
Jangan salahkan jarak di antara kita, tapi salahkan hatimu mulai ragu akan rasa itu. Cinta itu tentang rasa yakin dan percaya. Bukan tentang ragu dan selalu bertanya apa itu makna sebuah rasa.
Daun yang patah jatuh ke tanah, terpapar matahari terombang-ambing dalam tiupan angin. Mengeringkan dahaga akan rasa tiada arah, membawa sebuah ragu dalam melangkah untuk menepi yang pasti. Hal inilah yang dirasakan Adnan saat ini, ia mulai meragu akan rasa cintanya pada Amanda. Hubungan mereka tak hanya sebentar, namun sudah terjalin lama, apakah jarak telah mengikis semua rindunya selama ini?
Huft, Adnan menghembuskan napasnya kasar lalu menatap Amanda yang sedang memilih pernak pernik disebuah outlet dekat bianglala. Dalam hatinya berfikir, mungkin ini hanya perasaan canggung karena lama tidak bertemu. Tidak mungkin rasa cintanya menghilang untuk orang terkasih.
"Ada yang kau suka?" tanya Adnan seraya berjalan mendekati Amanda.
"Sayang, lihat gelang couple itu!" Tunjuk Amanda pada sepasang gelang bertuliskan inisial huruf A. Adnan melirik ke arah gelang yang ditunjuk Amanda, lalu mengangguk "Kita akan membelinya jika begitu". Adnan segera meminta gelang itu di bungkus lalu menyerahkannya kepada Amanda.
"Ambillah!" Kata Adnan dengan tersenyum.
"Terimakasih sayang, ini untukmu satu." Amanda memasangkan di tangan kiri Adnan.
"Dan ini untukku," Amanda memakai satunya di tangan kanannya.
"Aku berharap gelang ini akan mengikat kita selamanya sampai ajal memisahkan." Lanjutnya.
"Tentu," jawab Adnan sembari mengecup kening Amanda.
"Baiklah, ayo kita kembali! Ini sudah sore, aku nanti malam harus bertemu temanku."
Mendengar Adnan akan bertemu temannya, membuat Amanda cemberut. Apakah temannya laki-laki atau justru perempuan? Amanda ingin bertanya namun dirinya terlalu takut jika nanti Adnan marah. Bagaimana jika nanti Adnan berfikir jika dia gadis yang terlalu protektif? Amanda menghembuskan napasnya kasar, dirinya harus bisa mempercayai Adnan. Tak mungkin Adnan akan mengkhianati cinta mereka.
Dengan enggan, Amanda mengangguk setuju pada ajakan Adnan untuk kembali.
Adnan menggenggam tangan Amanda lalu berjalan meninggalkan taman bermain. Sebenarnya Adnan tahu apa yang dipikirkan Amanda, namun dirinya lebih memilih diam dan enggan menjelaskan dengan siapa ia akan bertemu nanti. Lagipula itu hanya teman laki-lakinya saja.
*
__ADS_1
*
*
Adnan segera memasuki cafe, ditatapnya sekeliling mencari keberadaan temannya itu. Tak lama pandangannya tertuju pada sosok tegap yang melambaikan tangan ke arahnya. Dengan langkah pasti ia menghampiri meja temannya berada.
"Apa kabar bro?" Tanya Adnan seraya ber-tos ala laki-laki.
"Baik bro, lo apa kabar?" Tanyanya balik.
"Gue baik, hati gue yang gak baik." Ucap Adnan seraya meletakkan ponselnya di atas meja.
"Cerita aja bro, siapa tahu gue bisa bantu kasih lo solusi." Ujarnya.
"Gue bingung harus mulai dari mana Ken,"
Yups, laki-laki itu adalah Kenan. Orang yang ditabrak Amanda saat terburu-buru ke bandara dan di taman hiburan tadi.
"Lo mau pesan apa bro?" Tanya Kenan sembari membuka buku menu.
"Mocca " singkat Adnan.
Kenan mengangguk lalu menatap witers, "Saya cappucino aja ya mbak." Kata Kenan ramah dengan mengembalikan buku menunya.
"Baik, ditunggu ya mas." Ucap sang witers yang di angguki Kenan.
Untuk beberapa saat keduanya saling diam dan sibuk dengan ponsel masing-masing hingga kedatangan witers yang mengantar minuman mereka.
"Terima kasih," ucap Kenan yang ditanggapi senyuman manis oleh sang witers. Berbeda dengan Adnan yang memasang muka biasa saja bahkan acuh.
__ADS_1
Pandangan Kenan beralih menuju Adnan, "Apa yang menjadi pikiranmu bro? Tentang hati kah?" Tebak Kenan.
"Γmm, jujur gue bingung sama hati gue saat ini Ken. Lo tahu kan cewek gue kan?". Tanya Adnan.
"Iya, napa emangnya?"
" Entah kenapa hati gue ngerasa biasa aja tiap dekat dia, maksud gue seperti tak ada getaran apapun hanya ada rasa jenuh dan bosan Ken. Dan gue gak tahu, apa gue masih cinta dan sayang nggak sama dia. Karena disisi lain gue udah janji bakal nikahin dia secepatnya. Cuma kenapa gue ragu? Selain itu, gue juga nggak mau kehilangan dia." Keluh Adnan.
"Tunggu, setahu gue bukannya kalian udah lama jalin hubungan? Lalu kalian LDR kan?" Tanya Kenan mencoba memahami apa yang dirasakan oleh temannya ini.
"Kita emang LDR selama gue di luar negeri Ken."
"Mungkin ya bro, kalau menurut gue nih. Ini efek pertemuan karena kalian habis LDR. Kalian terbiasa via maya lalu sekarang bertemu kembali pasti timbul rasa begitu bro. Tapi itu gue balikin lagi ke lo, ada bahagia nggak selama jalani hubungan sama cewek lo ini? Kalo selama ini lo bahagia dan bisa jadi diri lo sendiri artinya lo cinta dan sayang sama dia. Buktinya lo takut kehilangan dia." Jelas Kenan.
Adnan mencerna semua ucapan Kenan, memang apa yang dibilang Kenan benar adanya. Selama menjalani hubungan dengan Amanda, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Mungkin benar ini hanya rasa canggung sesaat setelah sekian lama tidak bertemu. "Kurasa kau benar Ken, rasa cinta dan sayangku tetap untuknya dan akan selalu untuknya." Ucap Adnan namun berbanding terbalik dengan hatinya yang justru ragu.
"Coba yakinkan hati lo, karena kan bakal ada rencana nikahin itu cewek. Jangan sampai lo ntar malah nyakitin dia." Saran Kenan membuat Adnan terdiam.
Lama hubungan tidak akan menjamin bertahan suatu hubungan. Yang menikah saja banyak yang berpisah apa lagi hanya sebatas pacar seperti Adnan dan Amanda. Rasa cinta akan hilang kalau tidak di pupuk. Jarak jauh tidak menjadi masalah utama perasaan Adnan berubah kepada Amanda. Tapi, tidak adanya komunikasi yang baik jadi salah satu pihak menjadi ragu soal hubungan yang di jalin.
"Iya, gue pikirin lagi. Dia baik bro sayang sekali kalau gue ngga dapetin dia. Tapi, agak sedikit manja."
"Asyik lah bro cewek manja gitu. Bisa ber manja sama kita. Gue suka cewek yang sedikit manja malahan."
"Gue lebih suka cewek yang mandiri bro. Cewek gue itu anak bungsu putri satu-satunya punya kakak cowok yang over protectif banget diajak keluar malam dikit aja udah telepon terus." Keluh Adnan.
"Cewek terlalu mandiri itu agak gimana gitu menurut gue bro. Bisa-bisa kita ngga ada fungsinya nanti. Soal kakak cewek lo itu, wajar seorang kakak gitu sama adiknya. Apalagi cewek lo anak bungsu." Jelas Kenan.
"Iya juga sih bro. Gue ragu tapi juga ngga mau kehilangan dia. Ini gara-gara kita LDR jadi hambar hubungan kita."
__ADS_1
"Salahkan hatimu bro, kenapa berubah. Jangan salahkan jarak diantara kalian," pinta Kenan.
"Gue tanya, apa lo pernah suka cewek lain saat di Australia?"