
Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan, kini Amanda dan Adnan telah sampai di taman bermain. Dengan penuh semangat Amanda menggandeng Adnan menuju beberapa tempat permainan. Adnan pasrah saja, ia malas untuk berkomentar.
2 karcis masuk wahana bianglala telah di kantongi, Amanda tak sabar untuk menaikinya bersama Adnan. Membayangkan saja membuatnya malu-malu, ia banyak melihat di sebuah film saat naik bianglala berdua dengan kekasih maka nanti akan berciuman. Astaga apa yang sedang kau pikirkan Amanda, gumam Amanda dalam hatinya dengan muka meronanya.
Sambil menunggu antrian naik, Amanda meminta ijin kepada Adnan untuk ke toilet sebentar. Ia sudah tak tahan lagi menahan buang air kecilnya. Adnan menawarkan untuk mengantarkan namun Amanda menolak karena ia hanya sebentar saja.
"Aduh, mana sih toiletnya?" Kesal Amanda yang tak jua menemukan toiletnya. Karena tak memperhatikan jalan serta terburu-buru, Amanda tak sengaja menabrak seseorang.
Bruk!
Karena tubuh Amanda yang mungil, tak khayal dirinya terjatuh saat menabrak sesuatu yang keras di depannya seraya meringis.
"Aduh," ucap Amanda saat pantat kecilnya mencium tanah.
Sedangkan lelaki didepannya menatap intens wajah imut Amanda, ia merasa pernah bertemu gadis ini. Tapi dimana? Tanyanya dalam hati.
Seolah tersadar jika ada yang menatapnya, Amanda menengadahkan kepalanya ke atas guna melihat apa yang ditabraknya. Amanda cukup membulatkan matanya saat mengetahui siapa laki-laki yang ada di depannya kini.
"Kamu," tunjuk Amanda tak percaya.
__ADS_1
"Iya?," Bingung laki-laki itu. "Kita seperti pernah bertemu, namun aku lupa." Lanjutnya.
"Tentu saja," sewot Amanda. Dengan memegang pantatnya, Amanda bangkit berdiri seraya meninggalkan laki-laki itu tanpa kata. Sontak tingkah Amanda membuatnya terheran-heran.
"Ada apa dengan gadis itu? Ku rasa seperti pernah bertemu, tapi-"
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, kini ia ingat dimana pernah melihat gadis itu. Sial!, Umpatnya.
"Bagaimana kau bisa lupa Kenan sama bidadari kemarin?" Ucap Kenan seraya mengacak rambutnya.
"Aku harus mencarinya," Kenan mencoba mengejar Amanda, namun sayang ia kehilangan jejak.
*
*
*
"Kenapa lama?" Tanya Adnan begitu Amanda tiba didepannya.
__ADS_1
"Aku mesti nyari letak toiletnya dulu sayang," jawab Amanda.
"Nggak ada yang lain?"
Amanda menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu menarik tangan Adnan segera untuk naik ke dalam bianglala.
Di sisi lain, Raina bersedekap dada di depan Dava. Ia marah pada calon suaminya ini, bagaimana membiarkan Amanda pergi dengan Adnan berdua saja.
"Kamu tahu kan mas, dia laki-laki nggak baik buat Amanda." Ketus Raina.
"Aku tahu bee, melihat pancaran kebahagiaan dimata Amanda membuatku tak tega untuk melarangnya." Lirih Dava. Ia mengerti mengapa Raina tak menyukai Adnan, karena menurutnya Adnan tidak serius dengan Amanda. Hal itu juga ia rasakan saat pertama kali bertemu dengan Adnan.
Raina menghela napas, lalu memeluk Dava dari samping. "Mas, kita sama ingin yang terbaik untuk Amanda. Aku juga nggak akan rela jika Amanda dimainkan oleh Adnan, jika hal itu terjadi mas, maka aku sendiri yang akan menghajar habis Adnan." Geram Raina, sebagai calon kakak ipar Amanda sudah sepantasnya ia akan melindungi Amanda walau harus sedikit mengekangnya.
"Galaknya calon istriku," goda Dava dengan mencolek hidung Raina manja.
"Apaan sih mas," muka Raina bersemu merah. "Yuk jalan! Kita cari makan mas." Ajak Raina.
"Baiklah." Dava meraih kunci mobilnya di atas meja, lalu menggandeng tangan Raina menuju mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya.
__ADS_1