
Cahaya menatap Langit yang sedang berdiri di depan cermin, dari tepi kasur.
“Mas,” panggil Cahaya.
“Ya, sayang?” balas Langit yang masih sibuk menyisir rambutnya.
“Kita kok belum punya anak yah?” Cahaya bertanya sambil mengelus perutnya. “Kok malah kak Anugrah yang duluan punya anak. Padahal kita duluan nikah!” imbuhnya lagi.
“Belum rezeki sayang,” jawab sang suami dengan santai.
Cahaya menggigit bibirnya. “Padahal siang dan malam adek selalu berdo’a. Supaya segera diberikan momongan,” ungkapnya.
“Yah, yang sabar aja. Yang penting adek gak pernah putus do’anya, untuk meminta agar diberikan si buah hati,” kata Langit yang masih di depan cermin. Ia pun meraih jasnya. Lalu memakainya.
“Mas, gak sedih kita belum punya anak?”
Langit menggelengkan kepalanya. “Gak sayang,”
“Kok Mas gak sedih? Kok Mas santai banget? Gimana kalo aku gak bisa punya anak? Apa Mas tetap santai kayak gini?” cecar Cahaya yang menodong berbagai pertanyaan kepada Langit.
Langit mengembuskan napasnya mendengar rentetan pertanyaan sang istri. Ia berbalik ke arah Cahaya. “Kenapa Mas harus sedih coba?”
“Karena kita belum punya anak,” ujar Cahaya sedih. “Adek pingin banget punya anak Mas. Adek iri sama orang-orang yang uda punya anak,” rajuk Cahaya dengan wajah cemberut.
“Kalau sudah waktunya, pasti bakal diberi Allah kok. Semua itukan Allah yang mengatur. Kita hambanya harus sabaaar sayangku. Menunggu malaikat kecil kita bersemayam di rahim adel,” Langit menjadi gemas dengan sang istri.
“Tapi__”
“Tapi apa lagi sayangku?” darah tinggi Langit sudah kumat. “Walaupun tiap malam kita olahraga ranjang. Jika memang belum waktunya diberi momongan, yah__”
Langit tak menuntaskan ucapannya. Melihat sang istri terdiam dengan menundukkan kepalanya.
Langit membuang napasnya. Ia pun langkah berjalan mendekati Cahaya. Langit menghelus pucuk kepala Cahaya.
“Mau punya anak?” tanyanya pada Cahaya. Cahaya mengangguk mantap. Ia menatap Langit dengan senduh.
“Ya uda ayok!!” kata Langit yang melepas jasnya, lalu ia lemparkan sembarangan.
Kedua mata langsung Cahaya membola melihat tingkah Langit. “Mas mau ngapain?”
“Buat anak tapi,” jawabnya dengan membuka satu per satu kancing baju kemejanya.
Cahaya terkesiap mendengar jawaban Langit.
“Apa-apaan sih Mas?” protes Cahaya, yang langsung memegang kedua tangan Langit, agar tidak melanjutkan aksi Langit.
Langit mendekati wajah sang istri. “Katanya mau anak?” tanyanya dengan mengangkat satu alisnya.
Wajah tampan yang terpahat sempurna. Nyaris tanpa celah, yang berada di hadapannya. Mampu membuat jantung Cahaya hampir meledak. Jantung nya masih belum terbiasa dengan wajah Langit yang berdekatan dengan wajahnya.
Cahaya menelan saliva nya. Hembusan napas Langit yang begitu lembut , mampu membuat Cahaya hampir diam membeku.
Langit mengangkat dagu Cahaya. “Hei, melamun. Jadi gak?” goda Langit dengan seringai nakal.
“Jadi, eh bukan. Maksudnya bukan ini!!” Cahaya jadi gugup sendiri karena digoda oleh suaminya.
“Jadi gimana?” Langit mengecup pipi Cahaya dengan lembut dan dalam. Cahaya menutup kedua matanya. Dan menahan napasnya.
__ADS_1
Lalu, tanpa basa basi, ia mendorong tubuh Langit dengan kuatnya. Hingga sang suami terjengkang ke belakang.
“Waduh. Jahatnya adek dorong-dorong Mas. Sakit tahu!!” gerutu Langit.
“Salah Mas sendiri sih!! Orang adek itu curhat kok. Adek mau cerita, malah Mas mesum,”
“Gak ada larangan mesum sama istri sendiri!” Langit membela dirinya sendiri.
“Dek,”
“Ya?”
“Sini bantuin berdiri!” pinta Langit sambil mengulurkan tangannya.
Cahaya menggelengkan kepalanya. “Gak mau. Nanti kena balasan batman,” tolak Cahaya. Langit merengut sebal. Cahaya dapat menebak pikirannya.
Ia berdiri dengan bibir yang sengaja ia majukan. Cahaya tersenyum melihat wajah Langit yang lagi cemberut. So cute, pikir Cahaya.
Langit memasang kembali kancing kemejanya, dengan bibir yang masih dimajukan.
Cahaya memungut jas Langit, dan menghampiri Langit yang berada di depan cermin berukuran raksasa. Cahaya tertawa geli, melihat bibir Langit yang komat-kamit tak jelas.
“Baca mantra apa Mas?” tegur Cahaya dari balik badannya yang keka.
“Cium dulu kalo mau tahu?”
Cahaya menggelengkan kepalanya. “Udah deh ngomelnya! Sini angkat tangannya. Biar adek pakai kan jasnya,” instruksi Cahaya.
Namun, Langit malah melipat kedua tangannya. “Gak mau!!” kata Langit membuang mukanya.
“Kok gak mau?”
Bukan ciuman, Cahaya mencubit pinggang Langit.
“Udah deh, jangan mesum. Jangan ngambek!! Cepat angkat tangannya!!”
“Issss, KDRT ini namanya. Padahal Mamas gak pernah cubit dedek,” eluh Langit, yang langsung merentangkan kedua tangannya. Cahaya langsung memakaikan jas berwarna biru dongker itu ke tubuh Langit.
“Udah,” Cahaya langsung memeluk suaminya dari belakang. Sangat erat. Ia menghirup dalam-dalam aroma mint yang berasal dari tubuh Langit.
“Mas,”
“Yah sayang?”
“Adek takut,” ungkapnya pada akhirnya kepada sang suami.
“Hey, adek takut kenapa?” Langit merasa heran.
“Takut, jika adek gak bisa hamil lagi. Karena, sempat jatuh kan waktu itu. Waktu di rumah Alv__”
Langit langsung membalik badannya. “Jangan ucapkan nama ******** itu sayang. Mas gak suka,” kata Langit serius.
Cahaya tersenyum. Ia mengangguk. Tangannya dengan lembut membelai rahang kokoh Langit. “Adek takut, karena kejadian yang menimpa adek yang dulu, membuat adek gak bisa hamil. Itu aja,”
Langit tersenyum. “Kenapa adek gak periksa ke dokter saja,”
Cahaya menggelengkan. “Adek takut. Takut Mas,”
__ADS_1
Cahaya langsung memeluk Langit dengan erat. Ia benar-benar takut.
“Hey kenapa takut?”
“Takut jika aku memang gak bisa hamil Mas,”
“Ya uda. Kalo itu keputusan adek. Yang penting kita sudah berusaha dan selalu berdoa kepada Allah. Agar diberi momongan,”
Cahaya melepaskan pelukannya. “Maaf Mas, adek cengeng,”
Langit tersenyum manis. “Gak apa-apa cengeng. Karena ada Mas yang akan selalu menghapus air mata adek,” hibur Langit kepada Cahaya.
“Makasih Mas,”
“Ya udah. Mas mau kerja,”
“Hum, adek antar ke depan,”
Cahaya langsung melingkarkan tangannya di lengan Langit. Dengan senyuman yang mengembang.
🍀🍀🍀
“Aduuuhh!! Apaan sih ini?” protes Anugrah kepada Azizah yang tiba-tiba memukulinya.
“Aku hamillll!!! Ini semua gara-gara kamu!!” dengan kesal Azizah terus memukuli tubuh Anugrah.
“Apa istri aku hamil? Alhamdulillah,” ucap Anugrah dengan rasa syukur. Ia pun mencium pipi kanan dan kiri sang istrinya.
Namun lain dengan istrinya yang merengut sebal. “Aku gak mau hamil!"
Anugrah menatap heran ke arah istrinya. “Kenapa?”
“Ilham masih kecil! Masa iya aku uda hamil lagi? Dan kamu tau apa, gimana rasanya hamil? Kemarin aja hamil Ilham aku di infus berapa botol? Mabuk gak berhenti! Aku gak bisa ngapa-ngapain, huhuhuhu,” omelnya dengan air mata yang berjatuhan.
Anugrah menangkup pipi istrinya. “Hey, apa maksud kamu? Anak itu titipan Allah! Artinya Dia percaya kepada kita dititipi amanah untuk menjaga dan membesarkan anak-anak kita. Dan menjadikan mereka anak-anak yang sholeh. Kamu harus bersyukur,”
“Huhu… i-iyaa huhu hiks… hikkss,” jawab sang istri yang tangisnya tak berhenti juga.
Sang istri yang terus menangis tiada henti, membuat Anugrah bingung. “Sayang kenapa menangis?”
Azizah menggelengkan kepalanya. “Gak tahu. Air matanya keluar sendiri,” jawab Azizah. Anugrah langsung membawa sang istri ke dalam dekapannya.
🍀🍀🍀
Langit mengangkat ponselnya.
"Assalamualaikum, ada apa dek?"
"Waalaikumsalam. Masss!! Tolong adek!! Adek di bawa ke kantor polisi!!"
Langit terkesiap. "APA? Kok bisa?"
Cahaya hanya menangis kencang. Langit menghela napasnya. Pusing.
Apa lagi tingkah istrinya.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Bersambung