
Menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit Amanda dan Raina tiba di Bandar udara Husein Sastranegara.
Amanda berlari menerobos gerombolan orang. Kupu-kupu seperti terbang di relung hati. Tidak sabar untuk bertemu sang kekasih. Senyum tak surut dari bibir manisnya.
"Dasar bucin akut. Dulu tante ngidam apa waktu hamil ya?" Raina geleng-geleng kepala melihat kelakuan Amanda.
Langkah Amanda terhenti. Seorang pria memakai kaos warna biru memakai celana jeans berjalan mendekat ke arah nya dengan senyum manis.
"Halo, honey apa kabar?" sapa Adnan kedua tangan terulur ke depan.
Tanpa menjawab Amanda menjatuhkan dirinya ke pelukan Adnan. Rindu rasa membuncah debaran jantung kian kuat terpacu rasa ingin keluar. Wanita ini begitu senang bertemu dengan sang kekasih.
"Kabar ku baik, honey," jawab Amanda lirih tanpa ingin melepas pelukan Adnan.
Raina yang melihat keduanya hanya memutar bola mata malas. Entah kenapa ia tidak suka melihat sahabatnya tersebut yang terlihat bucin kepada Adnan. Sebenarnya Raina tidak setuju dengan hubungan Amanda dan Adnan. Raina juga tidak mengerti apa yang ia rasakan. Seolah tak rela kalau Amanda bersama Adnan. Terlalu cuek jadi pria dan selama hubungan jarak jauh lebih sering Amanda yang menghubungi dari pada Adnan. Bukankah tidak ada alasan sibuk untuk orang yang kita cintai?
__ADS_1
"Ayo, kita pulang! Ini sudah sore nanti tante khawatir." Teriak Raina dengan sengaja. Ia seolah tak rela melihat sahabatnya di peluk erat oleh Adnan walaupun pria itu adalah kekasih sahabatnya.
"Iya ayo!" Amanda melepas pelukan Adnan ia segera berjalan mengikuti Raina.
Adnan menarik napas dalam-dalam. "Masih sama manja seperti dulu."
"Ayo, honey!" ajak Amanda yang melihat Adnan tidak bergerak dari tempat ia berdiri.
"Iya."
Di dalam mobil Raina hanya diam. Hari ono mood nya benar-benar jelek. Lelah menuruni anak tangga. Kecelakaan di jalan yang mengakibatkan Amanda terluka. Belum nanti ketemu Dava pasti di tanya ini itu. Sungguh pusing rasanya memikirkan omelan Dava.
"Aku lelah."
"Honey kening mu kenapa?" tanya Adnan saat baru menyadari kalau sang kekasih terluka.
__ADS_1
"Emm, ini tadi terbentur stir waktu kecelakaan."
"Kok bisa?"
"Aku sedikit kencang mengemudikan mobil dan menabrak mobil lain yang berhenti mendadak," jelas Amanda.
"Kau ini ketemu dari tadi kenapa baru sadar?" celetuk Raina.
"Aku tidak memperhatikan."
"Ck, sudah pelukan tapi tidak sadar. Pacar macam apa kau ini."
"Sudah Raina! Adnan pasti lelah dan dia juga tidak menyadari kalau aku terluka." Amanda ikut menimpali. Ia merasa tidak terima Raina memojokkan Adnan.
"Bela saja terus. Kau ini sadar lah, jangan terlalu bucin jadi wanita. Di sakiti kau merana baru tahu rasa."
__ADS_1
"Curhat ya kakak ipar?" tanya Amanda sambil tertawa. Ia tahu betul Raina tegas sebagai wanita karena dulu ia pernah di sakiti oleh seorang pria sehingga menjadikannya keras hati.
Pengalaman hidup adalah proses mendewasakan kita dengan baik. Selalu belajar dari masa lalu. Tidak hanya dari kesalahan kita belajar, tapi juga dari rasa sakit kita belajar. Menjadikan kita lebih keras dan tidak mudah untuk dipatahkan lagi. Menjadi pribadi lebih baik dengan versi terbaik. Luka itu membuat terpuruk tapi juga membuat bangkit jadi pribadi yang tak gampang tumbang.