
***Kerajaan Estrella***
…Istana Esencia bagian barat…
Tubuh Luna masih terlihat lemah, tetapi dia berusaha untuk duduk di atas ranjang dan bersandar pada sandaran ranjangnya. Pandangan matanya masih lemah, namun dia di paksa untuk makan sesuatu walaupun hanya sedikit oleh Dewi Santa. Atas nama kesehatan bayi yang ada di dalam kandung Luna, diapun berusaha untuk mematuhinya.
Luna terlihat sangat lemah, dalam kondisi seperti ini Luna tidak dapat memakai kekuatan penyembuhnya, karena kekuatan itu memerlukan energi yang sangat kuat dan banyak. Jadi dia hanya bisa berusaha dengan tubuhnya sendiri untuk bertahan dan menjadi sehat kembali.
"apa tubuh dan perasaan mu lebih baik sekarang, selir Luna?" tanya basa basi Dewi Santa kepada Luna yang melihatnya lembut dan lemah.
"tidak Dewi, tubuh saya masih melemah tapi perasaan saya…!" ucap Luna terhenti dengan senyum tipis dan mirisnya.
Dewi Santa menanyakan tentang perasaannya bagaimana? Luna lucu mendengar itu, bagaimana tidak lucu? Dewi Santa menanyakan perasaannya apakah sudah lebih baik atau tidak? jawaban Luna adalah tidak. Sejak pertama kalinya dia masuk ke dalam istana Estrella ini, perasaannya sudah lama mati. Hanya ada rasa takut, tunduk, pasrah dan hampa saja yang ia rasakan selama ini.
Dewi Santa menghela nafas mendengar perkataan dan senyum miris Luna. Dia sangat tahu perasaan Luna tidak baik selama ini. Dewi Santa tahu Luna sangat tertekan dengan apa yang tidak dia inginkan. Namun Dewi Santa berusaha untuk menghiburnya saja.
"bagaimana perasaan saya?" ucapnya melihat jauh ke depan.
"saya merasa takut, pasrah dan hampa. Saya tidak lebih seperti seorang tahanan yang sudah melakukan kejahatan yang tidak bisa di maafkan lagi, dan saat ini saya sedang menjalani sebuah hukuman akan kejahatan itu. Itulah perasaan saya Dewi." ungkap Luna dengan tatapan kosong memandang jauh ke depan.
Dewi Santa yang sedang duduk tepat di samping Luna, menggenggam erat tangan Luna yang ada di atas pangkuan Luna. Dewi Santa ingin menyalurkan sebuah kehangatan untuk Luna. Dewi Santa tahu Luna tidak bahagia, kesedihan dan tekanan hati yang sedang di rasakan Luna saat ini.
"apa maksudmu dengan seorang tahanan, kau adalah selir kaisar Rey, kau bukanlah tahanan selir Luna." jawab Dewi Santa.
Luna melihat ke arah Dewi Santa.
"tidak di izinkan melakukan aktivitas dan keluar kamar selama satu bulan ini. Apakah itu bukan seperti seorang tahanan?"
"tentu saja tidak." jawab Dewi Santa, dia tidak ingin Luna salah paham akan maksud dari kaisar Rey yang tidak mengizinkan Luna beraktivitas terlalu banyak dan keluar kamar.
Kaisar Rey memiliki alasannya sendiri. Kaisar tidak ingin Luna terluka yang akan berakibat pada kehamilannya. Kaisar Rey tidak mengizinkan Luna keluar kamar, karena Luna belum cukup kuat menghadapi dunia di dalam istana kerajaan Estrella, yang cukup kejam bagi seorang Luna Hermosa, wanita biasa yang berasal dari kasta rakyat jelata.
Peraturan dan ketentuan yang ada di dalam istana kerajaan Estrella sangatlah ketat. Apalagi banyak para selir kaisar Rey yang telah mengetahui kabar tentang selir Luna, yang saat ini menjadi selir kesayangan kaisar Rey. Selir Luna yang tinggal di istana Esencia bagian barat, sudah membuktikan kalau Luna Hermosa adalah selir kesayangan kaisar Rey.
Kaisar juga ingin menjaga masa kehamilan Luna yang terbilang masih rentan dan lemah. Kaisar tidak ingin terjadi apapun pada calon bayi pertamanya itu. Dia tidak ingin semua penantiannya selama ini hilang begitu saja. Itulah alasan kaisar Rey tidak mengizinkan Luna untuk keluar kamar sementara waktu.
Jika kandungan Luna sudah kuat, Kaisar Rey pasti akan mengizinkan Luna untuk keluar kamar dan beraktivitas seperti biasanya. Kaisar Rey telah merencanakan sesuatu untuk Luna, sesuatu yang tidak pernah ada di dalam pikiran seorang Luna Hermosa.
__ADS_1
"kamu bukanlah seorang tahanan selir Luna, kaisar Rey tidak pernah memandangmu seperti itu. Beliau hanya tidak ingin kamu terluka di masa kehamilan mu yang terbilang rentan dan lemah. Kaisar Rey tidak ingin kehilangan calon anak pertamanya."
"tentu saja Dewi, ini semua di lakukan untuk keselamatan anak yang mulia." ucap Luna dengan senyum getirnya.
Dewi Santa menghela nafasnya, dia sudah tidak tahu lagi harus menghibur dan memberikan pengertian seperti apa lagi? kepada Luna yang merasakan dirinya tertekan akan perintah kaisar Rey ini.
Dewi Santa sebenarnya antara setuju dan tidak akan perintah kaisar Rey yang membatasi aktivitas Luna, dan tidak mengizinkan Luna keluar kamar. Semejak kejadian penusukkan Luna di dalam kamar sang kaisar, yang di lakukan oleh putri Fier Zorra Volador.
"dengar selir Luna." ucap Dewi Santa sembari meraih dagu Luna dan menariknya agar Luna melihat ke arahnya.
"kuatlah selir Luna, semua yang sedang kamu alami saat ini. Akan membawamu pada kebahagiaan di masa depan." ungkap Dewi Santa memberikan sedikit harapan kepada Luna.
"kebahagiaan di masa depan?" ucap Luna melihat Dewi Santa dengan lembut dan senyum sedihnya.
"masih bisa kah saya merasakan sebuah kebahagiaan Dewi…?" tanya Luna tidak berani berharap banyak akan perkataan Dewi Santa dan tidak ingin mempercayainya.
"kebahagiaan yang seperti apa yang Dewi maksud? untuk bertahan hidup saja sudah sangat susah bagi saya Dewi. Bagaimana bisa saya akan mendapatkan kebahagiaan yang Dewi maksudkan?"
"percayalah pada takdir mu selir Luna, takdir yang sudah terjadi tidak dapat di hindari dan di lawan. Semua akan berjalan seperti semestinya."
"terima kasih Dewi Santa. Anda sangat baik dan selalu perhatian kepada saya. Setidaknya saya masih hidup dan di temani orang baik seperti anda, sudah anugerah terindah yang Dewa Agung berikan kepada saya, sebelum semuanya berakhir." ungkap Luna dengan ketulusan di dalam hatinya. Itulah perasaan Luna saat ini.
"terima kasih." ucap Luna tulus dengan senyum tipisnya. Namun jauh di dalam hatinya, luna merasa kosong dan ada lubang besar yang terasa hampa.
"baiklah, saya membawakan sesuatu yang akan membuat selir Luna bahagia." ungkap Dewi Santa dengan senyum senang melihat Luna.
Luna tidak menjawab perkataan Dewi Santa, dia diam dan melihat apa yang sedang di lakukan oleh pelayan pribadinya? yang di perintahkan masuk oleh Dewi Santa.
Pelayan itu membawa sebuah nampan yang masih tertutup rapat. Luna sudah bisa menebaknya, itu pasti adalah makan malamnya. Seketika ada gejolak yang mulai Luna rasakan di dalam perutnya, saat membayangkan makan malamnya yang datang.
"maaf Dewi, bisakah saya tidak makan malam ini?" ucap Luna sembari memegangi perutnya yang mulai bergejolak.
Luna mulai merasa mual dan ingin muntah.
"makanlah walaupun sedikit. Kasihan bayi yang ada di dalam kandungan mu selir Luna." ungkap Dewi Santa tahu jika Luna mulai merasa mual.
"tapi Dewi…itu sangat menyiksa saya." ungkap Luna apa adanya.
__ADS_1
"malam ini kamu tidak akan merasa mual saat melihat makan malam ini." ucap Dewi Santa sembari menerima sebuah nampan yang di serahkan oleh pelayan pribadi Luna.
"apa anda yakin Dewi? belum di buka saja, perut saya sudah mulai mual ingin muntah." ucap Luna menutupi mulut dan hidungnya.
"percayalah padaku selir Luna." jawabnya dengan senyum manisnya melihat Luna.
Dewi Santa dengan perlahan membuka penutup makan malam Luna, bersamaan dengan terpejamnya mata Luna untuk menghindari agar tidak melihat makan malamnya.
"ayo lihatlah makan malam yang selama ini kamu inginkan selir Luna." bujuk Dewi Santa.
Dewi Santa lucu melihat tingkah laku Luna yang seakan takut pada makanan. Selain takut saat melihat kaisar Rey, ternyata Luna juga takut melihat makanan yang akan dia makan.
Perlahan Luna membuka matanya, tetapi tangannya yang menutupi mulut dan hidungnya tidak dia lepaskan. Luna mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, dia masih melihat intens makan malam yang di pegang oleh Dewi Santa.
Luna dengan cepat melepaskan tangan yang menutupi mulut dan hidungnya. Senyum bahagia mengembang di bibirnya, perut yang tadinya bergejolak dan mual ingin muntah, seketika menghilang saat melihat makanan yang selama ini dia inginkan terhidang di hadapannya.
"apakah ini benar Dewi Santa, saya tidak sedang berhalusinasi kan?" ucap Luna masih tidak percaya.
"tidak selir Luna, cobalah di cicipi…! apakah sama seperti yang kamu inginkan selama ini?"
Dengan pelan sembari menelan salivanya, Luna meraih sendok perak yang ada di atas nampan. Dia menyendok sedikit kuah dan irisan daging tipis yang terlihat lezat di mata Luna. Dengan pelan daging tipis itu masuk ke dalam mulut Luna, pelan dan lembut Luna mengunyah daging dan meresapi kuah rempah yang terasa segar dan enak di dalam rongga mulutnya.
Senyum bahagia terlihat pada bibir Luna, matanya berbinar senang seperti saat mendapatkan hadiah besar yang ia inginkan. Begitulah ibu hamil yang sedang dalam kondisi mengidam. Apa yang di inginkan terpenuhi pasti akan membuat sang ibu bahagia, yang tentunya akan membuat calon bayinya juga bahagia.
Kebahagiaan yang sangat sederhana. Namun terkadang di anggap remeh dan tidak masuk akal bagi mereka yang tidak mengalaminya. Luna dengan lahap memakan habis makan malam Asados Truffle nya.
Tanpa Luna sadari semua yang Luna dan Dewi Santa bicarakan, di dengarkan oleh kaisar Rey yang kebetulan sedang berdiri tepat di depan pintu kamar Luna yang sedikit terbuka saat ini. Kaisar juga dapat melihat kebahagiaan terpancar di wajah Luna saat menikmati makan malamnya. Tanpa sadar kaisar Rey ikut tersenyum melihat senyum bahagia Luna.
Kaisar Rey ikut senang bila Luna terlihat senang, dia jadi menyesal karena tidak mengizinkan Luna memakan makan Asados Truffle, makanan kesukaannya yang sangat di inginkan oleh Luna. Kaisar Rey yang baru pertama kalinya menghadapi wanita yang sedang hamil, tidak tahu jika itu adalah masa ngidap ibu dari calon anaknya. Tapi dia bersyukur bisa cepat sadar, untuk mengabulkan permintaan Luna yang menurutnya tidak masuk akal.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.