
Singapura 07.00 waktu setempat.
Alvino, putra pertama pasangan Roi dan Silvi. Diusianya yang ke 20 tahun, kedua orang tuanya melepas putranya itu untuk memimpin perusahaan otomotif warisan dari kakeknya Michel Chen. Bermodalkan kepintaran yang di atas rata-rata, Alvino mendapat kepercayaan dari pemegang dewan tertinggi di perusahaan Chen untuk memimpin perusahaan tersebut.
Hari ini adalah hari pertama Alvino berada di kota Singapura, setelah semalam ia terbang dari Jakarta. Ia tinggal di apartemen milik orang tuanya, Roi dan Silvi mempunyai beberapa apartemen di Singapura. Apartemen tersebut ada yang merupakan pemberian orang tuanya dan ada juga yang dibeli oleh mereka sendiri.
Alvino tinggal di apartemen dan tidak jauh dari perusahaan yang dipimpinnya. Meski tinggal sendiri, Alvino adalah sosok yang mandiri. Ia tidak pernah mendatangkan seorang asisten rumah tangga di apartemennya, mulai dari bersih-bersih dan memasak semua dilakukannya sendiri.
Pagi ini Alvino akan berangkat ke perusahaannya. Ia sudah rapi dengan stelan jasnya. Papihnya, Roi sudah memberitahu, kalau dirinya akan di jemput oleh asistennya.
Ting..tong...
Alvino yang sedang duduk meneguk kopinya, berjalan mendekati pintu.
Krekk...
"Good Morning, tuan." seseorang dari balik pintu menyapa Al dengan penuh hormat.
"Pagi..." Alvino menganggukan kepalanya dan membiarkan asistennya itu masuk.
" Pagi ini, rapat sudah saya siapkan. Tuan akan memimpin rapat tepat pukul delapan."
__ADS_1
Alvino melihat jam mewah yang melingkar di tangannya.
"Setengah jam lagi." Al mengangkat gelas yang masih berisi kopi yang sudah ia teguk tadi.
" Kau lupa memberitahu namamu. Aku harus memanggilmu siapa?" Al berdiri sambil merapikan pakaiannya.
"Saya Pedro, tuan. Maaf saya lupa memperkenalkan diri. Saya mengira tuan besar sudah memberitahu siapa saya."
"Hmm. Sebaiknya kita berangkat sekarang." Al mengambil tas yang sudah ia siapkan sedari tadi, baru saja ia hendak berjalan, Pedro menghalanginya.
"Mari saya bawakan, tuan." Pedro mengambil tas dari tangan Alvino.
" Thank You." Alvino berjalan cepat menuju keluar apartemennya. Mereka siap berangkat untuk mulai bekerja.
*
*
"Selamat pagi, tuan." Meskipun berada di Singapura, para karyawan di perusahaannya ternyata mayoritas orang Indonesia, sehingga mereka masih menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun sekali-kali dicampur dengan Bahasa Inggris.
Alvino hanya mengangguk dan terus berjalan diantara para pekerjanya, hingga ia memasuki lift yang akan membawanya ke lantai paling atas, sebagai ruangan khusus CEO.
__ADS_1
"Pedro. Kau boleh menyiapkan meeting hari ini." Alvino menatap sebentar kursi dan meja yang akan dipakainya untuk bekerja.
"semuanya bersih." Alvino mengguman dalam hati.
"Segera, tuan." Pedro meletakkan tas yang dipegangnya sedari tadi di meja.
Alvino mengangguk mengisyaratkan Pedro bisa meninggalkannya untuk menyiapkan meeting hari ini, hari pertama ia bekerja.
Bukan hal yang sulit bagi Alvino untuk menjalankan perusahaan, karena semasih duduk di bangku kuliah pun, ia sudah dipercayakan papihnya, Roi, untuk memimpin perusahaan yang berada di Indonesia.
Tret..tret.. Ponsel Alvino bergetar.
Alvino menatap ponselnya, sudut bibirnya melengkung.
" Mami." Al melihat wajah Silvi yang menghubunginya dengan video call. Wanita diseberang ssna tersenyum melihat wajah putranya.
"Al, kau kelihatan segar dan bersemangat."
"Mami tidak menanyakan aku, sudah sarapan atau belum?" Alvino menggoda Silvi.
" Mami tahu kau orang yang disiplin dengan hal itu, makanya mami tidak keberatan melepasmu tinggal di situ." Silvi menjawan pertanyaan putranya dengan senyum yang tidak hilang di wajahnya.
__ADS_1
Alvino terkekeh, ia tahu, ia sangat diandalkan oleh kedua orang tuanya. Dan satu lagi, ia sangat dipercaya dalam keluarga besar Chen.