
اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ
“Lembutlah kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)”
🍀🍀🍀
“Kenapa mbak? Iri yah?”
Cinta menautkam kedua alisnya mendengar pertanyaan Cahaya.
“Gue? Iri? Ame lo? Dih, amit-amit iri sama lo!! Mending gue iri sama Lucinta Luna,” balas Cinta dengan berlebihan.
Cahaya hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia pun hendak melangkahkan kakinya, meninggalkan Cinta.
Namun, langkah Cahaya harus terhenti. Ketika bahunya dicengkeram oleh Cinta. “Mau ke mana lo?” tanyanya pada Cahaya
Cahaya menoleh. “Ada apa lagi mbak?”
“Lo, parah amat yah jadi istri?”
Dahi Cahaya berkerut, tak mengerti maksud Cinta. “Maksudnya?” Cahaya masih bersabar menghadapi Cinta.
“Lo kenapa gak ngasih Langit untuk pergi reunian?”
“Oh, aku cuma trauma aja. Sama kejadian di Malaysia waktu itu. Ada cewek pura-pura tenggelam di kolam, biar dipegang Mas Langit. Dan, kan mana tahu ada yang lebih parah lagi. Pura-pura gak bisa injak pasir, biar bisa digendong Langit,”
Cinta menaikkan satu alisnya mendengar penuturan Cahaya. “Eh Cahaya! Lo gak boleh ngekang dan ngatur-ngantur Langit dong!!”
“Mbak kok lucu yah? Kenapa rupanya jika aku mengatur Mas Langit. Wong aku istrinya,”
“Emang lo istrinya. Tapi suami lo punya kehidupan sosial. Dia di dunia ini gak hanya tinggal berdua sama lo aja. Dia juga punya teman-teman. Berhenti posesif sama dia. Dan lo tahu, sebelum dia kenal sama lo, dia uda kenal duluan sama kami. Banyak cerita yang sudah kami buat sebagai kenangan,” serang Cinta kepada Cahaya.
“Dengan sikap lo kek gini, kelihatan sekali kalo lo gak percaya sama lakik lo!!” tuduh Cinta dengan menyunggingkan senyuman sinis kepada Cahaya.
“Jadi apa urusannya dengan Mbak?” dengan suara pelan Cahaya bertanya.
“Urusan gue gak ada. Tapi, gue yakini dengan sikap lo yang seperti ini, Langit bakal gak tahan. Dan dia bakal selingkuh!!”
Cinta sangat puas sudah mengeluarkan kekesalannya kepada Cahaya. Ia pun langsung meninggalkan Cahaya tanpa permisi.
Cahaya yang tadinya memiliki hasrat untuk berbelanja, kini hilang sudah dalam sekejap. Akibat perkataan Cinta. Sedikit banyaknya, perkataan wanita itu benar.
Cahaya dengan lesu keluar dari toko, dan menghampiri Langit yang sedang ngopi.
“Mas pulang yuk!” ajaknya sambil menarik tangan Langit.
“Ehh, uda siap belanjanya?” Langit merasa heran, melihat sang istri sudah menghampirinya. Cahaya hanya mengangguk sebagai jawabannya.
“Lho, tapi kok gak ada barang belanjaannya?” selidik Langit.
“Gak jadi belanja Mas. Baju Aya masih banyak. Yuk pulang, adek capek!”
Langit mengangguk. “Oke, yuk!!” Langit langsung meraih tangan Cahaya lalu menggenggamnya.
“Mas,” panggil Cahaya.
“Yah?”
“Mas kok tahu adek bohong?”
Cahaya merasa penasaran.
Langit tersenyum. “Awalnya, Mas pikir adek gak bohong. Mas percaya aja. Tapi, tadi, pas Mas nyari kunci motor. Mas terpaksa geledah tas adek. Karena adek'kan yang terakhir bawa motor. Waktu buka tas adek, eh nemu tuh surat undangan. Maaf yah lihat tas kamu tanpa bilang-bilang,” jawab sang suami.
“Terus, kenapa Mas ndak marah sama adek? Kan adek uda bohongi Mas?”
“Oh, itu. Kamu’kan tahu wanita ibarat kaca. Dan jika wanita itu berbuat kesalahan, maka ia seperti kaca yang berdebu. Yang mana jika kita terlalu keras membersihkan nya. Pasti, kacanya akan langsung retak terus pecah. Artinya, jika wanita telah melakukan kesalahan, harus ditegur dengan kelembutan. Bukan dimarahi atau dibentak. Karena nanti hatinya akan terluka. Sebab hati wanita itu lembut seperti kapas,” Langit mencoba menjelaskan kepada Cahaya. Cahaya mengangguk paham atas penjelasan sang suami.
Cahaya melepaskan genggaman tangan Langit. Lantas ia melingkarkan tangannya di lengan Langit.
Dan menatapnya penuh kehangatan cinta.
“Adek kenapa?”
“Gak apa-apa kok. Ya udah yuk jalan lagi!”
🍀🍀🍀
Anugrah memarkirkan motornya di garasi. Ia membuka helm dan merapikan rambutnya yang berantakan dan bercampur keringat.
Ia pun masuk ke rumahnya dengan menggendong tasnya.
“Assalamualaikum,” Anugrah memberikan salam.
“Waalaikumsalam,” Azizah, sang istri tersayang membalas salamnya.
__ADS_1
“Sayang, kok belum tidur?”tanya Anugrah yang langsung menurunkan tasnya dan melepaskan jaket yang menutupi tubuhnya. Ia pun hendak mendaratkan ciuman di dahi sang istri, tapi sang istri menolak.
“Kamu bau,” elak sang istri yang mengambil jarak dari Anugrah.
“Dih, ini cuci jaketnya. Sama siapkan air hangat yah! Suami mau mandi!” perintah Anugrah yang langsung duduk di sebelah Ilham. Anak pertamanya.
Azizah dengan sabar menuruti dan melayani sang suami dengan sebaik mungkin.
“Suamiku, kok suka sekali sih nge gym?” tanya istri Anugrah saat ikut bergabung dengan anak dan suaminya.
Anugrah tertawa. “Biar jadi hot dady tapi. Biar punya six pack,” Anugrah menunjukkan perutnya yang masih rata.
“Lebih baik punya six car daripada six pack. Kalo punya six car, pas gak ada duit, bisa dijual itu mobil. Kalo cuma punya six pack, pas gak ada duit, apa yang dijual? Ginjal?” cibir sang istri.
“Ginjal kamu’kan yang dijual?” tanya Anugrah berkelekar. Yang langsung mendapatkan jeweran dari istrinya.
“Gak apa-apa ginjal yang dijual. Asal jangan cintaku aja yang kamu jual. Eaaaak,” goda Anugrah pada istrinya.
“Uda deh sana mandi. Airnya uda panas itu!” titah Azizah.
“Ayo Ilham, kita tidur!” ajak wanita itu kepada anaknya.
🍀🍀🍀
Sedetikpun Cahaya tak bisa terlelap untuk tidur. Ia gelisah memikirkan perkataan Cinta.
Apa benar ia egois? Apa benar ia begitu posesif kepada Langit? Jika iya? Apa salah?
Cahaya memiringkan tubuhnya. Menatap wajah tampan ciptaan Tuhan. Yang sedang terlelap. Dengkuran halus Langit, terdengar oleh Cahaya.
Memang benar juga, Mas Langit bukan hidup denganku saja. Dia punya teman, keluarga, sahabat, rekan kerja. Dia dan aku, makhluk sosial. Yang harus bersosialisasi dengan lainnya. Dan reunian itu? Pasti Mas Langit rindu dengan teman-teman semasa sekolahnya. Duh Gusti, hamba harus apa?
Cahaya menghela napasnya. Ia membelai rahang Langit, yang kokoh itu.
Aku percaya kepadamu Mas. Tapi aku gak suka kamu ditatap, dengan tatapan memuja oleh wanita-wanita di luar sana. Aku percaya, kamu bisa menjaga dirimu dan cintaku. Dari godaan saiton yang merayumu. Maafkan atas keegoisanku yah.
Cahaya mengecup pipi Langit dengan lembut.
🍀🍀
Matahari dengan riang muncul dari ufuk Timur. Dengan membawa sinarnya yang begitu hangat.
Kegiatan rutin, setiap pagi. Sarapan berdua. Entah kapan bertiga atau lebih. Pikir Cahaya yang teramat merindukan sosok malaikat kecil yang akan meramaikan suasana rumah.
“Eh, gak kok. Oh yah Mas?”
“Ya sayang?”
“Mas, pengen datang ke reunian itu?” dengan hati-hati ia bertanya kepada sang suami.
Langit tak langsung menjawab.
“Mas?”
“Yah, gak kepengen. Cuma rindu sama teman-teman. Uda lama gak kumpul,” jawab Langit jujur.
“Ya udah. Pergilah Mas,” Cahaya memutuskan untuk mengizinkan sang suami pergi.
Langit terkesiap mendengar ucapan sang istri. “Kamu yakin?”
Cahaya mengangguk. “Yakin. Pergilah. Itukan teman-temannya Mas,”
“Hmm, okelah kalo begitu,” balas Langit yang begitu sumringah.
Sepertinya dia memang pengen pergi ke reunian. Tuh mukanya langsung bergembira. Batin Cahaya melihat wajah Langit.
🍀🍀🍀
“Mas pergi dulu yah,” pamit Langit. Cahaya hanya mengangguk. Ia mencium punggung tangan sang suami.
“Hati-hati di rumah,” pesan Langit. Lagi-lagi Cahaya mengangguk.
Kecupan di dahi, selalu Langit daratkan. Jika keduanya akan berpisah.
“Mas, pergi dulu yah. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,” jawab Cahaya. Langit memasuki taksi.
“Dah... hati-hati di rumah,” pesan Langit dari jendela sambil melambaikan tangannya. Cahaya membalas lambaian tangan Langit dengan senyum semanis mungkin.
Taksi pergi meninggalkan rumahnya. Membawa Langit. Saat taksi sudah pergi, Cahaya langsung memesan taksi online.
Ia pun langsung lari ke dalam rumah. Mengganti baju gamisnya dengan baju tunik yang dipadukan dengan celana jeans. Lalu ia memilih memakai pasmina yang menutupi dada, untuk membungkus kepalanya.
Sekali lagi, Cahaya memerhatikan dirinya dari cermin. Satu lagi, kaca mata dan masker. Ia memakai kaca mata hitam dan masker bergambar hello kitty.
__ADS_1
Oke, sekarang ia siap untuk menguntit suaminya sendiri.
Tidak segampang itu, bagi Cahaya untuk melepaskan Langit pergi sendirian.
Din... din... din.
Terdengar suara klakson taksi dari luar rumah. Cahaya mengambil kopernya yang sudah ia persiapkan. Tas tangan. yang berisi dompet, handphone pun segera ia pakai.
Dan dirinya sudah siap menyamar, demi mengikuti sang suami, tanpa ketahuan.
Apalagi cctv, rusak semua dibuat Cahaya. Cahaya tersenyum penuh kemenangan.
Ia pun keluar dengan menyeret kopernya. Dengan rasa percaya diri.
🍀🍀🍀
Cahaya mengucapkan hamdalah saat tiba di Bali. Cahaya menyeret kopernya keluar bandara.
Akhirnya ia menjejak kan kakinya di pulau dewata. Cahaya langsung mengaktifkan ponselnya.
Senyum yang menghiasi wajah Cahaya langsung hilang. Terganti dengan wajah bingung saat banyak sekali notifikasi pesan dari Langit. Dan panggilan tak terjawab dari Langit.
Mamas lup :
Assalamualaikum, adek di mana?
Adek ke mana?
Adek ke mana yah?
Adek gak ada di rumah yah?
Dek?
Dek di mana?
Cahaya menelan air ludahnya sendiri. Apa ia ketahuan kalau dirinya menguntit Langit.
Tak berapa lama, Langit menelpon dirinya. Dengan takut-takut Cahaya mengangkat panggilan itu.
"Hallo, assalamualaikum Mas?"
"Waalaikumsalam. Ya Allah adek di mana sih? Ke mana? Dari tadi dihubungi gak bisa. Ini rumahnya kok kosong? Adek ke mana?" cecar Langit.
"Emang Mas di mana?"
"Di rumahlah. Uda berapa jam Mas numgguin adek!! Mas gak jadi ke Bali. Reuniannya di adakan di kota ini. Mas, telat tahunya. Untung aja, di tengah jalan, Mas buka grup wa," Langit menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.
Cahaya meringis. "Mas, adek di Bali! Huaaaahhh, sendiriannn!!" tangis Cahaya langsung meledak juga.
"APA!? BALI? YA ALLAH NGAPAIN?" Langit sangat terkejut mendengar ucapan sang istri.
"Stalkingi Mas!! Huaaaaaahhhhh... Mas ke sini yah," rengek Cahaya.
Langit rasanya ingin tertawa dan juga marah. Ia merasa gemas dengan tingkah sang istri.
"MASSS!! KE SINI CEPAAAAAATTT!!"
Cahaya tak perduli dengan orang-orang yang memerhatikannya.
Cahaya hanya ingin Langit langsung datang ke Bali.
"Oke, adek cari hotel. Mas berangkat ini. Oke? Jangan nangis yah?"
"Hum, iya,"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
Langit beranjak dari teras rumahnya. Pergi ke Bali untuk menjemput sang istri yang gagal untuk menguntit dirinya.
"Cahaya... Cahaya," desis Langit dengan senyuman manisnya menghadapi tingkah sang istri.
🍀🍀
Bersambung
Saya kembali lagi
Jangan lupa tinggalkan jejak yah 😘😘
Terimakasih sudah baca
Sorry for typo
__ADS_1