
Cemburu itu hal yang wajar
Namun, hanya untuk kepada pasangan yang sudah halal.
Kalo belum halal.
Buat apa cemburu! Capek!!
😣😣😣
(Anggap aja quotes)
🍀🍀🍀
“Eh, itukan karena lo yang kabur. Jadi lo ilang. Lo jangan nyalahin orang dong!! Lo itu terlalu cemburuan!” Cinta masih membela dirinya.
Cahaya membulatkan kedua matanya mendengar perkataan Cinta yang tidak mengakui kesalahannya.
“Mbak ini. Kok malah nyalahin aku?” Cahaya tak habis pikir dengan pola pikir wanita di depannya.
Cinta terkekeh. Seakan ada yang lucu. “Udah deh. Lo jadi istri cemburuan banget. Lupain aja masa lalu. Gue ke sini cuma mau nganter surat undangan,” Cinta menyerahkan surat undangan berwarna ungu itu.
Cahaya menerimanya. “Undangan apa?” tanyanya masih dengan nada ketus.
“Reunian SMA yeay,” Cinta bersorak gembira.
“Reunian SMA?” ulang Cahaya.
“Yoi, lo kasih ke Langit yah. Gue dan teman-teman berharap banget kalo dia datang. Cause, dia pangeran kami semua. OMG, lo tau. Kegantengannya, gak pernah pudar sampai sekarang. Gilak tuh lakik lo. Masih jadi incaran alumni-alumni yang masih jomblo,” ungkap Cinta dengan semangatnya.
Cahaya hanya memutar matanya jengkel, mendengar penuturan Cinta itu.
“Ya udah, gue balik dulu. Salam buat laki lo yah. Ummah, dahh!!”
Cinta pun pergi melenggang dari depan Cahaya menuju mobilnya. Cahaya menghela napasnya melihat tingkah wanita yang hobby mengganti warna rambut itu.
Pandangannya kini teralih ke surat undangan berwarna biru dengan logo sekolah berwarna silver.
Cahaya tanpa sungkan membukanya. Ia pun lalu membacanya.
“Reunian khusus anak IPS 3. Di Bali. Hah di Bali? Jauh amat?”
Cahaya menggigit bibirnya. Ia tak ingin sang suami pergi ke reunian itu. Cahaya takut, jika di sana, nantinya akan banyak wanita yang sejenis dengan Cinta. Yang super duper ganjen. Kayak ulat bulu yang nempel di dinding.
Cahaya gak mau. Ia pun memutuskan untuk tidak memberikan undangan itu kepada sang suami.
Cahaya menyimpan surat undangan itu ke dalam tas. Dan langsung pergi ke tempat tujuannya.
Awalnya hati Cahaya mantap tidak ingin memberi tahukan surat undangan itu. Namun, disatu sisi ia juga cemas.
Bagaimana pun, surat itu adalah amanat, yang harus disampaikan kepada sang suami.
Namun, sisi lainnya, Cahaya tak ingin Langit tahu. Bisa-bisa sang suami kumat lagi darah tingginya.
Cahaya membawa keranjangnya dengan perasaan bimbang.
Cahaya selalu tersenyum. Melihat bayi di dalam gendongan Ibunya. Cahaya hanya bisa berharap, semoga dirinya segera diberikan momongan juga. Ia sangat ingin memiliki buah hati yang akan melengkapi kehidupannya bersama Langit.
“Kenapa mbak?” tegur Ibu-ibu itu yang sedang menggendong bayi.
“Anaknya lucu banget. Gemesi. Ganteng lagi. Siapa namanya?” tanya Cahaya sambil mengelus pipi gembul bayi itu.
“Amira tante,” jawab Ibunya.
“Eh? Cewek toh?”
“Iya tante. Kayak lanang yah?”
Cahaya mengangguk. Lalu tersenyum melihat Amira yang masih berusia 5 bulan dengan kepala yang belum ditumbuhi rambut.
Dirinya kini hanya bisa bersabar menunggu si buah hati. Yang akan bersemayam di rahimnya nanti.
🍀🍀
Cahaya memarkirkan motornya di depan rumah. Yang disambut oleh sang suami.
__ADS_1
“Ngapain Mas?” tegur Cahaya sambil membawa barang belanjaannya.
“Ini, cctv di depan rumah rupanya rusak dek. Adek dari mana?”
“Fashion show Mas. Yah belanjalah,” omel Cahaya yang langsung masuk rumah.
“Bisakan belanja sendiri? Tanpa Mas antar?” tanya Langit yang mengikuti Cahaya dari belakang. Cahaya hanya mendehem.
Ia meletakkan belanjaannya di atas meja. Namun, tas masih ia pakai.
“Eh, adek mau masak apa nih? Belanjaannya banyak amat. Amat aja kalo belanja gak banyak. Mau masak kolak ayam?” goda Langit, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Cahaya.
“Mas ini? Ngejek aja taunya?” Cahaya jadi malu sendiri kala mengingat yang dulu.
“Tapi enak kok. Mas aja abis makannya,"
"Kok Mas abiskan?"
"The power of love,” ucap Langit sambil memberikan finger heart.
“Ihh, apaan sih. Sana deh jangan ganggu adek, sana pergi!! Adek mau masak!!” usir Cahaya
“Mas, mau bantui adek,”
“Uda sana, gak usa bantui. Adek bisa sendiri kok!!” Cahaya mendorong tubuh Langit agar keluar dari dapurnya.
“Iya, iya jangan dorong dong. Oh yah dek. Tadi ada orang yang tidak boleh aku sebut namanya datang?”
Cahaya langsung menelan ludahnya mendengar pertanyaan Langit. Jantungnya jadi berdebar dengan kencang.
Aduh, gimana ini? Kasih tahu gak yah? Cahaya bergelut dengan pikirannya sendiri.
“Adek!!” tegur Langit, yang membuat Cahaya terkejut. “Hey, kamu melamun? Kenapa capek yah belanja?” Langit membelai pipi Cahaya yang sudah tidak tirus lagi.
“Eh, gak. Gak ada!!” jawab Cahaya berbohong.
Aduh, Ay kenapa pake acara bohong sih?? Nambah dosa aja! Cahaya merutuki dirinya sendiri.
Cahaya jadi takut. Jikalau Langit tak percaya, sampai-sampai dia tak berani menatap wajah Langit.
Cahaya melirik sang suami. Dia percaya? Batin Cahaya.
“Hmmm,”
“Ya udah adek masak. Tapi, itu tas diletakkan dulu,” tegur Langit. Cahaya hanya mengangguk. Ia pun berlari kembali ke dapurnya.
Maafkan istrimu ini yang tlah berbohong Mas. Maafkan aku yah Allah yang berbuat dosa. Ringis Cahaya yang merasa tak tenang.
🍀🍀🍀
Hari ini Langit, mengajak Cahaya sholat ke mesjid.
“Lelaki sejati itu, bukan hanya mengajak istrinya ke luar negri atau jalan-jalan ke tempat yang mahal. Tetapi lelaki sejati itu, lelaki yang mampu membawa istrinya ke mesjid. Untuk menghadap kepada sang Illahi, bersama yang lainnya.” Ungkap Langit saat pulang dari mesjid.
Cahaya yang berada di belakang goncengan Langit hanya menganggukkan kepalanya.
Di bawah rembulan yang mulai memancarkan sinarnya. Dan di bawah naungan jutaan bintang-bintang.
Langit terus mendayung pedal sepedanya.
Ia membiarkan semesta melihatnya. Menyaksikan keromantisan mereka berdua di atas sepeda.
Dan membiarkan, semesta mendengar untaian kata-kata yang indah dan penuh makna untuk Cahaya. Sehingga membuat pipi Cahaya bersemu merah.
🍀🍀🍀
Langit menggenggam tangan Cahaya. Sebelum ia menyantap makan malamnya.
“Ada apa Mas?” Cahaya merasa sedikit heran. Plus takut.
“Adek, gak bohongkan sama Mas?”
Kedua mata Cahaya membola mendengar pertanyaan Langit itu. Wajah Cahaya langsung pucat. Ia seperti maling ketangkap basah.
Langit mengusap kepala Cahaya dengan lembut. “ Hey? Kenapa diam?” dengan suara lembut Langit bertanya.
__ADS_1
Cahaya bukannya menjawab, malah ia menyembunyikan wajahnya. Ia malu. Langit tersenyum melihat sang istri.
Langit mengangkat dagu Cahaya. Menatap mata bermanik coklat, yang sudah berairkan air mata.
“Maaf Mas,” sesal Cahaya.
“Kok nangis?”
“Adek cuma gak mau Mas pergi,”
"Pergi ke mana?"
"Ke reunian SMA Mas lah,"
"Oh, itu. Kalau adek gak izini Mas pergi ke reunian. Mas gak bakal pergi kok,” kata Langit yang menghapus air mata Cahaya yang sudah berjatuhan.
Cahaya menggenggam tangan Langit. “Mas yakin?”
Pria itu tersenyum. “Iya, yakin,” balasnya lalu mendaratkan ciuman hangat di dahi Cahaya.
“Maafi adek yah. Adek menyesal uda bohong sama Mas. Jujur, adek takut Mas marah,” Cahaya benar-benar menyesal.
“Kok takut Mas marah. Gak takut kalo Allah yang marah?”
“Ya takutlah,” jawabnya khas anak kecil.
“Jangan diulangi yah?”
Cahaya mengangguk.
“Ya uda makan, habis makan kita jalan-jalan ke mall. Kamu itu uda lebar. Bajunya pada gak muat,”
Cahaya mencubit dada Langit dengan bibir merengut. Langit hanya tertawa melihat wajah cemberut Cahaya. Menggemaskan baginya. Namun, terkadang menjengkelkan juga.
🍀🍀🍀
Bagi Langit, kebahagiaan Cahaya yang terpenting. Memanjakan dengan berbelanja adalah salah satu yang membuat Cahaya bahagia dan tak berhenti tersenyum.
“Huaaa, Mas!! Ihh cantik banget bajunya. Ada jilbabnya lagi. Pengen!!”
Langit memerhatikan baju itu. “Lah ini baju yang sama kita beli di butik temannya mbak Dara. Cuma beda warna aja. Lagian yang itu aja belum dipakai kan?”
Cahaya mendengus kesal. “Tapi model jilbabnya beda Mas. Adek mau itu. Boleh yah? Please!!” Cahaya memohon dengan wajah diimut-imutkan nya.
Langit mengembuskan napasnya.
Kenapa sih, cewek hobbynya beli baju. Tapi gak dipakai. Cuma disimpan Dan sering ngaku kalo mau pergi gak ada baju?
“Mas? Boleh gak?” tanya Cahaya yang mulai ngambek.
“Boleh. Adek pilih baju, tas, sepatu yang mana aja. Mas sedikit lelah. Mas tunggui di kafe itu yah?”
“Bayarnya?”
“Adek telpon Mas aja kalo uda selesai,” kata Langit. Yang mendapatkan anggukan dari Cahaya.
Sebelum berpisah, Langit mengecup kepala Cahaya. Membuat Cahaya merasa wanita yang paling beruntung di dunia.
Cahaya mulai memilih-milih baju. Melihat-lihat sepatu. Ada satu sepatu yang menarik Cahaya. Saat ia ingin mengambil sepatu itu, tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan seorang wanita yang ingin memegang sepatu itu juga.
“Eh maaf,” ucap Cahaya.
“Iya gak... eh lo. Istri yang super duper posesif dan cengeng,” suara cempreng itu langsung membuat Cahaya langsung tersenyum miring.
🍀🍀🍀
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak
Terima kasih sudah mampir.
Maaf jika ada typo
__ADS_1