"Apa?"


"Kau bilang gila?"


"Kapan?"


"Tadi!"


"Kapan kak?"


"Sudah deh. Kok malah berantem! Sudah sana kak pergi kerja deh. Mas juga!" Cahaya menengahi perdebatan kakak beradik itu.


Anugrah langsung memasang muka jutek. "Ya uda. Aku pamit. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Cahaya membalas salam dari Anugrah.


🌱🌱


Baru saja Langit selesai mengerjakan sholat dzuhur, ponselnya langsung berdering. Ia mendapatkan pesan dari sang istri.


Aya Luv :


Mas, belikan cake coklat di toko Mama Mia yah.


Sekarang.


Jangan sampai nunggu sore.


Aku cinta kamu sayang


😘😘


Langit :


Oke sayang 😘😘😘


Aya Luv :


😘😘😘😘😘😘😘


Langit langsung bergegas pergi ke toko kue Mama Mia. Toko kue langganan Cahaya. Toko kue paling laris. Toko kue yang memiliki antrian terpanjang. Membeli kue disana harus penuh dengan perjuangan.


Langit langsung mematikan mesin mobilnya, saat dirinya sampai di depan toko kue Mama Mia.


Langit menghela napasnya, melihat antrian yang lumayan panjang.


Ia mengantri dengan sabar bersama para pembeli yang lain.


Langit maju ke depan. Lalu melangkah maju. Melangkah maju lagi. Maju lagi.


Tinggal delapan orang lagi, yang berada di depannya. Namun, dibelakangnya semakin banyak.


Langit menunduk, lalu menoleh ke arah kanan. Pupil matanya membesar saat melihat Monalisa dengan dua plastik berisikan kue. Monalisa tak kalah terkejutnya, saat ia berpas-pasan dengan Langit.


Monalisa langsung mempercepat langkahnya. Namun, ternyata ia kalah cepat dengan Langit. Langit dengan gesit langsung menarik lengan Monalisa.


"Mo... kamu Momokan?" tanya Langit sambil mencengkeram bahu Monalisa.


"Lepas! Aku bukan Momo!"


"Gak! Kamu Momo. Aku gak salah! Kamu Momo! Kenapa kamu menghindar?"


Monalisa panik. Ia melihat sekelilingnya yang sedang menatapi dirinya dan Langit. Monalisa sekuat tenaga menarik diri dari cengkeraman Langit. Ia pun menendang tulang kering Langit dengan kuatnya.


Otomatis, Langit langsung melepaskan cengkeramannya, hal itu dimanfaatkan Monalisa untuk kabur dari Langit.


"Moo... duh..." Langit masih bersikeras mengejar Monalisa yang sudah melarikan diri. Di depan toko kue Mama Mia, ia melihat mobil merah yang bergerak meninggalkan pelataran toko dengan rasa geram.


"Kenapa sih Mo! Ada apa denganmu?" Langit sangat frustasi dengan tingkah Monalisa.


🌱🌱


"Assalamualaikum," Langit langsung masuk ke dalam rumahnya dengan bungkusan plastik di tangan kanannya.


"Waalaikumsalam," Cahaya membalas salam dari sang suami. "Mas, uda pulang," Cahaya langsung mencium tangan sang suami. Langit mencium dahi sang istri dan meletakkan bungkusan itu di atas meja


Langit melirik Ilhan yang berada digendongan Cahaya. "Ilham dari tadi kamu gendong dek?"


"Iya Mas!"


Langit langsung menurunkan Ilham dari gendongan Cahaya. Ia menjauhkan Ilham dari Cahaya.


Lantas ia memeluk erat Cahaya. "Wee... ini punya oom!" ejek Langit kepada Ilham sambil mencium pipi Cahaya.


Ilham melepaskan dodot dari mulutnya. Lalu ia menjerit. "Aaaaaaaaaaaaa!!!!" jerit Ilham memekakkan telinga. Ia berlari ke arah Langit, dan memukul tulang keringnya dengan dodot yang berada ditangannya.


"Ih, apaan. Orang tante Cahaya punya oom. Kok marah!" ejek Langit lagi.


"Aaaaaaaa! Ndak oleeeeeeh!!" Ilham memukul mukul kaki Langit dengan dodotnya. "Awaas... awass.. ndak oleeee... Aaaaaaa!!!" jerit Ilham lagi.


"Duh... duh... sakit! Bar-bar kali ini bocah dek!" aduh Langit pada Cahaya.


Cahaya langsung menggendong Ilham. "Mas sih, godai Ilham,"


"Abis genit!" cibir Langit.


"Ya uda duduk dulu di sofa sama Ilham. Adek mau potongi cakenya dulu. Jagai Ilham dulu yah!"


"Iya!" dengan malas ia menuruti sang istri. Duduk di sebelah Ilham. Keduanya saling pandang, lalu saling membuang muka.


Ilham yang sedang asik meminum susu dari dotnya, dan Langit yang sibuk dengan ponselnya.


Tiba-tiba Ilham membuang dodotnya sendiri ke arah Langit. Langit terkejut tiba-tiba dilempar dodot.


"Ini maksudnya apa Ilham?" tanya Langit sambil memegang dodot Ilham.


"Aaaaaaaa.... huaaaahh...."


Jeritan Ilham langsung membuat Cahaya lari ke ruang keluarga.


"Ya Allah Mas? Kok dodot Ilham Mas copot?" tanya Cahaya yang langsung mengambil dodot dari tangan Langit. Dan diberikan kepada Ilham.


"Jahat banget sih Mas!"


"Hah? Bukan aku yang jahat dek! Fitnah ini, fitnah!" Langit membela dirinya. Namun, Cahaya seperti tidak percaya dengan ucapan Langit.


"Mana mungkin anak sekecil ini bisa memfitnah Mas!" Cahaya langsung pergi ke dapur. Setelah Cahaya pergi, Ilham menjulurkan lidahnya ke arah Langit.


"Isss... anak sama bapak sama aja!" kata Langit yang merasa kesal.


"Lho Mas, ini bukan cake Mama Mia?" jerit Cahaya dari arah dapur.


Langit menelan salivanya. "Gak sayang. Maaf yah!"


"Kenapa gak beli di Mama Mia?" cecar Cahaya.


"Iya dek. Mas males ke sana. Rame kali dek, Mas liat tadi. Lagian pelayanannya genit-genit semua! Jadi Mas beli di toko lain!" beritahu Langit.


"Oh, ya udah deh..." sahut Cahaya dengan membawa dua piring berisi cake coklat.


●●

__ADS_1


__ADS_2