
Sori for typo 😘
Enjoyken
Jangan lupa tinggalkan jejak yah
***
"Oh iya dek, gimana hasil pemeriksaannya?" tanya Langit yang baru ingat dengan kondisi sang istri, setelah selesai makan malam. Dari tadi siang, istrinya hanya diam. Dan sesampai di rumah lebih memilih tidur. Sedangkan dirinya kembali ke kantor. Mungkin Cahaya lelah? Pikir Langit.
"Emm,"
"Gimana dek?" desak Langit.
"Alhamdulillah, gak ada apa-apa sama Aya kok. Aya sehat. Cuma, mungkin butuh waktu untuk diberi anak. Tapi Aya uda diberi tips kok agar cepat hamil," jelas Cahaya.
"Alhamdulillah," ucap Langit sambil mengecup bibir sekilas Cahaya. "Yang penting kita uda usaha dan berdo'a sama Allah. Semoga Allah segera memberi kita anak. Kita hanya harus lebih sabar saja sayang dan selalu berpikir positif,"
"Ya Mas,"
"Ya apa?" Langit menoel dagu Cahaya.
"Ya kamu bener,"
"Jadi dari tadi siang kenapa kamu diam saja?"
"Capek sama kepikiran ucapan keponakan mbak Dara," ungkap Cahaya.
"Sudah gak usah dipikiri! Anak itu dari kecil kalo ngomong, gak pernah pake bandrol!" kata Langit geram.
"Ng, iya mas. Oh yah, Aya boleh kerja di toko donat mama mbak dara? Mamanya butuh kasir. Mamanya cari orang yang uda dikenal dan terpercaya. Boleh?" Cahaya meminta izin dengan hati-hati.
Langit menatap wajah istrinya. "Kamu nanti capek?" Cahaya langsung menggelengkan kepalanya mendengar perkataan suaminya.
"Gak Mas. Aya gak bakal capek kok. Lagian Aya bosen di rumah. Biar Aya ada kegiatan. Boleh yah, pleasee,"
Langit tampak berpikir sejenak. Tak langsung mengiyakan permintaan Cahaya. Sejujurnya ia tak menginginkan istrinya kerja, tapi melihat wajah Cahaya. Dirinya tak tega.
"Hmm oke! Boleh,"
Cahaya girang bukan main mendengar jawaban Langit. "Serius Mas?" Langit mengangguk. Cahaya langsung memeluk Langit. "Makasih Mas," Cahaya mencium kedua pipi Langit secara bergantian.
"Ya sama sama,"
Cahaya melepaskan pelukannya dan lari dari ruang makan menuju kamarnya dengan perasaan riang. Seperti anak kecil yang mendapatkan lolipop.
Cahaya mengambil ponsel di tasnya, dan melihat tiket film yang ia beli dari Abi. Ia segera mengeluarkan dari tasnya.
Lantas selanjutnya ia mengirim pesan kepada Dara. Bahwa dirinya diizinkan bekerja di toko donat mamanya. Setelah mengirim pesan kepada Dara, Cahaya menoleh ke arah Langit yang sudah menyusulnya ke kamar.
"Mas?" dengan nada manja Cahaya memanggil sang suami.
"Ya dek?"
"Mas, adek uda beli tiket film nih. Kita pergi ke bioskop yuk. Filmnya mulai abis isya," beritahu Cahaya dengan wajah sumringah.
Langit tersentak mendengar ucapan sang istri. "Aduh dek, maaf yah. Mas gak bisa pergi ke bioskop. Mas ada janji sama teman Mas,"
Langit melihat wajah Cahaya yang langsung berubah murung.
"Tapi Mas, adek dah lama gak nonton film," suara Cahaya merendah menahan kekecewaan.
Langit mengusap bahu sang istri. "Adek gak bilang dulu sih sama Mas. Mas gak bisa nemeni adek. Mas harus jumpa teman sekaligus klien mas ini," beritahu Langit dengan mimik wajah serius.
"Emang harus yah Mas? Gak bisa ditunda?" Cahaya bertanya dengan penuh harap.
Namun, Cahaya harus menelan kekecewaan saat sang suami menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gak bisa dek. Maafi Mas yah. Ini pertemuan sangat penting!" Langit mencoba memberi pengertian kepada Cahaya.
"Aya ikut pertemuan Mas sama teman Mas yah!" pinta Cahaya dengan mata bersinar. Namun sinar itu langsung redup, saat Langit menggelengkan kepalanya lagi.
"Maaf dek, ga bisa. Nanti adek bosan nunggui Mas," Langit memberi alasan kepada Cahaya.
"Aya bisa main ponsel Mas sambil nunggui Mas," Cahaya mencari celah untuk tetap bisa ikut.
Langit membulatkan matanya mendengar ucapan sang istri agar tetap ikut dengannya
"Ayoo dong Mas. Kata dokter, Aya gak boleh stres mas," beritahu Cahaya dengan serius."Emang itu pertemuan apa sih? Malam-malam kok ketemuan. Malam itu waktunya Mas untuk Aya," Cahaya melingkarkan tangannya dileher Langit. Ia menempelkan tubuhnya ke tubuh Langit.
"Boleh yah Mas, Aya ikut," Cahaya terus memujuk Langit. Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Langit. Ia mencium bibir sang suami. Dan perlahan ia ******* bibir Langit.
Langit menutup matanya, ia tak sebenarnya tak tahan. Dengan apa yang dilakukan Cahaya kepadanya. Ingin rasanya ia langsung membawa Cahaya ke atas ranjang. Namun, ia ingat tujuan dari pertemuan ini. Langit tak membalas ciuman yang diberikan Cahaya. Ia perlahan menurunkan tangan Cahaya dari lehernya. Ia menatap Cahaya. "Maaf dek, gak bisa!"
Cahaya kesal, ia mendorong tubuh Langit. "Ya uda pergi sana! Gak usa pulang sekalian!" kata Cahaya dengan bergetar menahan air mata.
"Maaf yah dek, kali ini memang adek gak bisa ikut. Besok mas ajak adek jalan-jalan. Gimana?"
"Gak mau!" dengan ketus Cahaya menolak tawaran Langit.
Langit mulai kehabisan stok kesabaran. "Ay kamu jangan kayak anak-anaklah!"
Cahaya menatap Langit. "Anak-anak kamu bilang Mas? Aku kayak anak-anak?" Cahaya mengulang ucapan Langit
"Iya. Tingkah kamu seperti anak-anak. Gak ngerti kondisi aku. Nurut aja sama aku kok gak bisa sih!"
Cahaya berdecak kesal. "Salah Mas kalau aku minta ikut suamiku sendiri. Aku gak bakal ganggu kamu kok. Cuma mau lihat suami aku kerja!" Cahaya membela dirinya.
"Kalau mau lihat aku kerja. Kamu datang ke kantor aku!"
Cahaya melirik Langit. "Kenapa coba Mas, aku gak bisa ikut kamu? Sebegitu pentingkah pertemuan mu itu? Hah?"
Langit mengatur napasnya. Mengontrol emosinya. Langit mulai tersenyum manis. Ia membelai wajah Cahaya. "Sayang, besok mau kerja. Harus simpan tenaga untuk besok. Lagian toko donat mama mbak Dara ramai sekali. Selalu banyak pembeli. Apalagi adek kasir. Gak hanya jadi kasir lho, kasir juga melayani pembeli via online. Mencatat alamat mereka, menulis alamat mereka trus dikirim sama kang kirim deh. Jadi lebih baik adek istirahat saja di rumah," beritahu Langit dengan secara berlebihan. "Besok hari pertama adek kerja, jadi harus bekerja dengan baik dan penuh cekatan. Kalau gak bisa dipecat!" tambah Langit menakut-nakuti Cahaya.
"Iya ay,"
"Iya, pandai sekali Mas mencari alasan agar Aya gak ikut!" Cahaya menatap Langit dengan sinis.
Langit menghela napasnya. "Ya uda ayok ikut!"
"Gak mau!" dahi Langit mengekrut mendengar penolakan Cahaya.
"Kenapa?"
"Kan Mas gak ngasih Aya ikut!" kata Cahaya dengan perasaan dongkol.
"Maafi dek. Kamu istirahat di rumah saja yah," Langit mengusap bahu Cahaya. Cahaya hanya memutar bola.
"Ng … dek, siapi baju Mas dek!" suruh Langit. Walaupun hati Cahaya dongkol, karena tidak diizinkan ikut dengan Langit. Namun ia tetap mengambil baju Langit.
"Gak usa yang formal dek. Biasa aja," kata Langit lagi sambil memakai pelembab wajah. Cahaya mengambil kemeja berwarna dongker dan celana jens hitam dari lemari dan diberikan kepada Langit.
"Makasih dek," ucapnya seraya mencium dahi Cahaya. Cahaya hanya memerhatikan sang suami.
"Aku sisiri Mas," Cahaya mengambil sisir, tapi Langit menolak. Ia mengambil sisir dari tangan Cahaya.
"Gak usah," katanya.
Langit melihat dirinya dari cermin. Memerhatikan penampilan dirinya sekali lagi. Memastikan bahwa dirinya sudah rapi dan juga wangi. Langit langsung mengambil kunci mobil serta ponselnya.
"Mas pergi dulu yah sayang," pamitnya pada Cahaya.
Cahaya hanya mengangguk lemah.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Waalaikumsalam," Cahaya hanya menatap punggung sang suaminya yang berjalan menjauh darinya dengan perasan campur aduk. Namun segera ia langsung beristigfar.
"Astagfirullah... Ya Allah, Aya seharusnya kamu gak boleh begini, memaksa Langit untuk mengajak kamu pergi sama dia. Astagfirullah. Hempaskan rasa amarah dari diri ini ya Allah. Lindungi suami hamba dijalan. Dan lancarkan urusannya ya Allah. Aamiin."
***
"Oma aku terima tawaran Oma kerja di tempat Oma," kata Abi tiba-tiba.
Oma Abi menatap cucunya dari balik kacamatanya tak percaya. "Kok mau kamu? Tadi nolak keras? Banyak alasan! Ini kok tiba-tiba jadi mau? Curiga Oma?"
"Sudahlah Oma jangan curiga sama cucu sendiri!"
"Oke oke... besok jangan telat datang ke toko!" Abi hanya mengangguk.
"Gajinya dobel yah Oma," pinta Abi. Oma Abi mengancungkan jempol kanannya.
"Abi! Lo baca pesan Cahaya yah!" jerit Dara dari lantai atas.
"Iya!" balas Abi tak kalah nyaring.
Dara langsung menjewer telinga Abi, setiba ia menghampiri Abi. "Lancang amat lo!"
"Apaan sih tan. Lebay!" Abi menarik tangan Dara dari telinganya."Uda sana ditunggui Opa di mobil!"
"Lo tuh gak sopan. Baca pesan dari Cahaya sebelum gue. Pake acara lo balas lagi! Bandel banget sih!" omel Dara emosi. Abi hanya diam. Wajahnya datar saja, tidak merasa bersalah.
"Sudah sudah. Kalian ini bertengkar saja. Dar kamu ditunggu Papa di mobil tuh. Gih sana pegi! Dan oh yah besok Abi mulai kerja di toko Mama, jadi kamu gak usah sibuk ngantar pesanan pelanggan," beritahu Mamanya.
Dara memutar kepalanya ke arah Abi. Ia menatap Abi dengan curiga.
"Apaan sih tan, liati gue kek gitu?" Abi merasa risih diliati tantenya.
"Lo, mau kerja tempat Mama, karena Cahaya diiziniin suaminya kerja?"
"Cahaya jadi kerja tempat Mama?" tanya Mamanya. Dara mengangguk mantap.
"Lo suka sama Cahaya?" terka Dara.
"Apaan sih tan? Uda sana pegi. Opa uda nunggui!" usir Abi.
"Lo gak boleh suka sama Cahaya. Dia uda punya suami!" ingat Dara.
"Bisa jadi mereka cerai!" kata Abi dengan santai.
Dara mencubit perut Abi. "Mulutmu! Jangan doakan orang yang buruk!"
"Kan bisa jadi tan. Cinta sejati bisa saja datang, saat Cahaya sudah punya suami!"
Dara sesak napas mendengar perkataan Abi. "Mulutmu memang minta dirukiyah bi! Ma, mama denger ucapan cucu mama ini? Gak waras!" adunya pada sang Mama.
"Abi, kamu ini bicara jangan ngasal! Kalau Cahaya cerai, kamu mau sama dia?"
"Mau!" jawabnya dengan mantap. "Lagian Cahaya gak cocok sama Langit!" tambahnya lagi. Kedua wanita itu langsung syok mendengar ucapan Abi.
"Aduh Ma, Dara pusing mendengar ucapan Abi. Dara pergi dulu Ma. Assalamualaikum," Dara langsung menyalami tangan Ibunya
"Waalaikumsalam," Mamanya menjawab salam dengan keadaan syok.
"Bi, lo jangan macam-macam!" ancam Dara sebelum ia keluar dari rumah.
***
"Iya ini dady kamu," beritahu Langit kepada anak kecil itu. Anak kecil itu tersenyum lebar. Dan langsung memeluk Langit.
"Dady, " panggilnya sambil memeluk erat Langit.
TBC
__ADS_1
Makasih yang uda mampir ke cerita aku