Cinta Dalam Rahasia

Cinta Dalam Rahasia
Menggali kembali rasa cinta.


__ADS_3

Pikiran Adnan tidak tenang, ia merasa kalau perasaannya kepada Amanda tidak seperti dulu lagi. Tapi saat bersama Amanda ia tidak tega untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Lama menjalin hubungan dengan Amanda karena jarak jauh membuat hati Adnan berubah. Ia tidak lagi peduli dengan Amanda. Selalu ada alasan untuk menolak panggilan telepon dari Amanda. Bagaimanapun juga Amanda tidak salah apapun. Rasanya tidak adil untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa sebab.


"Aku hanya perlu menggali lagi perasaan cintaku pada Amanda yang sudah mulai layu. Mungkin ini hanya perasaan bosan sesaat." Adnan berucap pada dirinya sendiri. Meyakinkan hatinya bahwa hubungan mereka baik-baik saja.


*


*


*


"Dari mana saja anak manja?" Teriakan yang begitu kencang menggema di ruang tamu sesaat setelah Amanda membuka pintu.


Amanda diam dan tidak berani menatap wajah orang yang meneriaki dirinya. Menundukkan kepala sambil tangan kanan meremas ujung dress yang ia kenakan. Seperti anak kecil yang sedang di marahi orang tuanya karena melakukan kesalahan.


"Kalau di ajak ngomong lihat orangnya, dek!" pinta pria tampan tersebut. Iya, dia adalah sang kakak Dava yang sedari siang mengkhawatirkan adik perempuan satu-satunya.

__ADS_1


Tak terhitung Dava melakukan panggilan telepon ke adik ataupun ke sahabatnya Raina. Dan semua itu nihil. Semakin menambah rasa khawatir Dava karena orang tua mereka saat ini sedang di Lombok untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya.


"Iya, maaf kak." Ucap Amanda lirih.


"Kau pikir setelah minta maaf semua selesai? Untuk apa kau punya ponsel? Buang saja kalau kau tak butuh!"


"Enak saja main buang aja. Ini belinya pakai uang bukan pakai daun kakak." Tolak Amanda.


"Siapa bilang belinya pakai daun? Lagi pula aku juga yang membelikan ponsel itu kan?"


"Iya, kakak yang belikan saat ulang tahun bulan lalu."


"Kakak keterlaluan. Mobilku di bawa Adnan."


"Sudah pulang dia dari Australia?"

__ADS_1


"Sudah. Aku mau mandi dulu, gerah," pamit Amanda. Ia harus segera menghindari omelan sang kakak kalau tidak bisa tambah panas telinganya.


"Kakak belum selesai bicara."


"Aku mau mandi kakak. Seharian aku di luar ini aja masih bau sedap asem gimana gitu," elak Amanda. Ia memasang wajah imut dan berucap dengan pelan. Ini adalah jurus andalannya untuk menghindari sang kakak.


"Yasudah sana." Jawab Dava.


Dengan senyum penuh kemenangan Amanda berlari menaiki tangga menuju kamar.


Dava tersenyum serta mata tak lepas memandang sang adik. Adik kecilnya kini sudah dewasa ternyata. Dava tidak bersungguh-sungguh memarahi Amanda. Ia hanya ingin memberi pelajaran kepada sang adik.


Amanda menanggalkan semua pakaiannya. Ia masuk ke dalam bathub, berendam dengan busa yang berlimpah yang beraroma vanilla yang menenangkan. Serta memutar musik klasik kesukaannya. Seolah lelah raga hari ini hilang begitu saja.


Setiap orang punya cara tersendiri untuk membuat hilang rasa lelah. Ada yang tidur seharian di kamar. Ada yang melakukan perawatan rambut di salon.

__ADS_1


"Aku merasa Adnan sedikit berbeda. Apakah hanya perasaanku saja." Amanda berucap pada dirinya sendiri.


"Ah, sudahlah. Kalau dia bosan dengan ku harusnya bilang. Tadi ngga ngomong apa-apa juga. Malah ia mau melamar beberapa bulan lagi. Itu artinya ia masih mencintaiku." Lanjutnya kemudian. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa hubungan nya dan Adnan baik-baik saja.


__ADS_2