
Selesai mandi dan memakai pakaian, Bella merasa sangat fresh. Dia kemudian duduk disebelah Yaya yang asyik bermain ponsel.
" Ya, gue masih rada-rada kepikiran tu orang. Dia bakalan nemuin gue gak ya" ujar Bella yang membuat Yaya meletakkan ponselnya.
" Mungkin gak mungkin sih"
" Maksud Lo apa ni mungkin gak mungkin "
" Pertama, jawaban gue mungkin karena dia itu orang besar bel. Jaringan bisnis dia gede banget dan Lo juga bilang kan ke gue dia jual barang haram, gak takut sama polisi so pasti dekingannya kuat banget lah. Dan kedua jawaban gue gak mungkin karena kota ini lumayan luas juga kan dan dia juga bilang sama lo kan kalau Lo bisa keluar dari sana, Lo bakalan bebas jadi mungkin dia gak akan cari Lo lagi" jelas Yaya. Bella terlihat masih tak tenang mengingat orang-orang yang dibunuh secara langsung dihadapannya.
" Semoga jawaban kedua Lo deh yang bener. Gak mau gue kalau harus ketemu dia lagi" balas Bella.
" Tapi nih ya, kalau gue lihat-lihat tuan muda Arsenio ini ganteng njir dan dari kabar yang gue dapat barusan katanya dia belum punya bini juga tuh. Lo yakin gak salah orang bel?" seru Yaya merasa tak yakin karena dari kabar yang diberikan mata-matanya mengatakan hal baik saja tentang Arsenio. Tidak ada kekurangan sedikit pun kecuali istri dalam hidup Arsenio.
" Yaya, gue yakin itu beneran cowok psiko yang nahan gue. Lo harus percaya sama gue, Lo tau kan kalau gue gak akan pernah bohong sama Lo dan gue juga gak mungkin salah ngenalin orang " tegas Bella meyakinkan sahabatnya itu.
" Hmm tapi besti Lo pernah salah kali waktu ngenalin guru waktu itu, udah capek-capek cari muka ternyata dia cuma ibu penjaga kantin yang baru " ujar Yaya.
" Waktu itu kan ada kesalahpahaman doang kali, tapi gue beneran yakin kok kalau itu beneran cowok psiko itu ya" kekeh Bella.
" yaudah gue percaya sama Lo. Dari pada ngomongin dia mending kita pergi jalan-jalan yuk sekarang, gue bosan dirumah " ajak Yaya untuk menyudahi perdebatan mereka tentang Arsenio.
" Lo gak ngampus sekarang?"
" Males masuk. Dosennya gak asik sekarang" jawabnya santai.
" Dasar Lo ya, padahal Lo sendiri yang bilang harus rajin belajar dan gak boleh bolos. Eh sekarang Lo malah bolos"
" Bella teman gue yang paling bego, dengerin gue baik-baik. Kata-kata gue tu cuma berlaku buat Lo aja karena Lo udah gak lulus 2 kali, kalau gue mah mau nakal apa enggak, gue tetap lancar-lancar aja sekolahnya " jelas Yaya. Bella langsung memukul kepala Yaya.
" Sakit bego!" keluh Yaya sembari memegangi kepalanya.
" Itu cocok buat Lo karena selalu aja ngejek gue. Yaudah kita cus sekarang nih?" sahutnya.
" Let's go"
Saat hendak keluar, dari balik jendela kamar Yaya tiba-tiba Bella mengehentikan langkahnya karena melihat sesuatu. Yaya yang sibuk dengan ponsel langsung saja berjalan menabrak Bella yang mendadak berhenti.
" Bella, Lo ngapain berhenti sih?" tanya Yaya.
Bella terus menatap keluar, Yaya pun akhirnya ikut melihat karena penasaran.
" Arsenio" ucap Yaya spontan. Bella mulai gemetar karena terbayang orang-orang yang telah dihabisi oleh Arsenio.
__ADS_1
" Yaya, gimana ini? dia pasti datang mau bunuh gue ya. Gue belum mau mati njir" ujar Bella khawatir. Ia mondar-mandir tak jelas karena rasa takut.
" Tenang bel, gue bakalan kebawah sekarang. Lagian dia kan gak tau kalau Lo ada disini. Mending Lo disini aja ya, gue bakalan cari tau kebawah" sahut Yaya menenangkan sahabatnya tersebut.
" Kalau dia bunuh Lo gimana ya? gue gak mau Lo kenapa-kenapa. Kita harus kabur sekarang Yaya" ajak Bella.
" Bella, dia gak akan berani. Lo lupa kalau gue juga punya keamanan yang ketat disini jadi dia gak akan bisa berbuat macam-macam disini bel. Gue bakalan aman kok, gue janji" jawab Yaya lalu segera meninggalkan Bella menuju ke tempat Arsenio.
Dibawah, Arsenio terlihat begitu akrab dengan orang tua Yaya.
" Pa, ada tamu?" tanya Yaya sambil duduk disebelah mamanya.
" Iya nak, kenalin dia mitra bisnis papa. Namanya Arsenio, dia pengusaha muda yang sangat sukses dan juga terkenal nak" ujar ayah Yaya memperkenalkan lalu ia berkata lagi" Arsen, dia putri semata wayang saya. Namanya Yaya, sekarang sedang kuliah semester 3 "
Mereka kemudian berjabatan tangan menyebutkan nama satu sama lain.
Dia gak seseram apa yang dibilang Bella, malah kelihatan baik dan lembut banget batin Yaya.
" Kalau boleh tau tuan Arsenio ada urusan apa kesini?" tanya Yaya langsung.
" Yaya, dia kolega bisnis papa jadi apa salahnya sih kalau main-main kesini" jawab ayahnya Yaya.
" Pak Burhan mengundang saya untuk makan siang bersama, tentu saya tidak bisa menolak keinginannya" timpal Arsenio.
" Mama udah siapin semuanya Yaya sayang, mending sekarang kamu ajak Bella untuk makan bareng dari pada kalian sibuk dikamar melakukan hal tidak berguna "
Mendengar nama Bella membuat Arsenio tersenyum tipis.
Bella, Lo gak akan semudah itu lepas dari gue batin Arsenio.
" Bella gak disini ma" ujar Yaya buru-buru.
" Bukannya kalian keatas bareng tadi"
" Iya tapi dia buru-buru pulang karena papanya manggil dia" jelas Yaya.
" Bella... Bella selalu saja membuat masalah untuk ayahnya" ucap mama Yaya.
" Kalau boleh tau Bella itu siapa?" tanya Arsenio pura-pura tak tau.
" Bella, dia anak teman sekolah suami ya. Dia sangat nakal bahkan tidak lulus sekolah 2 kali. Ayahnya selalu memanjakannya dan memaafkan segala kesalahannya tapi dia juga anak yang sangat baik dan dia teman baik Yaya " jelas mama Yaya.
" Bagaimana dengan ibunya?" tanya Arsenio lagi.
__ADS_1
" Ibunya sudah lama tiada. Sejak kepergian ibunya Bella semakin nakal dan tidak terkendali, apalagi ayahnya sibuk dengan perusahaannya sehingga tidak ada waktu untuk Bella. Bella selalu kemari untuk bermain bahkan menginap " jelasnya.
" Kenapa anda ingin tau tentang Bella ya?" tanya Yaya penasaran.
" Tidak apa-apa, saya hanya ingin bertanya saja" jawab Arsenio santai.
Mereka kemudian menuju meja makan untuk makan. Yaya tidak bisa menghindar dari makan siang itu karena ayahnya. Ya, pertemuan ini juga adalah rencana ayahnya untuk mendekatkan Yaya dan Arsenio. Selain keuntungan bisnis dia juga yakin akan membuat putrinya bahagia jika menikah dengan Arsenio.
Selesai makan mereka kembali berbincang-bincang sebentar lalu ayah dan ibu Yaya pergi meninggalkan Yaya dan Arsenio berdua diruang tamu. Yaya terus saja menatap tajam Arsenio.
" Papa sama mama udah gak ada, jadi mending ngomong biasa aja ya karena gue gak bisa ngomong formal lagi" seru Yaya memulai pembicaraan.
" Tentu sesuai kemauan nona" sahut Arsenio.
" Nama gue Yaya bukan nona, jadi panggil Yaya aja " protes Yaya.
" Oke Yaya"
" Heh! Serius deh, Lo gak mungkin kesini cuma mau makan siang doang kan. Gue tau pasti ada maksud lain Lo kesini kan" tuduh Yaya langsung.
" Saya kemari hanya atas kemauan pak Burhan, dia salah satu klien penting saya dan keinginan klien adalah perintah untuk saya"
Sementara Yaya dan Arsenio mengobrol, Bella sudah kelaparan berada dikamar.
" Yaya, lama banget sih. Gue laper banget lagi, disini gak ada yang bisa dimakan" keluh Bella kesal. Dia kemudian melihat dari balik jendela mobil dan pengawal Arsenio masih ada diluar.
Ibu Yaya tiba-tiba datang, hal itu sontak membuat Bella kaget.
" Bella, kamu disini?" tanyanya.
" Iya Tante, Bella disini" jawabnya sambil tersenyum tipis.
" Oh, tapi kata Yaya kamu udah pulang. tapi yaudah deh, ayo tante kenalin sama mitra bisnis ayahnya Yaya" ajak ibunya Yaya. Bella terlihat dalam dilema besar. Ia tak mungkin menolak ajakan ibu Yaya, tapi jika ia menerimanya maka mautnya akan semakin dekat.
" Udah bel, jangan kebanyakan mikir. Dia baik kok, Tante sama ayahnya Yaya juga niat pengen jodohin Yaya sama dia. Kamu bantu Tante ya, tolong bujukin Yaya" seru ibunya Yaya sembari menarik tangan Bella menuju ke ruang tamu.
Tante, Yaya gak boleh sampai nikah sama psikopat itu, tapi gimana cara gue jelasin ke Tante kalau cowok itu gak sebaik yang dia kira batin Bella. Pikirannya kini semakin amburadul.
" Arsenio, Kenalkan ini Bella temannya Yaya" ucap ibu Yaya yang membuat Yaya spontan melebarkan matanya. Bella terlihat menghadap belakang agar tidak dilihat oleh Arsenio.
Finally, ketemu kamu bocah nakal batin Arsenio.
" Bel, ngapa kamu menghadap belakang ayo kenalan sama Arsenio" pinta ibunya Yaya
__ADS_1