
Mala terkejut dengan apa yang dikatakan atasnya tersebut. Kalau pria lain di luar sana pasti akan diam melihat Mala yang berpakaian mimin seperti itu.
"Bapak tadi bilang apa?" tanya Mala pura-pura tidak dengar ucapan Dava. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Dava.
"Besok, kau ke penjahit betulin pakaianmu itu!" Jawab Dava dengan tegas.
"Baik pak." Tanpa membantah atasannya Mala berjalan keluar dengan cepat.
Maksud hati ingin menggoda Dava malah berujung ia yang di malu sendiri. Atasannya tersebut memang terkenal dingin kalau soal urusan wanita. Bahkan dirinya tidak pernah melihat Dava membawa wanita ke kantor. Yang datang hanya sang adik Amanda bersama sahabatnya Raina.
"Apa pak Dava itu, jeruk makan jeruk ya? Selama aku menjadi sekretarisnya belum pernah melihat pak Dava pergi bersama wanita selain adiknya." Ucap Mala pada dirinya sendiri ia bergidik ngeri membayangkan Dava itu seorang homo seksual.
***
Mobil yang dikemudikan Adnan berhenti di sebuah restoran. Dari tadi Amanda sudah mengeluh lapar.
"Hah, aku lapar sekali," keluh Amanda sambil membuka pintu mobil.
Raina dengan cepat mengikuti Amanda. Tapi tidak dengan Adnan. Pria itu masih diam di dalam mobil. Seolah ada ganjalan dalam hati pria tersebut. Bukankah seharusnya ia senang bisa menghabiskan waktu dengan sang kekasih. Tapi tidak dengan Adnan.
Raina dan Amanda sudah berdiri di depan mobil. Mereka sedang menunggu Adnan.
__ADS_1
"Tumben ponselmu tidak bunyi dari tadi?" Tanya Raina.
"Oh, iya. Aku lupa menyalakan ponselku. Pasti si kakak gila itu menelepon ku dari tadi. Aduh, bagaimana ini? Aku pasti kena omel nanti." Jawab Amanda penuh ke khawatiran.
Raina menepuk jidatnya pelan. "Dasar putri manja. Kau begitu saja lupa. Di saat semua orang tidak bisa meninggalkan ponselnya kau justru mengabaikan ponselmu."
"Ini karena kakak ku yang gila itu Raina. Bayangkan saja aku harus laporan setiap saat kalau sedang di luar. Posesif nya kakak ku melebihi Papa dan Mama. Aku ngga suka di kekang seperti ini. Aku sudah dewasa dan aku bisa jaga diri. Aku tidak akan bisa berkembang kalau mereka terus seperti ini padaku." Jelas Amanda.
"Mereka hanya khawatir padamu. Itu adalah bentuk kasih sayang kakak kepada adiknya."
"Itu bukan khawatir. Tapi, itu bentuk ketidak percayaan mereka padaku. Selalu ragu dengan apa yang aku lakukan."
"Iya, selalu itu saja yang kau katakan. Coba kau jadi aku sahari saja!"
"Kau pilih di abaikan di buang tidak di akui atau kau di lindungi dan banyak mendapatkan cinta?"
"Tentu saja aku..." Amanda tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Ia selalu kalah debat dengan sahabatnya tersebut. Raina tidak juga adalah tipe orang yang tidak mau kalah kalau sedang berdebat.
"Kau tidak bisa menjawabnya kan? Sudahlah kau harusnya bersyukur!"
__ADS_1
"Iya."
"Kalian sedang berdebat apa?" tanya Adnan yang sudah berdiri di depan Amanda.
"Ngga ada. Ayo, kita masuk!" pinta Amanda.
Raina berjalan lebih dulu mendahului sepasang kekasih tersebut. Rasanya ia enggan melihat kemesraan antara Adnan dan Amanda yang terlihat palsu di mata Raina. Lebih tepatnya Adnan yang terlihat tidak tulus mencintai Amanda.
"Kau rindu makanan Indonesia kan?"
"Iya."
"Nanti kalau kita menikah. Aku akan memasak setiap hari."
"Kau bisa masak honey?"
Amanda tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sekarang belum bisa. Tapi, nanti kita sudah menikah aku pasti bisa masak."
Adnan menghembuskan napas kasar. Ia sedikit kecewa dengan apa yang di katakan Amanda. "Aku pikir kau sudah bisa memasak."
Adnan semakin ragu untuk menikahi Amanda. Ia sendiri juga bingung akan perasaan nya. Amanda wanita yang baik tapi ada ganjalan di hati Adnan yang membuat nya ragu untuk menikahi kekasihnya tersebut.
__ADS_1