
Waktu mampu mengubah segalanya
Termasuk manusia beserta perasaannya
🍀🍀🍀
“Dek? Kok diem aja?” tegur Langit kepada istrinya. Namun, Cahaya diam saja dengan wajah masam.
“Dek, Mas takut kalo adek diem aja. Kenapa sih dek?” tanya Langit dengan lembut, sambil mengelus pipi Cahaya.
Cahaya tetap diam. Ia malah mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
“Dek, jangan diam aja dong. Kita mau jalan-jalan. Kok cemberut? Tadi waktu pergi enggak kok,”
“Dek, adek kenapa? Mas itu bukan cenayang, yang bisa baca pikiran adek. Kalo Mas salah yah dibilang dek. Jangan diam apalagi pake merengut gitu,”
Cahaya menoleh ke arah Langit. “Mas itu kenapa sih?”
“Emang Mas kenapa?” Langit masih bersabar.
“Kenapa Mas gak pernah like sratus efbe adek. Mas gak pernah love postingan adek di ig?”
“Hah!!” Langit yang mendengar luapan emosi sang istri, langsung memberhentikan mobilnya . Ia mengambil napas dalam-dalam. Lalu membuangnya bersama emosi yang berada di dadanya.
“Astagfirullah dek. Jadi gara-gara itu adek ngambek?”
“Menurut Mas? Mas itu gak pernah komentari! Tapi, status orang Mas like, postingan orang love, isss sebel!!!” ungkap Cahaya dengan bersedekap dada.
“Walaupun Mas gak pernah like status adek, tapi adeklah orang yang paling Mas like. Meskipun postingan adek gak pernah kasih love. Tapi the real love from my heart itu hanya untuk adek seorang. Lagian, cinta dan kasih Mas kepada adek itu tertulis dihati Mas, bukan distatus medsos, sayang,” Langit mencoba merayu Cahaya. Agar istrinya tak ngambek lagi.
Namun, rayuan Langit tak mempan. Buktinya Cahaya tetap diam dengan wajah tak sedap dipandang.
Cahaya mengambil ponselnya yang bergetar-getar dari tadi. Ia melihat semua notifikasi dari akun sosmednya.
“Uda Mas like and love semuanya. Jadi, kita lanjutkan perjalanannya yah?”
“Halla, karena adek tegur baru Mas like,” sinis Cahaya.
“Jadi mau adek apa?!!” Langit mulai tersulut emosi.
“Adek mau pulang!” putus Cahaya.
“Kok jadi pulang?” Langit jadi bingung. “Katanya mau jalan-jalan?”
“Udah gak napsu. Adek mau pulang aja!!”
“Yakin pulang ini? Adek mau pulang?” sekali lagi Langit bertanya lagi.
“Hmm,” respon Cahaya tanpa melihat Langit.
“Oke, kita pulang!!” Langit langsung memutar setirnya. Dan membawa mobilnya ke arah jalan pulang. Cahaya dan Langit saling diam. Karena keduanya masih diliputi rasa emosi. Kalaupun bercakap, ujung-ujungnya beradu mulut.
Mobil berhenti di depan rumah. Cahaya tanpa banyak basa basi langsung keluar dari mobil. Dan menutupnya dengan keras.
Langit, sang suami hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Ia pun turun dari mobil.
Dan memutuskan bermain game online di ruang keluarga. Di mana kini Cahaya berada. Lelaki itu memang tidak tahu situasi atau memang tak ingin memperpanjang masalah. Ia malah asyik main game online sambil tiduran di sofa. Dengan berbantalkan paha sang istrinya. Yang mana sang istri masih ngambek dengan sang suami. Dan si suami pikir, sang istri sudah baikan.
Cahaya berdengus kesal. Sudah 15 menit berlalu, dan Langit tak bereaksi apa-apa kecuali bermain game online di ponselnya.
Cahaya berdiri, membuat kepalanya Langit mencium sofa. Namun, Langit tetap santai bermain game online.
“Dek, ambilkan Mas minum!” pinta Langit tanpa menoleh sedikitpun wajahnya ke arah Cahaya.
“Ini Mas minumnya,”
“Makasih sayang,” Langit menerima gelas berisikan air putih tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone.
Lantas ia pun meminumnya. Dan Langit menyemburkan air dari minum yang telah ia minum.
Byurrrr. Begitulah kira-kira bunyinya.
__ADS_1
“Adek, kok minumannya asin?” Langit bertanya kepada sabg istri yang berdiri di depannya.
Cahaya tersenyum penuh kemenangan. “Iya Mas. Itu minumannya aku kasih garam,”
“Adek kok tega?”
“Tegalah. Itu adalah hukuman bagi Mas. Karena gak ngajak adek jalan-jalan di akhir pekan,” kata Cahaya dengan diakhiri senyuman sinis.
Langit yang mengosok lidahnya, mendengar jawaban Cahaya, membuat kedua matanya langsung melotot.
“Tapi tadi uda Mas ajak! Tapi adek ngambek. Minta pulang,” Langit membela dirinya.
“Lho, kenapa Mas nuruti adek minta pulang?”
“Kan adek yang minta? Yah Mas turutilah,”
“Kenapa Mas turuti? Kalo Mas terus aja, gak pulangkan adek gak ngambek,”
Langkit membuka mulutnya lebar-lebar mendengar ucapan sang istri.
“Jadi aku harus gimana Cahaya?”
“Cahaya?”
“Cahaya? Jawab!!”
Namun Cahaya hanya diam.
“Kamu kenapa diam aja?”
“Mas lupa? Gak ada aku-kamu an lagi di antara kita. Dan aku gak mau dipanggil Cahaya!” dengan nada tinggi Cahaya memberitahukan Langit.
Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Lalu mengembuskan napasnya. Ia berusaha menenangkan dirinya. Meredamkan amarahnya. Atas tingkah laku istri tercintanya.
“Jadi Mas harus gimana adek?” tanya Langit dengan melembut.
“Mas itu sekarang uda berubah!!”
“Iya. Dulu aja, baik banget. Perhatian sekali sama adek. Ngajak ke mall, maksa jalan-jalan, belanja. Beliin ini itu. Sekarang? Minta anterkan ke sukamart gak mau!!” curhat Cahaya, mengeluarkan uneg-unegnya.
Langit memijit pangkal hidungnya, mendengar omelan sang istri.
“Jadi Mas harus apa?”
“Mas, itu harusnya kayak oppa-oppa Korea yang sering adek tonton. Romantis, peka, perduli sama aku. Ini gak kalo gak kerja yah main gam__”
“Cahaya!” Langit memotong ucapan sang istri. “Itu hanyalah drakor. Pura-pura Cahaya!! Itu hanyalah drama, yang sudah diatur sutradara. Itu gak nyata. Gak beneran Cahaya. Dia itu kayak gitu karena dibayar. Jangan kamu sama-samakan aku dengan oppa kamu!!” Langit mulai kehabisan rasa sabarnya.
“Kenapa kamu jadi bentak aku?” tanya Cahaya sambil mengeluarkan senjata andalannya. Yaitu air mata.
“Aku gak bentak,”
“Kamu bilang gak bentak? Aku cuma kamu mau niru sifatnya aja! Seperti itulah seharusnya seorang suami,”
“Cahaya! Jangan lagi kamu nonton drakor yah!! Dan kenapa aku harus niru dia? Aku punya panutan. Nabi Muhammadlah yang seharusnya aku tiru. Bukan oppa-oppa kamu itu. Aku gak suka!!! Kamu tahu itu!!”
Air mata Cahaya semakin deras. Ia sengaja tidak menghapusnya. “Kenapa kamu jadi bentak- bentak? Emang aku salah?” dengan suara mengiba ia bertanya.
Langit mengembuskan napasnya dengan kasar. “Adek gak salah. Cuma Mas gak suka aja. Adek itu nonton drakor terus,” Langit mendekati Cahaya. Namun wanita itu menjauh.
“Adek kesepian Mas. Bosen di rumah aja. Aku mau kerja, gak Mas kasih!! Sedangkan Mas kerja terus!!” rajuk Cahaya. Membuat darah tinggi Langit kumat lagi.
“Adek. Ngapain adek kerja? Biar apa? Biar Mas aja yang capek kerja, adek jangan. Kamu di rumah aja. Urusi suamii dan do'akan saja Mas rezekinya lancar,”
“Tapi,”
“Gak ada tapi-tapian. Adek itu nurut aja apa kata Mas, apa yang adek mau pasti Mas turuti. Itu aja kuncinya,” pinta Langit.
Cahaya ingin berkata iya. Namun, karena, di dalam hati Cahaya, dirinya hanya dirayu dan dibujuk. Tak lupa dimanja oleh Langit. Hanya itu yang Cahaya mau saat ini.
Namun, hal itu tidak dilakukan sang suami. Membuat amarah di dada tak kunjung reda. Cahaya lantas pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
“Hey, mau ke mana? Denger gak apa kata Mas?” tegur Langit kepada Cahaya yang menyeret kakinya menuju kamar.
“Dek, denger?”
“Denger gak dek? Adek!”
“Masnya ngomong gak didengar?”
Cahaya merasa gerah dan geram. Mendengar ucapan sang suami.
“Apa sih? Ribut kali Mas ini?”
“Adek denger apa kata Mas?”
“Iya!!” akhirnya Cahaya menjawab pertanyaan laki-laki itu. Walaupun dengan setengah hati.
Untuk mengembalikan moodnya sendiri. Cahaya mengambil laptop. Dan memulai ritualnya disaat dirinya badmood.
Menonton drakor.
Baginya, menonton drakor hanyalah hiburan semata di dunia fana ini. Walaupun ia suka nonton drakor, ia tak lupa kewajibannya sebagai umat muslim dan tugas sebagai seorang istri.
Drakor hanyalah tempat pelariannya. Karena telah membunuh rasa bosannya.
Baru 15 menit, drama itu diputar, Cahaya sudah tertidur. Langit yang kebetulan lewat, mengintip sang istri. Dirinya hanya tersenyum, melihat istrinya yang tertidur di depan laptop.
Ia lebih memilih membiarkan laptop yang menonton Cahaya yang lagi tidur.
Ia tak mau mengganggu istrinya. Dengan ikut tidur di sebelah Cahaya. Karena akan bisa dipastikan. Ia tidak akan tidur dan malah mengganggu sang istri yang suka ngambek itu.
Ia memilih tidur di ruang kerjanya.
●●●
Cahaya membuka kedua matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Sinar matahari yang silau, mampu menembus jendela kamar Cahaya. Sayup-sayup Cahaya mendengar suara azan ashar. Cahaya segera beringsut dari kasurnya.
Wanita itu segera melakukan perintah illahi. Namun, sebelum itu ia mandi dahulu. Membersihkan dirinya. Masa iya, mau menghadap Allah ileran? Malu dong.
🍀🍀🍀
Di dalam do'a yang Cahaya panjatkan. Ia meminta ampun kepada Allah. Karena sudah membuat sang suami marah. Ia tak ingin menjadi istri yang durhaka. Karena dirinya selalu membantah perkataan suaminya.
Diujung do'anya juga. Ia tak jemu meminta kepada Allah, agar diberi seorang buah hati. Pelengkap hidup dirinya dan Langit.
Setelah sholat. Hati Cahaya yang tadi diliputi amarah, kini sirna.
Cahaya memakai khimar dengan warna yang senada dengan bajunya.
Wanita yang doyan makan coklat dan ngambek itu, keluar dari kamarnya. Tak lupa dengan membawa tas selempangnya. Ia akan berbelanja. Memasak masakan lezat untuk suaminya.
Di saat moodnya sudah membaik, kini jelek kembali. Melihat tamu yang tak diundang.
"Eh, Cahaya. Mana Langit?" tanya Cinta dengan senyuman manisnya.
"Tidur. Baruku keloni," jawab Cahaya ngasal bin jutek.
"Gile lo Cahaya. Vulgar amat? Malu dong," komentar Cinta.
"Mbak pake baju kurang bahan, seharusnya malu juga dong," balas Cahaya.
"Lu kenapa sinis banget sama gue?"
"Gimana aku gak sinis? Wong gara-gara mbak ganjen sama suami aku, aku jadi ilang di Malaysia!!" ungkap Cahaya dengan wajah tak suka. Tercetak jelas senyuman ala devil di wajah Cinta.
🍀🍀🍀
Assalamualaikum 😍
Makasih yah yang uda mau baca dan tinggalkan jejak 😍
Maafken jika cerita ini belum sempurna atau banyak kesalahan. 😫
__ADS_1
Jangan bosan-bosan sama cerita aku 😙😙