Cinta Dalam Rahasia

Cinta Dalam Rahasia
Omelan panjang putri galak.


__ADS_3

Amanda semakin kencang melajukan mobilnya. Ia tidak mendengarkan omelan Riana yang dari tadi menyuruhnya untuk mengurangi laju mobilnya.


Brak...


Mobil yang dikemudikan Amanda menabrak mobil lain yang ada di depannya yang mendadak berhenti.


"Auw," Amanda mengaduh karena keningnya terbentur stir mobil.


"Kau ngga apa-apa? Makanya kalau nyetir itu hati-hati aku sudah peringatkan kamu dari tadi. Putri manja yang ceroboh." Omel Raina.


"Sudah tahu masih nanya. Aku kesakitan bukannya di tanyain baik-baik malah di omeli dasar calon kakak ipar galak."


"Siapapun akan galak kalau kelakuan kamu seperti ini."


"Iya, putri galak. Maaf aku kurang hati-hati." Sesal Amanda.


"Kalau kau telat jemput Adnan kenapa? Biar dia yang nunggu lah. Lagian kau ini jadi cewek nyosor aja. Udah kelihatan itu cowok ngga peduli lagi sama kamu masih aja kamu berharap. Sadar Amanda , sadar!" Napas Raina naik turun. Ia tidak bisa membendung emosi yang sedang menguasai dirinya.


Tok... tok...


Ketukan di kaca mobil menghentikan perdebatan Amanda dan Raina.


Amanda segera menurunkan kaca mobil.


"Ada apa kak?" tanya Amanda dengan lirih. Suara nya sudah bergetar menahan tangis.


"Hadeh, dasar putri manja begitu saja nangis. Ini belum ketemu abang mu yang galaknya melebihi mak tiri. Kau bisa tidak diizinkan membawa mobil selamanya." Raina masih begitu emosi dengan apa yang terjadi pada Amanda. Ia hanya khawatir dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.


"Iya, maaf calon kakak ipar."


"Jangan katakan maaf berulang kali kalau kau ngga tahu arti maaf itu."

__ADS_1


Amanda tertunduk seperti anak kecil yang sedang menerima omelan sang mama. Bahkan Raina jauh lebih galak dari sang mama.


Pria yang sedari tadi melihat perdebatan dua orang dalam mobil tersebut hanya diam mengamati.


"Udahan berantemnya? Ngga seru kalau cewek ngga pakai adegan saling jambak rambut."


Dengan cepat Raina melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil. Dan membanting pintu mobil dengan keras.


"Hai, tuan kalau nyetir itu hati-hati. Kau membahayakan pengendara lain dengan berhenti secara mendadak seperti itu." Masih dengan napas yang menderu Raina melupakan emosinya kepada pria di hadapannya saat ini.


"Maaf kak, gue ngga sengaja. Mobil gue tiba-tiba mogok," sesal pria tersebut. Ia katup kan kedua tangannya di depan dada sebagai permintaan maaf kepada Raina.


Raina menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi emosi. Masih dengan wajah yang merah padam menahan luapan emosi yang kian membuncah. Rasanya tidak terima dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Jika perlu Raina akan menarik kerah baju pria yang ada di hadapan nya lalu ia akan layangkan tinjauan maut andalannya.


"Are you okay girl?" tanya pria tersebut kepada Amanda yang masih tertunduk dan cairan bening sudah lolos dari pelupuk mata.


Amanda hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Iya, kak. Aku ngga apa-apa," Amanda mengangkat kepalanya, pandangan mata nya bertemu dengan pria tersebut.


"Eh, jidat kamu terluka?"


"Sudah tahu luka masih tanya saja kau." Raina menimpali ucapan pria tersebut.


Pria tersebut tidak peduli dengan omelan Raina. Ia berjalan menuju ke mobil miliknya dan mengambil kotak obat.


"Sini aku obati," pria tersebut membuka pintu mobil dan memaksa untuk mengobati luka di kening Amanda.


Dengan sabar dan telaten pria tersebut membersihkan darah yang mengalir dan ia balut luka tersebut dengan plester. Amanda yang di perlakuan tersebut hanya diam. Begitupun Raina, ia hanya melihat dari luar dengan apa yang di lakukan pria tersebut.


"Selesai. Biar ngga infeksi. Mau ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Ngga mau." Tolak Amanda.


"Baiklah, aku minta maaf nona."


"Iya, aku juga minta maaf karena aku nyetir ngebut tadi."


"Lain kali jangan ngebut ya, hati-hati kalau bawa mobil!"


"Iya."


"Oh, aku lupa yang berdiri itu mak tiri mu ya? Galaknya ampun," bisik pria tersebut di telinga Amanda.


Amanda tersenyum mendengar bisikan pria tersebut. "Bukan, dia sahabatku dan sebentar lagi akan jadi kakak ipar ku."


"Kalau udah selesai cepat pergi tuan!" Raina menarik kerah baju bagian belakang pria tersebut.


"Sudah ayo kita ke bandara. Kau keluar! Biar aku yang nyetir." Pinta Raina.


Amanda keluar dari tempat kemudi. Ia menurut perintah sahabatnya.


"Hati-hati lain kali ya? Dan sampai ketemu lagi cantik." Ucap pria tersebut.


Amanda hanya memandang sinis pria tersebut. Ia segera memutari mobil dan duduk di dalam mobil.


Tanpa basa-basi Raina langsung melajukan mobilnya.


"Dia itu pria playboy. Jangan sampai kau ketemu dengan dia!" Raina memperingati Amanda.


"Kenal aja ngga ngapain aku ketemu dia. Iya kakak ipar yang galak."


Sementara pria yang masih berdiri di pinggir jalan tersebut tersenyum. Ia lihat plat nomor mobil yang ia foto tadi.

__ADS_1


"Kita akan ketemu lagi gadis cantik." Ucapnya penuh percaya diri.


__ADS_2