
Wanita dan air mata
Tak dapat dipisahkan
Wanita bahagia, ia menangis
Wanita terluka, ia juga menangis
đź’•đź’•đź’•
Langit membaringkan Cahaya di atas sofa panjang yang berada di ruang tamu. Lalu memilih Langit duduk di lantai tepat di sebelah kepala Cahaya.
Langit mengusap ngusap kepala Cahaya. Menunggu tangis wanitanya reda.
"Adek kenapa?" tanya Langit saat tangis Cahaya mereda. Hati Langit teriris melihat kedua mata Cahaya yang sudah membengkak.
"Adek, kesayangan Mas ada apa?" Langit masih sabar sampai Cahaya membuka suara.
Cahaya pun memiringkan badannya. Ia menatap Langit dengan sendu. Tangannya mengusap rahang suaminya. "Mas, beneran kan. Gak akan meninggalkan adek?" tanyanya dengan lelehan air mata.
Langit menghela napasnya. "Tidak sayang," jawab Langit memegang telapak tangan Cahaya yang berada di rahangnya.
"Walaupun adek gak bisa ngasih Mas anak?"
Langit mengedipkan matanya. "Iya sayang, Mas gak akan meninggalkan adek. Kan uda Mas bilang tadi sama adek. Adek masih gak percaya?"
Cahaya menelan salivanya. "Adek percaya kok Mas," jawab Cahaya.
Hening sesaat. Tak ada percakapan antara keduanya.
"Mas?"
"Yah?"
"Duduk di atas, sini," suruh Cahaya yang langsung bangkit dari tidurnya.
Langit menuruti perkataan sang istri. Ia beranjak dari lantai, dan duduk di atas sofa.
Setelah Langit mendaratkan tubuhnya di atas sofa, Cahaya langsung tidur kembali dengan berbantalkan paha Langit. Tangan Langit pun tak tinggal diam. Tangan kirinya menggenggam tangan Cahaya. Tangan satunya mengusap usap pucuk kepalanya Cahaya.
"Ah,"Â Cahaya menghela napasnya, lalu memejamkan kedua matanya. Ini adalah posisi paling nyaman baginya.
"Mas,"
"Ya dek?"
__ADS_1
"Mas apa gak kepingin punya anak?" dengan suara parau ia bertanya.
"Pingin. Tapi, Mas lebih kepingin melihat kamu tidak bersedih, nangis, dan terluka." ungkap Langit. "Dan Mas, juga kepingin untuk membahagiakan adek selalu, hidup menua bersama adek, menghabiskan sisa waktu di dunia bersama tanpa ada luka," ungkap Langit lagi. Ia menatap wajah Cahaya dengan tatapan mendamba. Perlahan ia menundukkan wajahnya, mendekatkan wajahny ke wajah Cahaya. Sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir Cahaya. Namun, Langit menarik kembali kepalanya.
"Oiii... ciuman aja yang kalian tahu!!" tegur Anugrah yang tiba tiba hadir ditengah mereka.
Cahaya pun langsung duduk dengan secepat kilat.
“Dih, kayak saiton. Maen masuk aja. Gak ngasih salam lagi,” cibir Langit.
Anugrah menurunkan Ilham yang ada digendongannya. “Assalamualaikum, toh ini masih rumahku juga,” kata Anugrah sewot.
“Waalaikumsalam,” Cahaya dan Langit menjawab salam Anugrah.
“Ilham!!” Cahaya langsung menghampiri anak lelaki itu. Dan langsung menggendong buah hati Anugrah.
“Ilham tante kangen sama Ilham,” kata Cahaya yang terus menciumi pipi Ilham.
“Eh, aku jadi ragu nitipi Ilham di sini,” kata Anugrah dengan wajah sok cemas.
“Kenapa?” Langit heran.
“Nanti mata Ilham tercemar. Melihat tingkah kalian berdua yang mesum. Hahaha,” ejeknya yang diakhiri tawa yang keras.
Langit hanya menggelengkan kepalanya. Ia menghampiri istrinya yang masih terus memberikan ciuman dipipi Ilham.
Anugrah terkekeh mendengar ucapan sang adik. “Kok jijik yah Lang? Sama Ilham aja cemburu,” komentar Anugrah.
“Wajarlah aku cemburu. Ilhamkan cowok,” Langit membela dirinya. Ia pun menciumi keponakannya itu.
“Sukamulah,” balas Anugrah. “Eh, aku titip Ilham yah,” kata Anugrah.
“Kenapa?Istri kakak sakit?” Langit penasaran .
“Gak. Dia hamil,” jawab Anugrah seraya meletakkan tas milik Ilham di atas meja.
Cahaya langsung terdiam. Tak menciumi keponakannya itu. Tubuhnya seketika bergetar mendengar jawaban Anugrah.
Ada sedikit rasa iri dihati wanita itu. Langit yang mengetahui kondisi sang istri, langsung memeluknya. Mengusap bahu sang istri. Untuk menguatkan hati Cahaya.
“Wah, alhamdulillah, dikasih momongan lagi. Selamat yah kak. Do’akan kami juga, agar segera punya anak,” Langit memberikan ucapan selamat kepada Anugrah.
“Alhamdulillah. Ilham diberi adik,” ucapnya dengan sedikit senduh. Ya Allah, kapan kau berikan aku anak? Tanyanya kepada Allah.
“Iya, makasih,” jawab Anugrah. Lalu lelaki itu mengembuskan napasnya.
__ADS_1
“Itu, kalian gak kerepotankan jaga Ilham. Soalnya aku mau ngajar. Aku rindu mengajar. Istriku... yah kalian tahulah. Kalo hamil. Dia mabok, dan gak berhenti nangis. Kopiku aja tadi pagi asin. Jadi aku suruh istirahat aja. Dan bawa Ilham sama kalian,” ungkapnya dengan sedikit tak enak.
“Kakak ngapain ngajar? Tapi CEO? Untuk apalagi ngajar? Uangnya untuk apa?” Langit memberikan bertubi-tubi pertanyaan untuk Anugrah.
Anugrah tersenyum. Senyuman yang pernah selalu Cahaya dirindukan. Namun, itu dulu.
“Aku, ndak bisa ninggalin dunia pendidikan. Dari dulu aku suka yang namanya mengajar. Itu adalah hal yang kusukai dari kecil. Aku ndak bisa ninggalin begitu saja. Aku boleh nitip Ilham?”
“Bolehlah kak,” jawab Cahaya dengan senyuman sumringah.
“Oh, makasih yoo, mantan penggemar!!”
Langit langsung menghadiahkan Anugrah sebuah tinjauan diperut Anugrah.
“Arrghh,” erangnya kesakitan memegangi perutnya.
“Mas,” Cahaya menegur Langit.
“Memang iya kok. Cahaya ini penggemarku kok. Sampai terbawa mimpi kan Cahaya. Karena memikirkan aku, ciee,” bukannya kapok, Anugrah semakin menggoda Cahaya. Membuat wajah Cahaya memerah, kala mengingat masa lalunya.
“Mas, silahkan aniaya dia,” instruksi Cahaya yang langsung membawa Ilham ke dalam kamarnya.
“Baik, nyonya dilaksanakan!" jawab Langit yang bersiap-siap menganiaya sang kakak.
Anugrah langsung mengangkat keduanya tangannya ke udara.
"Oke nyerah! Maaf! Jangan buat wajah tampanku jadi jelek!!" Anugrah langsung menyerah. Langit tertawa melihat tingkah sang kakak.
"Dasar,"
"Bedewe, kau gendutan yah Lang? Perutmu bulat. Kau gak lari pagi lagi?"
Otomatis Langit melihat perutnya.
"Lihat nih! Perutku! Rata," pamer Anugrah yang menepuk perutnya.
"Biar apa?"
"Biar jadi hot dady lah,"
"Hot dady, dasar bapak-bapak gak tau diri!! Utamakan mengurus anak sama istri!!" cibir Langit.
"Dasar gendut!!" ejek Anugrah yang langsung menghilang dari hadapan Langit. Sebelum dirinya dicincang halus oleh Langit.
Langit hanya bisa mendengus kesal.
__ADS_1
🍀🍀🍀