Cahaya Langit

Cahaya Langit
Bab 7


__ADS_3

Sebelum ayam berkokok dan azan subuh berkumandang. Cahaya sudah  membuka keduanya matanya, walaupun pun ia masih dikuasai rasa kantuk. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk membuka kedua matanya.


Cahaya dengan susah payah melepaskan lengan kekar Langit  yang selalu melilitnya setiap malam.


Cahaya bangkit dari tidurnya, lalu ia mengikat rambutnya dengan ngasal. Ia menoleh ke arah suaminya yang masih  tertidur dengan posisi telungkup. Cahaya berniat membangunkan Langit. Namun, dirinya terhenyak melihat  cakaran di punggung sang suami.


"Pasti sakit!" ringisnya melihat punggung Langit. Ia pun menggapai bahu Langit.


"Mas, bangun! Uda mau shubuh! Mas!" Cahaya menggusap tubuh Langit. Namun, Langit tak merespon.


"Mas? Nanti keburu azan subuh!" Cahaya mengingatkan sang suami.


"Emmm... masih ngantuk lho dek!"


"Mas, jangan ikuti bisikan setan dong. Jangan dibawa kali kantuknya. Allah menanti umatnya di mesjid lho!"


Cahaya mengela napasnya melihat sang suami yang belum bangun juga. "Mas, kalo gini ceritanya, gak mau bangun sebelum subuh. Gak usah deh ada olahraga ranjang lagi!" ancam Cahaya yang jengkel kepada sang suami.


"Katanya mau punya anak?" tanya Langit yang tiba-tiba sudah duduk di atas kasur dengan menggucek ngucek matanya.


Cahaya mendesah. "Iya, memang pingin punya anak. Tapi Allah tetap yang utama Mas! Jangan kita meninggalkan kewajiban kita sebagai muslim Mas!" Cahaya mengingatkan sang suami. "Uda sana, cepat mandi! Trus ke mesjid!" perintah Cahaya .


"Iyah... iyah! Iyah," Langit turun dari ranjang dengan rasa ngantuk yang masih mendera. Ia pun menyeret kakinya ke arah kamar mandi.


Cahaya sendiri pun segera turun dari ranjang. Ia pun segera menyiapkan baju kokoh sang suami.


"Kamu seksi banget sih kalo pake daster  dek, bawaannya mau nerkam kamu aja," goda Langit saat Cahaya mengancingkan baju kokohnya.  Cahaya hanya memutar kedua pupil matanya.


"Uda deh jangan bicara aneh-aneh Mas!" tegur Cahaya yang sudah selesai mengkancingkan baju kokoh sang suami. Langit hanya cengengesan.


Selesai mengancingkan baju kokoh milik suaminya. Cahaya mengambil sisir dari meja hias dan juga peci dari dalam laci.


Ketika kedua benda itu sudah berada ditangannya. Cahaya kembali ke tempat suaminya berada.


Langit langsung membungkuk begitu Cahaya berada di depannya. Dengan penuh kasih sayang, Cahaya menyisir rambut lebat milik Langit.


Lantas, setelah rambut sang suami rapi, Cahaya memakaikan peci dikepala Langit.


"Uda Mas!" beritahu Cahaya.


Langit tersenyum manis menatap Cahaya. "Makasih yah. Uda mau merawat bayi gede ini!" kata Langit merasa senang.


Allahu akbar... Allahu akbar.


Kedua bola mata Cahaya terbuka lebar saat mendengar suara azan yang sudah berkumandang. Sedangkan sang suami masih berdiri dihadapannya.


"Iya Mas! Uda sana pergi! Uda azan itu!!! Cepatan!"


"Iya iya. Mas pergi dulu. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," setelah Cahaya membalas salam Cahaya, Langit langsung keluar dari kamarnya dengan buru-buru. Karena dirinya takut terlambat untuk memenuhi panggilan Allah.


Melihat Langit yang sudah pergi, Cahaya pun segera membersihkan dirinya.


🌱🌱


"... Ya Rabb, ya Tuhanku. Hambamu ini bermohon kepada-Mu yah Rabb.  Berikanlah hamba seorang anak yang sholeh. Anugrahkan hamba seorang buah hati. Tanamkanlah janin di rahim hamba ya Rabb. Hamba mohon dengan kesungguhan hati. Berikanlah kepercayaan kepada kami, untuk dititipi seorang anak.  Ya Rabb, maafkan hamba yang banyak pinta. Sedangkan hamba masih banyak dosa. Jika memang ini ujian yang Engkau berikan untukku, untuk menanti seorang si buah hati. Aku rela dan ikhlas, ya Rabb. Namun, peliharakan rasa sabar dihatiku ini yaa Rabb. Aamiin... Aamiin ya Rabbal alamin."


Itulah salah satu do'a yang selalu dimunjatkannya. Meminta kepada Allah agar segera diberi anak yang sholeh. Melengkapi kebahagiaan dirinya dan Langit, suaminya. Setelah melaksanakan sholat shubuh, Cahaya meraih Al-qur'an. Ia pun mulai membaca ayat-ayat suci Al-qur'an dengan merdunya.


Cahaya melepaskan mukena dan langsung melipatnya. Lantas ia mengambil jilbab berwarna pink dari lemarinya.


Setelah jilbab pink itu membungkus kepalanya, Cahaya segera berjalan ke arah jendela. Ia menyibakkan gorden, dan langsung membuka jendela berukuran raksasa itu.


Jendela terbuka, otomatis membuat angin dingin bebas masuk ke dalam kamar dan memeluk tubuh Cahaya. Dinginnya angin ternyata sampai menusuk ke tulang Cahaya. Ia pun memeluk tubuhnya sendiri dengan pikiran di awang-awang.


Cahaya mengembuskan napasnya. Menatap langit yang masih gelap dengan jutaan bintang-bintang yang bertabur indah di atas sana.


Perlahan ia turunkan tangannya ke perut. Perlahan ia mengusap lembut perutnya. Perlahan bibirnya melengkung, Cahaya tersenyum sambil terus mengusap perutnya.


"Jangan mengeluh Cahaya! Jika sudah masanya. Allah akan memberikan kamu dan Mas Langit seorang anak! Kamu hanya harus lebih sabar untuk menantikannya! Semangat Cahaya menunggu bayi yang akan bersemayam dirahimmu! Toh, tiap malam selalu olahraga ranjang."


Cahaya menyemangati dirinya sendiri dengan tersenyum bahagia. Namun, tiba-tiba senyumnya hilang, kala mengingat ucapan Cinta semalam. Mengingat Pak Prem yang menikah kembali karena istrinya tidak bisa memberikan anak.


Cahaya menggigit bibirnya sendiri.


Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan anak untuk Mas Langit? Apakah Mas Langit akan menikah lagi? Dan meninggalkan aku? Sendiri dengan luka?


Membayangkan itu saja sudah membuat dada Cahaya sesak. Cahaya menggelengkan kepalanya. Menghapus bayangan itu dari pikirannya.


Tidak mungkin Mas Langit seperti itu.


Cahaya mengulang ulang ucapan itu didalam hati. Untuk menenangkan diri.


Cahaya langsung tersentak saat, Langit tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dengan eratnya.


"Adek ngapain di depan jendela? Mana dibuka lagi jendelanya? Nanti masuk angin lho!" ucap Langit dengan mendaratkan kepalanya di bahu Cahaya.


Cahaya mengusap punggung tangan Langit. "Mas, gak akan meninggalkan Cahayakan?"


Terdengar helaan napas dari Langit.


"Maaf Mas. Mungkin Mas  bosan mendengar pertanyaan adek ini," lirih Cahaya merasa tak enak sendiri. Ia pun  sadar. Sudah berapa kali ia bertanya seperti itu kepada sang suami. Itu bukan kemauannya. Namun, itu keluar begitu saja dari bibirnya.


"Sayang, Mas gak akan meninggalkan kamu kok! Pegang janji Mas yah!" jawab Langit dengan sabar.


"Walaupun adek gak bisa ngasih anak?" Cahaya langsung menggigit bibirnya sendiri.


"Iya sayang," jawab Langit lagi dengan lembut. "Kamu kenapa nanya itu terus sih?" Langit bertanya kepada istrinya. Jujur dia agak heran.

__ADS_1


Cahaya menghela napasnya. "Pak Prem. Tetangga baru kita. Menikah lagi karena tidak memiliki anak. Adek... adek... takut kalo... kalo Mas... ni..."


Langit dengan sigap, langsung memutar tubuh Cahaya. Dan mendekap tubuh istrinya itu. Cukup lama ia memeluk tubuh istrinya. Tak berapa lama, ia melepaskan pelukannya.


Ia dapat melihat kedua pasang mata Cahaya yang sudah memerah.


Langit menangkup kedua pipi Cahaya.


"Cahaya kesayangan Mas Langit. Itukan Pak Prem, sayang. Bukan Mas Langit. Gak mungkin Mas meninggalkan kamu. Sedangkan kamu adalah napas Mas. Jika Mas meninggalkan kamu, sama aja Mas bunuh diri! Adek jangan takut! Buang semua pikiran jelek itu! Pikiran tentang tidak bisa punya anak! Pikiran tentang Mas akan pergi meninggalkan adek! Hempas jauh-jauh pikiran itu. Itu gak baik dek! Kita gak boleh berpikiran negatif, sayang. Kita harus selalu berpikiran positif sayang. Sekarang, janji sama Mas, jangan berpikiran yang aneh aneh lagi. Oke?"


Cahaya langsung mengangguk kepalanya. "Insyaallah Mas,"


Langit langsung mendaratkan ciuman di ubun-ubun Cahaya.


"Sini dek!" Langit menarik Cahaya setelah melepaskan ciumannya. Cahaya hanya menuruti keinginan Langit.


Langit dan Cahaya duduk di lantai tepat di sebelah ranjang mereka. Langit mengeluarkan pemotong kuku dari saku bajunya.


"Dapat dari mana itu Mas? Adek cariin itu benda gak ada?"


"Di samping televisi sayang. Sini tangan adek!" Cahaya pun mengulurkan tangannya ke arah Langit. Langit dengan hati-hati memotong kuku-kuku Cahaya.


"Kuku adek uda panjang yah, sampe Mas kena cakar," komentar Langit dengan fokus ke kuku Cahaya.


Cahaya tertawa. "Maaf Mas. Sakit yah?"


Langit menggeleng. "Yah perih perih sedep gitulah deh. Hehehe..."


"Mas ini,"


Cahaya menatap wajah tampan yang berada di depannya. Yang sedang memotongi kuku tangannya dengan lihai.


"Uda dek, sini sekalian kakinya,"


"Gak usah Mas," tolak Cahaya merasa tak enak.


"Uda gak apa-apa. Adek uda ngurusin Mas. Mas juga harus ngurusin adek. Uda sini kakinya!"


Mau tak mau, Cahaya menjulurkan kakinya. Langit mengangkat kaki Cahaya ke atas pahanya. Dan memulai memotong kuku kaki sang istri.


"Udah. Sekarang kaki kirinya sini," Cahaya hanya menurut apa kata sang suami.


Selesai memotong kuku kaki kiri Langit dengan iseng, lelaki itu menggelitik kaki sang istri.


Spontan saja, Cahaya langsung menendang wajah Langit dengan kakinya. Karena ia merasa terkejut sekaligus kegelian.


"Aduh Mas!! Mas gak apa-apa?" Cahaya langsung mendekati Langit yang langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Atagfirullah Mas! Mas gak apa-apa?" Cahaya langsung mendekati suaminya.


"Sakit Mas?" Cahaya menakup rahang Langit dengan raut wajah khawatir


"Ya Allah Mas, maafi adek yah? Sakit yah?" Langit menggeleng, detik selanjutnya ia mengangguk.


"Sakit sayang," manja Langit. "Mau patah rasanya hidung aku," tambahnya.


Cahaya mengusap hidung Langit dengan ibu jarinya. "Duh... sampai merah hidung Mas," katanya sambil terus mengusap hidung suaminya.


"Maafi adek yah," lirih Cahaya yang dilingkupi rasa bersalah.


"Gak mau ah,"


Cahaya mengerutkan dahinya. "Kok gitu sih? Inikan semua gara-g...."


Cup.


Langit langsung ******* bibir istrinya. Dari tadi ia sudah tak tahan, ingin mencium bibir yang sering ia cecap setiap malam.


Awalnya, Cahaya hanya membelalakkan matanya saat Langit tiba-tiba mencium bibirnya. Namun, lambat laun ia menutup kedua matanya. Menikmati cumbuan itu.


Akan tetapi, tiba-tiba kilasan bayangan masa lalu itu muncul kembali benaknya.


Tubuhnya langsung menegang. Ia langsung membuka kedua matanya. Menatap wajah Langit yang terus mencumbunya. Napas Cahaya memburu dan tanpa sadar ia langsung mendorong tubuh Langit.


Hal itu membuat Langit terkejut. "Dek? Kenapa?"


Cahaya memegang dadanya yang naik turun. "Ah... ah..." Cahaya mengatur napasnya. "Ud... dah siang. Aya mau masak sarapan! Mas juga harus kerjakan? Adek ke bawah dulu." Tanpa menunggu respon dari Langit. Cahaya langsung beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Langit yang diliputi rasa bingung.


😂


Cahaya mencium punggung tangan lelaki yang ada selalu dihatinya.


"Mas, pergi dulu yah," pamit Langit kepada Cahaya seraya mengusap usap pucuk kepala istrinya. Lalu ia pun mencium kening sang istri.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam Mas. Jangan lupa baca do'a. Dan hati-hati di jalan yah." Pesan Cahaya yang diangguki oleh Langit.


Melihat mobil Langit yang sudah meninggalkan halaman rumahnya, Cahaya bergegas membalikkan tubuhnya. Ia akan melakukan tugas ibu rumah tangga. Semenjak Bi Ijah jadi rebutan oleh Anugrah dan Langit. Bi Ijah memilih untuk pensiun.


Baru dua langkah Cahaya berjalan. Namun ia membalikkan badannya saat namanya disebut.


"Cahaya!"


"Ya, ada apa mbak?" Cahaya bertanya kepada tetangga barunya itu. Cinta. Cinta datang menghampiri Cahaya dengan setumpuk buku.


Lantas Cinta pun memberikan tumpukan buku-buku itu kepada Cahaya.


"Buku apa ini mbak?"

__ADS_1


"Buku tips dan trik biar cepat hamil!  Buku ini cocok banget buat lo, yang tak kunjung hamil!" beritahu Cinta dengan nada mengejek.


Cahaya tersenyum tipis. "Makasih mbak. Nanti Aya baca bukunya," ucap Cahaya.


"Ya udah, gue pulang dulu. Soalnya, mau ngurusi anak gue! Byyyy Cahaya. Awas mandul! Ntar ditinggal ayang Langit!" Cinta terkikik tanpa memikirkan hati Cahaya yang sudah terluka atas ucapannya.


Cahaya mengambil napas lalu membuangnya secara perlahan. "Astagfirullah... ya Allah... berikan kesabaran dihatiku ini. Kuatkan hati hamba ya Rabb."


🌱🌱


Langit memakai sepatunya. Ia melirik Rega yang disebelahnya, yang sedang memakai sepatu juga. Mereka baru saja melakukan sholat dzuhur.


"Lang, ikut gue yuk!" ajak Rega kepada Langit setelah sepatu terpasang dikakinya.


"Kemana?"


"Ke resto Kenangan Kita,"


Dahi Langit bergelombang. "Ngapain?"


"Kerja." jawab Rega pendek.


"Lho? Semalam gak jadi rupanya?"


Rega menggeleng. "Gak. Saat gue ke sana, jumpa sama keponakan Pak Kas, dia batali pertemuan kami. Karena dia dapat telpon. Katanya anaknya tiba-tiba sakit! Jadi dia lebih memilih pulang, melihat keadaan anaknya. Trus dia chat gue tadi malam. Dia nyuruh datang ke restonya abis zuhur. Sebagai ganti pertemuan yang batal semalam. Dan dia bakal traktir makan siang, karena dia merasa bersalah karena uda batali pertemuan semalam." Rega memberitahukan semuanya kepada Langit.


"Lo ikut gue yok! Mayan makan gratis,"


"Ya uda yoklah," tak seperti biasanya, Langit langsung menyetujui ajakan Rega.


🌱🌱


Sesampainya di restoran, Langit dan Rega disambut hangat oleh seorang wanita yang memiliki rambut coklat yang ia biarkan tergerai indah. Tubuh langsingnya melekat pakaian yang cukup terbuka.


Sedangkan Langit langsung terkejut saat melihat wanita itu. Ia tak percaya akan berjumpa dengan dia. Wanita yang amat ia kenal. Namun, kini wanita itu sudah sangat berbeda. Tidak seperti dulu.


"Selamat siang Pak Rega," wanita itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Rega. Sedangkan Langit yang masih kaget dan dicampur rasa tak percaya menatap wanita itu saja. Dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Siang Ibu Monalisa," Rega menyambut uluran tangan wanita yang ternyata bernama Monalisa. "Oh yah Bu, ini teman saya. Langit namanya," Rega memperkenalkan Langit yang berdiam diri di sebelah Rega.


"Monalisa," Monalisa mengulurkan tangannya ke arah Langit. Tak ada respon dari Langit. Monalisa melirik ke arah Rega. Rega pun langsung menyenggol tubuh temannya itu.


Langit langsung terkesiap. Ia melihat tangan Monalisa yang terulur ke arahnya. Lelaki itu langsung mengulurkan tangannya juga.


"Langit."


Monalisa tersenyum tipis. Ia segera menarik tangannya. "Mari Pak, masuk. Kita duduk di sudut saja!" ajak Monalisa yang berjalan duluan. Rega dan Langit mengikuti wanita itu dari belakang.


Langit duduk di sofa berwarna merah. Dan di seberangnya ada Monalisa. Mata Langit sedari tadi tak lepas dari sosok wanita itu.


Langit tak habis pikir. Dengan penampilan Monalisa sekarang ini. Mulai dari kepalanya yang memiliki rambut coklat yang bergelombang yang ia digerai. Memakai pakaian yang mengekspos paha serta dadanya. Nada bicaranya terdengar agak manja dan sedikit menggoda.


Padahal menurut Langit, Monalisa tidak seperti itu. Monalisa yang dulu itu kepala selalu dibungkus jilbab.


Pakaiannya selalu sopan dan tertutup.


Bibirnya polos tanpa warna lipsticks. Pipinya tak pernah berwarna merah semu akibat make up. Jika berbicara, suaranya sangat lembut.


Hanya manik mata yang berwarna coklat itu saja, yang tak berubah dari seorang Monalisa.


Momo. Kamu Kenapa? Langit tak habis pikir dengan orang yang ingin ia nikahi sewaktu kecil dulu.


Langit sangat penasaran apa yang telah terjadi hingga wanita itu berubah 360 derajat.


Hatinya tergugah untuk mencari tahu apa yang membuat Momo alias Monalisa ini berubah. Ia pun sangat kecewa dengan perubahan wanita itu. Rasanya ia ingin membungkus tubuh wanita itu dengan jasnya.


Sepanjang pertemuan itu berlangsung. Pikiran dan pandangan hanya tertuju Monalisa. Ia tak tertarik dengan pembicaraan antara Rega dan Monalisa.


Hingga ia tidak sadar, Rega dan Monalisa sudah mau mengakhiri pertemuan itu.


"Oke Pak, semoga hasilnya sesuai harapan saya yah," kata Monalisa dengan ramahnya.


"Iya bu. Ibu tenang saja," sahut Rega dengan rasa percaya diri.


"Silahkan Pak, di santap makanannya," Monalisa menyuruh Rega dan Langit memakan makanan yang baru di antar ke meja mereka.


"Ibu tidak ikut makan?" tanya Rega saat melihat Monalisa berdiri sambil menyelempangkan tasnya.


Monalisa tersenyum. "Tidak pak. Saya ada urusan lainnya. Saya permisi." Monalisa mengulurkan tangannya lagi ke arah Rega. Rega dengan suka cita menyambut uluran tangan itu. Mereka bersalaman. Namun, saat ia hendak menyalami Langit, pria itu sibuk dengan pesannya. Tanpa banyak basa basi lagi, Monalisa langsung meninggalkan keduanya.


Saat Langit selesai membalas pesan singkat dari Cahaya dengan buru-buru. Ia sudah tak melihat sosok Monalisa.


"Reg, mana Monalisa?"


"Uda pergi!"


Mendengar jawaban Rega, Langit langsung melesat pergi untuk menyusul Monalisa. Panggilan dari Rega tidak ia hiraukan.


Langit berlari sampai ke area parkiran. Ia melihat sosok dengan rambut panjang yang ia cari masuk ke dalam mobil. Langit berlari untuk menghampiri mobil berwarna hitam itu.  Tapi sayangnya, seperti tahu sedang dikejar, mobil itu langsung tancap gas meninggal area parkir restoran. Meninggalkan Langit dengan sejuta pertanyaan dikepala.


Langit hanya bisa berdecak kesal. Dan rasa penasaran semakin besar.


🌱🌱


Bersambung


Ada yg nunggu


Sori for typo

__ADS_1


__ADS_2