
Teriknya sinar matahari tidak menyurutkan semangat seorang gadis. Langkahnya tergesa-gesa karena ia ingin segera bertemu dengan laki-laki pujaannya. Sang pacar yang sedang menempuh pendidikan di Australia selama empat tahun akhirnya hari ini pulang ke Indonesia. Dengan tidak sabar gadis tersebut ingin bertemu sang pujaan hati.
"Amanda kau ini lari cepat sekali. Aku sudah tidak sanggup mengikuti langkah kaki mu. Aku menyerah saja lebih baik aku tidak ikut menjemput Adnan," ucap Raina ia berjongkok sambil menarik napas dalam-dalam karena kelelahan mengikuti langkah sahabat nya yang berlari menuruni anak tangga.
" His, kau ini makanya olah raga setiap hari biar ngga gampang capek. Cuma nurunin anak tangga segini aja udah capek sih." Bantah Amanda.
"Kau ini dasar bucin akut. Belum tentu Adnan senang ketemu kamu. Siapa tahu dia punya pacar di Australia."
Plak...
Pukulan di layangkan Amanda ke lengan sahabatnya Raina. Ia merasa tidak terima dengan perkataan sahabatnya yang bilang kalau pacarnya sudah punya wanita lain di Australia.
"Selama empat tahun kita baik-baik saja. Saling komunikasi dan dia juga serius denganku. Mana mungkin dia selingkuh dengan wanita lain."
Raina memutar bola mata nya malas. Rasanya percuma menasehati sahabatnya tersebut. Padahal sudah jelas bahwa sikap Adnan dua tahun terakhir ini berubah. Mulai jarang menghubungi Amanda. Selalu beralasan sibuk kalau mau diajak telepon. Itu adalah alasan yang tidak masuk akal untuk Raina. Sibuk? Kalau cinta itu sesibuk apapun harusnya di luangkan waktu bukan malah menghindar.
__ADS_1
"Baiklah terserah kau saja. Nanti kalau ada apa-apa jangan nangis kau. Dasar bucin akut."
"Sudah ayo, jangan debat aku harus segera menjemput Adnan di bandara."
Amanda kembali berlari menuju parkiran mobil tempat ia memarkirkan mobil. Sudah kebiasaan gadis ini kalau ia selalu terlambat entah itu kelas di kampus atau acara apapun itu gadis cantik yang ceroboh. Sifatnya sedikit manja karena menjadi anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga Aditama. Mempunyai seorang kakak laki-laki yang over protektif. Di perlakuan layak nya seorang putri di dalam keluarga. Hidup serba berkecukupan dan semua keinginan nya selalu terpenuhi menjadikan Amanda selalu bergantung kepada kakak dan kedua orang tuanya. Sudah dewasa tapi tetap saja manja dan cengeng.
"Baik, tuan putri. Astaga bucin akut kau ini dasar. Nanti kalau omongan ku terbukti kau jangan nangis."
Amanda hanya tersenyum mendengar ucapan Raina sahabatnya. Hal itu sudah biasa karena memang Amanda menyadari sikap kan sifatnya seperti anak kecil yang manja dan cengeng. Dia juga tidak ambil pusing akan ejekan orang terdekat karena hal itu sudah biasa.
"Hati-hati nyetirnya! Aku belum merasakan malam pertama." Ucap Raina asal.
"Kau pikir aku sudah pernah malam pertama. Aku juga belum pernah. Ciuman saja aku belum pernah."
"Kau ini pacaran empat tahun ngapain aja?"
__ADS_1
"Chat bilang cinta dan sayang."
"Hadeh, gadis bucin akut yang pacaran empat tahun ternyata masih polos."
"Kau pikir kita pacaran harus ngapain?" Bukannya menjawab Amanda malah bertanya balik kepada Raina.
"Tau lah, susah ngomong sama tuan putri yang bucin akut tapi ngga ngerti. Males jelasin capek aku."
"Dasar kau ini, awas saja ntar aku bales kau putri galak."
" Aku tunggu hari itu putri manja," Raina berbalik menantang Amanda dengan lidahnya yang menjulur ke depan.
Sahabat yang seperti saudara. Tanpa ada kata ragu untuk mengingatkan sahabat nya dan yang diingatkan juga tidak akan sakit hati atau merasa tidak terima. Bukankah seperti ini adalah pertemanan sejati? Tidak ada istilah jaga image. Karena sejatinya kita suka dengan orang menilai dengan hati.
Halo semua π€ ini karya pertama ku. Maaf kalau banyak kekurangan nya yaπ.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya kakaΒ² Makasih π