
Raina pernah di sakiti mantan pacarnya. Membina hubungan dari SMA pernah terucap ingin membina bahtera rumah tangga hanya tinggal harap. Kekasihnya selingkuh dengan teman kantor. Saat itu Raina hancur dan dia mulai menutup diri terhadap pria. Sifat nya sedikit lebih keras dari sebelumnya. Dan ia tidak mudah percaya dengan pria.
Pengalaman adalah guru terbaik baik manusia. Saat terpuruk dan sedih kamu akan jatuh di dasar lautan paling dalam. Tapi saat itu kalau hati bisa dengan rela menerima kau akan bangkit dengan sayap baru dan akan menjadikanmu lebih baik.
"Kau ini kadang kalau bicara suka benar ya putri manja," ucap Raina sambil tertawa.
"Aku ngga akan nyakitin kamu, honey. Kita sudah pacaran lama dan aku sudah janji kita akan menikah," Adnan ikut menimpali. Ia berucap dengan yakin dan pandangan mengarah ke Amanda.
"Honey, kau serius?" tanya Amanda.
"Iya, aku akan ke rumah mu bersama papa dan mama. Mungkin sekitar tiga atau empat bulan lagi."
"Kapan pun itu, aku akan setia nungguin kamu."
"Makasih ya honey. Kamu pacar yang pengertian."
"Pengertian apa bodoh?" Celetuk Raina.
"Raina kau ini kenapa sih? Ngga suka banget lihat aku bahagia. Adnan sudah ada niat baik. Dia serius sama hubungan kami. Jadi, aku ngga mau lagi dengar kamu bilang kayak gitu," Amanda berucap dengan penuh penekanan.
"Aku hanya bercanda, kau ini kayak baru kenal aku sehari dua hari aja sih." Bantah Raina.
"Bercandanya ngga lucu."
__ADS_1
Adnan masih fokus pada kemudi. Jalanan Bandung yang macet di sore hari dan mendengarkan perdebatan dua wanita menambah rasa lelah Adnan. Ia berkali-kali menghela napas panjang. Mau debat dengan Raina rasanya percuma dan ia juga ribut ingin ribut dengan sang kekasih.
"Hem, kesayanganku marah ya? Nanti kita ke indoapril beli es krim vanilla kesukaanmu. Atau mau makan seblak level pebinor?" Rayu Raina.
Amanda tersenyum. "Eh, ada seblak level pebinor? Setahuku pelakor deh."
"Pebinor itu, beehh sadis kalau udah beraksi. Dia pura-pura cupu padahal suhu." Jelas Raina.
"Sok tahu sekali kamu sih."
"Mending aku sok tahu kan terlihat pintar. Dari pada aku pintar tapi pura-pura bodoh." Ucap Raina tajam sambil lirikan mengarah ke Adnan. Ucapannya penuh maksud.
Amanda adalah wanita manja dan polos. Ia tidak pernah curiga kepada Adnan atau siapapun. Terlalu di manjakan di keluarga menjadikan ia sulit mandiri.
Di kantor Dava terlihat gelisah. Dari tadi sang adik susah sekali dihubungi.
"Kau kemana gadis manja? Ponsel tidak aktif bikin aku khawatir. Lihat saja nanti uang jajan mu ku potong." Dava berucap lirih pada dirinya sendiri.
Amanda dan Raina sama-sama tidak bisa dihubungi semakin membuat khawatir Dava. Dua gadis yang ia sayang pergi entah kemana dan tidak ada kabar dari siang.
Tok... tok...
"Boleh saya, masuk pak?" suara dari luar pintu menyadarkan Dava dari lamunannya.
__ADS_1
"Silahkan!"
Seorang wanita cantik dengan pakaian yang sedikit ketat dan rok di atas lutut berjalan dengan pelan kearah Dava. Membuat siapapun akan terpesona jika memandangnya. Seksi dan sungguh menggoda untuk penyejuk mata pria mata keranjang.
"Ini laporan penjualan minggu ini pak." Ucap Mala saat sudah berada di hadapan Dava. Ia adalah sekretaris Dava.
"Tinggal saja, aku lihat nanti."
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi." Pamit Mala.
"Iya, makasih."
Mala berjalan dengan keluar dengan wajah yang cemberut. Beberapa kali ia menggoda Dava tapi tidak berhasil. Usahanya terasa sia-sia.
"Mala tunggu sebentar!" Panggil Dava.
Dengan senyum yang mengembang Mala membaik tubuhnya. "Ada yang bisa saya bantu, pak?"
"Besok kau pergi ke penjahit untuk membetulkan pakaianmu yang kurang bahan itu," pinta Dava.
Halo guys π€ jangan lupa like dan komen ya
Makasih π
__ADS_1