Cahaya Langit

Cahaya Langit
Bab 5


__ADS_3

Assalamualaikum 😘


Ada yang nungguin?


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Sori for typo


Enjoyken. 😍


🍀🍀🍀🍀


"Reg," panggil Langit pada Rega yang baru keluar dari mobilnya.


"Apa bro?"


"Mau kemane?" tanya Langit penasaran.


"Oh, gue mau ke resto di belakang kantor. Katanya sih butuh disainer interior Lang. Jadi gue mau cus ke sana. Kenapa?"


"Resto Kenangan Kita?" Langit memastikan.


Rega mengangguk. "He-eh Lang. Resto itu uda pindah tangan. Bukan Pak Kas yang ngelola resto itu tapi keponakannya. Makanya gue rasa dia mau mengubah interior restonya," beritahu Rega.


"Oh gitu,"


Rega menganggukkan kepalanya. "Lu sendiri dari mana?"


"Biasa lihat perkembangan pembangunan ruko Koh Lim,"


"Eh, lo mau ikut sama gue Lang?" tawar Rega, yang tak langsung ditanggapi oleh Langit. "Sekalian ngopi, yoklah! Gak usah banyak mikir!! Yok ikut gue aja!" Tanpa banyak basa basi, Rega langsung menarik lengan Langit secara paksa. Hingga mau tak mau Langit menurut.


Mereka berjalan beriringan menuju resto. Namun, langkah kaki Langit berhenti disaat ponselnya bergetar. Ia segera mengambil ponsel di saku celananya.


“Siapa?” tanpa bersuara, Rega bertanya.


“Istri gue!!”


Rega membulatkan bibirnya. Langit pun mengangkat panggilan dari Cahaya.


"Assalamualaikum, ada apa dek?"


"Waalaikumsalam. Masss!! Tolong adek!! Adek di bawa ke kantor polisi!!"


Langit terkesiap. "APA? Kok bisa?"


Cahaya hanya menangis kencang. Langit menghela napasnya. Pusing. Apa lagi tingkah istrinya.


“Huaaaah Mas... hiks hiks adek dituduh menculik anak!! Mas ke kantor polisi yah! Kantor polisi dekat pasar. Jemput adek! Emaknya galak!! Adek diomelin hiks! Iya... iya ini jalan kok, sabar buk....,”


Klik. Panggilan terputus. Langit  tanpa berpikir lama-lama, segera bergegas ke kantor polisi. Meninggalkan Rega sendirian di tepi jalan.


🍀🍀🍀


Sesampainya di kantor polisi yang berada tak jauh dari pasar di mana sang istri tercinta dibawa masa, Langit langung memarkirkan mobilnya. Dan dengan tergesa-gesa turun dari mobilnya.


Dengan setengah berlari ia memasuki kantor polisi.


“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” tegur salah satu Polisi.


“Wanita yang dituduh menculik anak kecil, di mana yah Pak?”


Kepala Bapak Polisi mengangguk. “Itu dia Mas,” tunjuknya ke arah Cahaya yang sedang terduduk sambil menangis sesenggukan. Karena diomeli oleh Ibu-ibu.


“Makasih Pak,”


“Sama-sama,”


Langit langsung berlari menghampiri Cahaya. “Adek,”


Cahaya mendengar suara Langit langsung mengangkat kepalanya dan berlari memeluk Langit.


Cahaya menangis di dalam pelukan Langit.


“Adek? Kok bisa dibawa  ke sini?” tanyanya dengan suara yang begitu lembut kepada Cahaya.


Cahaya yang melepaskan pelukannya. Ia menangis sesenggukan. “Adek... adek gak sa... salah Mas,” ucapnya terbata bata.


Langit menghapus air mata Cahaya.


“Kalau gak bersalah, kenapa di bawa ke sini? Hey,” masih dengan sabar dan penuh kelembutan Langit bertanya.


“Adek’kan belanja di pasar. Terus pas turun dari motor, adek jumpa sama anak kecil.  Imut banget. Sendirian di samping tukang jualan gulali. Adek kasian, jadi adek samperi. Trus adek beliin dia gulali. Dan adek ajak dia ke pasar. Nemeni adek belanja,” Cahaya menceritakan kejadiannya.


“Kamu bawa anak orang? Tanpa izin orangtuanya?” Langit melirik Ibu-ibu tadi yang diyakini Ibu dari anak yang dibawa Cahaya.


Cahaya mengangguk bahagia. “Iya Mas. Adek juga beliin dia sepatu. Imut banget. Gemes. Cocok banget sama dia. Coba aja kalo kita punya anak,” ungkapnya dengan senduh. Betapa besar keinginan Cahaya memiliki seorang anak.


Langit mengusap bahu sang istri, yang raut wajahnya berubah menjadi sedih.


“Adek gak salahkan Mas?” lirihnya.


Langit tersenyum. “Gak kok, adek gak salah!”


“Apa pula tak bersalah. Jelas-jelas wanita ini bawa anakku diam-diam,”


“Orang, ng... orang adek itu sendiri di situ. Saya kasian,” Cahaya membela dirinya.


“Hey, dia sengaja kutitipkan sama tukang gulali. Aku mau buang hajat. Balek lagi aku, uda gak ada anakku. Kata tukang gulali, ada yang bawa anakku ke dalam pasar. Kucarilah siapa yang bawa anakku sama satpam,” Ibu itu menjelaskan  dengan emosi meluap-luap.

__ADS_1


Cahaya menjadi takut, ia memeluk lengan Langit dengan erat.


“Mohon maaf Ibu, kalo Cahaya membawa anak Ibu. Istri saya tidak bermaksud menculik anak Ibu,” Langit meminta maaf.


“Aku bukan apa yah! Aku takut. Uda banyak penculikan anak sekarang,”


“Iya bu, saya tahu,”


“Dan gara-gara istrimu, aku gak sempat belanja. Rugi aku. Rugi waktu, rugi tenaga. Belum belanja lagi!,” omel Ibu itu. Langit memasang senyumannya mendengar ucapan Ibu itu.


“Adek, tadi belanja apa?”


“Udang, ayam, jagung, bawang merah dan putih, bayam, kol, tomat. Uda itu aja,”


“Kasih belanjaannya sama Ibu itu yah? Ya sayang?” pujuk Langit.


“Nanti adek masak apa?” Cahaya menolak permintaan Langit.


“Kita beli makanan aja dulu. Oke sayang?”


Cahaya mengangguk dengan terpaksa. Ia mengambil belanjaannya yang berada di kolong kursi. Dan ia serahkan kepada Ibu itu.


“Maaf yah bu,” ucap Cahaya.


“Aku terpaksa nerima ini belanjaan. Kalo gak karena kau bawa anakku, gak pala kuambil,” kata Ibu itu lagi. Cahaya hanya mengangguk.


“Makanya mbak, buat anak sendiri! Jadi gak bawa anak orang!!” pesan Ibu itu.


“Iya, bu. Kami setiap hari selalu mengusahakannya,” balas Langit yang mendapatkan cubitan dari Cahaya.


🍀🍀🍀


“Ueeekk... ueeeekk,”


Napas Azizah itu terengah-engah. Ia melihat dirinya dari pantulan cermin. Matanya merah dan bengkak. Wajahnya begitu pucat.


Ia segera membasuh wajahnya. Dan langsung menyambar handuk yang menggantung dekat wastafel.


Ia membuang napasnya. Dan dengan malas ia menyeret kakinya keluar dari kamar mandi.


Ia pun mendengus kesal, mengapa air matanya keluar terus? Padahal dirinya sudah menerima kenyataan bahwa ia sedang berbadan dua.


Anugrah yang sedang menyuapi  Ilham, melihat istrinya yang berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Sebagai suami yang amat menyayangi istrinya. Anugrah dengan tangkas menghampiri sang istri.


Ia menggendong sang istri, dan dibawanya ke sofa.


“Sayang gak apa-apa?” tanya Anugrah cemas melihat kondisi sang istri.


Sang istri menggeleng.


“Ada yang sakit?”


Sang istri berusaha tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia melihat Ilham yang berada di sebelahnya.


“Maafi aku juga Pak, aku gak bisa ngapa-ngapain,” sesalnya.


Anugrah tersenyum manis. “Gak apa-apa. Aku bisa ngurus semuanya kok. Kanu mau apa sekarang?”


“Tidur,” jawabnya dengan lemah.


Anugrah mengusap wajah pucat sang istri dengan kasih sayang. “Aku antar ke kamar yah?”


Belum lagi sang istri menjawab, Anugrah sudah menggendong sang istri.


“Apaan sih? Drama banget? Pake acara gendong-gendongan? Toh kamarnya dekat!” protes Azizah dengan wajah memerah.


“Gak apa-apa. Karena kamarnya dekat, aku gendong. Kalo jauh, yah jalan sendiri dong!!” kata Anugrah dengan diakhiri kekehan kecil. Sang istri hanya memanyunkan     bibirnya saja.


“Istriku sayang, istirahatlah dulu,” Anugrah menarik selimut, menutupi tubuh sang istri.


“Hum,”


“Oh yah, aku mau pergi. Ada urusan sebentar. Ilham aku titipkan dulu sama Cahaya gimana?”


Tanpa pikir panjang, Azizah mengangguk.


“Oke, aku siap-siapan dulu yah,” kata nya lalu mencium kening sang istri.


🍀🍀🍀


Langit mematikan mesin mobilnya. Ia segera melepaskan sabuk pengaman. Namun, ia tertegun melihat Cahaya yang tetap diam ditempatnya.


Langit mengusap bahu sang istri. "Dek, sudah sampai. Ayo turun!" ajak Langit, tapi Cahaya tetap diam tidak merespon ajakan Langit.


"Dek, hey kenapa ini kesayangan Mas. Kok diam aja?"


Langit mengembuskan napasnya melihat tingkah sang istrinya. Ada apa lagi dengan istrinya yang kini tengah murung.


"Ada apa sih dek? Cerita sama Mas," pujuk Langit kepada istrinya.


"Rasanya Mas... rasanya Aya itu tidak seperti Aya yang dulu. Aya yang sekarang itu sangat kekanakan, cemburuan dan mudah emosi. Tidak bisa mengendalikan diri sendiri Mas. Kayaknya Aya sekarang sudah berubah deh. Dan Aya takut, kalau Mas akan meninggalkan Aya karena Aya uda berubah."


Langit mengembuskan napasnya. "Mau Aya yang lama, mau Aya yang baru. Mas tetap sayang kok sama kamu. Adek jangan khawatir, Mas gak akan pergi meninggalkan kamu kok. Bagaimanapun keadaan kamu. Kamu jangan khawatir. Buang jauh-jauh rasa kekhawatiran adek itu. Percayalah, Mas tak akan pernah pergi meninggalkan adek. Mas gak akan berpaling dari adek. Karena adek itu segalanya buat Mas." Langit berusaha menghapus rasa kekhawatiran yang melanda Cahaya.


Cahaya menyeka air matanya. Ia menoleh ke arah Langit. "Mas tolong buktikan ucapan Mas itu. Agar adek yakin jika itu bukan hanya sekedar kata-kata untuk menjadi penenang adek,"


Langit mengangguk. "Tenanglah dek. Mas akan buktikan. Jika pun kita berpisah, itu karena maut. Bukan karena sebuah perceraian."


Cahaya menganggukkan kepalanya. Bibirnya tersenyum. Hilang sudah kegundahan hatinya.

__ADS_1


"Makasih yah Mas."


"Kenapa berterimakasih?"


"Karena Mas tidak itu tidak pernah marah dengan semua sikap adek belakangan ini. Mas selalu sabar menghadapi tingkah adek. Mas pasti juga lelahkan dengan semua kelakuan adek. Jadi adek cuma bisa mengucapkan terimakasih," jelas Cahaya.


Langit tersenyum. Ia mengusap pucuk kepala sang istri. "Gak ada yang gratis. Kamu harus bayar," kata Langit sambil mengerling kan matanya. Cahaya hanya meninju dada Langit dengan mesra, setelah mendengarkan ucapan suaminya.


"Ya udah turun yuk!" ajak Langit, Cahaya menganggukkan kepalanya. Ia segera membuka sabuk pengamannya.


"Eh Mas, itu rumah di sebelah kita kayaknya uda ada yang nempati," beritahu Cahaya sambil menunjuk rumah bercat biru berlantai dua itu.


Langit menoleh ke rumah tetangganya.


"Iya dek. Itu lagi masuk-masuki barang. Mau nyapa?" tawar Langit.


"Sapalah Mas," Cahaya menyetujuinya.


Langit dan Cahaya melangkahkan kaki menuju rumah tetangganya.


"Assalamualaikum," Langit dan Cahaya langsung memberikan salam seorang pria berusia 50 tahunan yang berada di samping mobil pengangkut barang.


"Waalaikumsalam," pria itu menjawab salam dengan ramahnya.


"Bapak penghuni baru di sini yah?" basa basi Langit kepada pria setengah baya itu.


"Iya Mas. Saya baru penghuni baru rumah ini. Ini lagi masukki perabotan ke dalam rumah. Eh, ngomong-ngomong salam kenal yo Mas. Nama saya Prem," pria setengah baya itu mengenalkan dirinya.


"Saya Langit. Rumah saya tepat di rumah Bapak. Dan ini istri saya Cahaya namanya," Langit mengenalkan dirinya beserta Cahaya.


"Oh Mas Langit dan mbak Cahaya toh. Salam kenal yah,"


"Ada yang bisa saya bantu Pak? Ngangkuti sofa? Lemari atau apapun?" Langit menawarkan bantuan.


"Oh ndak usah Mas. Ada kok yang ngangkuti barang ke dalam. Toh barang kami cuma sedikit," beritahu Prem kepada Langit. Langit hanya mangut-mangut.


"Mas Prem!!!" panggil seseorang dari ambang pintu dengan suara tinggi.


Sontak ketiganya menoleh ke asal sumber suara. Dan alangkah kagetnya Cahaya dan Langit melihat  orang yang memanggil Prem.


"Iya Mah," Prem menyahuti panggilannya.


"Itu anaknya Bab! Ceboki ih!" titahnya.


"Iyah Mah. Ya uda yah Mas, Mbak. Saya ke dalam dulu. Dipanggil istri saya," 


"Itu istri Bapak?" Cahaya memastikan.


"Iyah mbak." jawabnya dengan tersenyum. Lalu lelaki setengah baya itu berjalan tergopoh gopoh ke arah rumahnya.


Sepeninggalan Prem, Langit dan Cahaya saling pandang.


"Ada apa dek?" tanya Langit saat matanya bertemu dengan mata Cahaya.


"Adek baru tahu. Kalau mbak Cinta uda nikah. Dan suaminya sudah...."


"Stttt... sudahlah. Gak usah dipikiri! Yok masuk. Kita lanjutkan yang tertunda tadi pagi!" ajak Langit yang langsung meraih tangan sang istri dan membawanya pulang ke rumah. 


"Ini Mas kuncinya," Cahaya menyerahkan kunci rumahnya. Langit segera membuka pintu rumahnya.


"Dueer!" Cinta tiba-tiba muncul di depan rumahnya Cahaya. Melihat pintu sudah terbuka, Cahaya menyuruh Langit masuk rumah lewat tatapan mata. Langit langsung paham. Ia buru-buru masuk ke dalam rumah.


"Ada apa mbak?" tanya Cahaya bingung melihat kehadiran Cinta.


"Mau pinjem tangga. Ada?" kata Cinta sambil melirik ke dalam rumah Cahaya.


"Mohon maaf ndak ada!" beritahu Cahaya.


"Yah..." Cinta tampak kecewa. "Ya uda gue balek dulu. By!" Cinta membalikkan tubuhnya. Namun, baru selangkah Cinta melangkah, Cahaya memanggilnya.


"Mbak Cinta," panggil Cahaya, Cinta pun menoleh.


"Ada apa?"


"Mbak ternyata uda menikah?"


Cinta menganggukkan kepalanya. "Iya, kenapa?" tanyanya sok polos.


Cahaya meremas roknya. "Trus kenapa mbak terus terusan menggoda Mas Langit?"


Cinta menautkan alisnya. "Gue? Goda suami lu? Gak salah lo? Mana pernah gue goda suami lo," kata Cinta dengan entengnya, tanpa beban.


Astagfirullah. Cahaya hanya bisa mengurut dadanya mendengar ucapan Cinta. Mana ada maling yang mau ngaku! Batinya untuk menyabarkan diri.


"Mbak, itu suami mba..."


"Kenapa suami gue?" Cinta memotong ucapan Cahaya. "Lo mau nanya kenapa suami gue tua banget?"


Cahaya terperanjat mendengar tuduhan Cinta. Namun, belum lagi Cahaya membela dirinya. Cinta membuka suara.


"Emang laki gue uda tua bangeet Cahaya. Dia lebih cocok jadi bokap gue. Tapi asal lo tahu, gue bahagia nikah sama dia. Karena dia cinta mati dan nurut degan semua perkataan gue. Lo tau kenapa? Karena gue bisa ngasih dia anak! Sedangkan istri pertamanya gak bisa! Hati-hati lo Cahaya. Gue liat lu gak hamil-hamil tuh! Awas ditinggal Langit!"


Setelah berucap seperti itu Cinta pergi meninggalkan Cahaya dengan rasa tak bersalah.


Sedangkan Cahaya, setelah mendengar ucapan Cinta langsung membuat tubuhnya bergetar hebat. Kepalanya mendadak pusing . Dan dadanya terasa nyeri. Mukanya terasa panas.


"Dek?" tegur Langit kepada sang istri yang sedari tadi menunggu istrinya di dalam rumah.


Langit terpekik kaget, saat istrinya merosot jatuh, untung Langit singgap menahan sang istri agar tak jatuh ke lantai. Langit langsung menggendong Cahaya dan segera membawa ke dalam rumah. Sedangkan Cahaya langsung menumpahkan air matanya di dada Langit.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Bersambung


__ADS_2