
flashback on
Siang itu seperti biasa pada jam istirahat seluruh siswa siswi sekolah berhamburan keluar, ada yang menuju kantin, perpustakaan, menemui pacarnya dan tempat lainnya disekolah. Sementara seorang wanita dari kelas 3 IPA terlihat duduk di ruang BP sekolah.
" Kamu lagi, kamu lagi ya" sahut guru BP tersebut geleng-geleng kepala melihat siswi ini lagi yang harus ditemuinya. lalu ia berkata lagi.
" Kamu gak bosan buat masalah terus, tinggal dikelas yang sama selama dua tahun kamu gak malu sama adik dan teman-teman sekelas kamu. Kamu harus berubah sekarang jika kali ini kamu gak lulus lagi ibu gak tau lagi harus gimana sama kamu" jelasnya.
" Bersihin WC lagi kan Bu, yaudah aku kesana ya Bu soalnya cape banget tadi pagi udah diceramahin papa terus pas baris diceramahin kepala sekolah masa sekarang dengar ceramah ibu lagi kan saya cape Bu jadi saya lanjut ke hukuman langsung aja ya Bu" ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" Kamu ya, memang sangat keras kepala. Kali ini ibu gak akan kasih hukuman bersihin WC lagi buat kamu tapi mulai sekarang kamu akan diskors selama 1 Minggu. Kamu harus menyadari kesalahan kamu dan berhenti berulah terus" tegas guru BP tersebut tetapi hanya disambut senyuman oleh siswi tersebut.
" Itu aja nih, yaudah saya pulang dulu buk. Saya juga cape banget hari ini apalagi ada ulangan nanti jadi saya gak perlu ikut ulangan dong. makasih banyak Bu, sayang ibu" sahutnya memeluk guru tersebut lalu keluar dengan girang.
" Astaga anak jaman sekarang sangat susah diatur, sudah tidak lulus dua kali bukannya sedih malah senang dia" lirih guru BP sambil menggelengkan kepalanya.
" Bel" terdengar seseorang memanggil siswi tadi dari belakang yang membuatnya segera menoleh kebelakang.
" Gina, ngapain Lo manggil gue?" ketusnya.
" Lo masuk BP lagi, gak bosan apa Lo?" serunya.
" Gina sayang, kalau Lo cuma mau nanya hal gak penting itu lain kali gak usah manggil gue ya. Lo tau setiap detik hidup gue harus dipergunakan dengan baik jadi gue gak mau bahas masalah gak penting itu" cetusnya lalu pergi meninggalkan Gina.
" Untungnya bokapnya orang kaya kalau enggak bisa mampus dia " lirih Gina pelan lalu pergi menuju kantin.
Bella terlihat sudah menyandang tas, tampak diluar pagar sekolah sudah ada sebuah mobil sport mewah datang menjemputnya yang tak lain adalah Yaya sahabat baiknya. Bella segera masuk dan duduk dengan wajah santai disebelah Yaya.
__ADS_1
" Masalah apalagi nih sekarang?" tanya Yaya sambil mengemudikan mobilnya.
" Baju gue" jawabnya singkat.
" Bel... bel... kalau Lo gak mau pakaian Lo diatur makanya cepatan lulus dong dari SMA" nasehatnya.
" Gak usah ngebacot deh ya, Lo taukan kalau gue lulus dengan nilai pas-pasan pasti gak akan bisa dekat sama my hot boy Devan. Lo kan juga tau sendiri kalau kampus di sebelah sekolah kita itu kampus ternama dan disana tu cuma orang-orang pintar doang yang bisa masuk yang otaknya cetek kayak gue mah pasti langsung di suruh keluar dari sana" jelas Bella.
" Ya... ya... ya. Lo nih ya cuma gara-gara crush doang sampai rela gak lulus 2 tahun. Gila sih effort Lo buat dia tapi Lo juga mikir kali emang kak Devan mau sama Lo yang selalu masuk ruang BP dan gak lulus 2 kali. Kalau gue jadi kak Devan mah ogah punya cewek bloon gini " sarkas Yaya. Bella dengan santainya menjitak kepala sahabatnya tersebut.
" Lo gila ya bel, sakit ege" seru Yaya.
" Makanya jangan ngomong sembarangan tu mulut. Lo seharusnya dukung gue sama Devan bukannya malah makin buat gue drop bego. Pokoknya Devan itu udah perfect banget jadi calon ayah dari anak-anak gue kelak. Udah ganteng, baik, pinter lagi pokoknya 100 buat dia"
" Sadar bel, gue denger-denger nih ya kak Devan udah punya pacar dan kalau gak salah sih pacarnya itu satu kampus sama kak Devan" jelas Yaya.
" What? pacar? gak bisa dong karena masa depan Devan itu cuma gue bukan cewek lain. Kalau Lo mau nipu gue itu gak akan berhasil Aya, karena gue selalu mantau Devan dan dia lagi gak dekat sama siapa-siapa kok" bantahnya keras.
" Bodo. Gue gak peduli mau dia punya pacar atau nikah sekalipun gue bakalan tetep jadiin dia suami gue. Walaupun gue harus nyandang gelar pelakor untuk itu" keras kepala Bella.
" Serah Lo deh. Cape gue ngomong sama batu, by the way kita mau kemana nih?" tanya Yaya karena sejak tadi menyetir tapi tak tau hendak kemana arah dan tujuan mereka.
" Kerumah gue, soalnya kata papa dia mau nunjukin sesuatu ke gue" balasnya.
" Oke" Yaya segera mengemudikan menuju rumah Bella.
Tak lama kemudian mereka sampai, Bella kemudian turun disusul oleh Yaya. Mereka segera memasuki rumah.
__ADS_1
Saat masuk, Bella terkejut karena seorang wanita paruh baya bersama gadis seusianya sedang berbincang-bincang dengan ayahnya.
" Papa" panggil Bella sambil terus menatap mereka dengan tajam.
" Bella, kamu udah pulang. Bukannya jam pulang sekolah masih lama ya, kenapa kamu udah pulang aja?" sahut papanya.
" Mereka siapa? ngapain mereka dirumah kita pa?" tanya Bella to the poin. Papanya segera menghampiri diikuti oleh dua wanita tersebut. Bella hanya menatap sinis pada kedua wanita tersebut.
" Bella, ini yang mau papa tunjukin ke kamu"
" Pembantu baru" cetus Bella blak-blakan " Kita emang lagi cari pembantu pa, tapi kenapa harus dua sih? satu aja cukup kali"
" Bella, jaga mulut kamu. Mereka bukan pembantu"
" Terus? Pengemis atau apa pa? apa mereka mau minta sumbangan" Yaya hanya bisa menahan diri dari tertawa mendengar jawaban random sahabatnya tersebut.
" Bukan. Mereka itu calon ibu dan saudara tiri kamu" jawaban itu seakan menyambar Bella dengan kuat. Ia tak percaya bahwa ayahnya akan menikah lagi, meskipun ibu kandung Bella telah lama tiada Bella sama sekali tidak ingin memiliki ibu baru apalagi saudara baru.
" Papa gila ya? Bella gak mau wanita tua dan anak kurang gizi itu jadi saudara Bella titik" tegas Bella.
" Bella! Cukup! papa tau kamu sangat menyayangi mama kamu tapi kamu seharusnya tau kalau papa gak mungkin selamanya akan sendiri terus kan"
" Siapa bilang papa sendiri ha? papa punya Bella kan dan paopao yang selalu ada buat papa"
Perdebatan hebat terjadi antara ayah dan anak tersebut hingga sebuah tamparan melesat kepipi Bella yang membuatnya semakin murka.
" Papa nampar aku!" pekiknya. papanya terlihat merasa begitu bersalah walaupun selama ini Bella nakal dan keras kepala ia tak pernah mengangkat tangan pada anak perempuannya itu.
__ADS_1
" Bella maafin papa" ujarnya. Bella terlihat begitu kesal dan mengambil kunci mobil yang ada ditangan Yaya.
" Bel, tunggu gue" pekik Yaya yang mengejarnya diikuti ayah Bella dan dua wanita tadi.