
Pertemuan yang tidak di sengaja antara Alvino dan Melinda di sebuah restoran membuat Melinda yakin untuk mendapatkan perhatian lebih dari pria yang menurutnya terlalu sombong itu. Sejak malam itu Melinda akan bertekad mencari perhatian dari Al, bagaima caranya? Melinda mulai memikirkan kira-kira langkah apa yang akan dilakukannya, hingga terbersit dalam benaknya sesuatu, mengirim buket bunga jepada Al
Pagi-pagi sekali Melinda sudah sibuk di salah satu florist langganannya. Ia bermaksud memilihkan langsung bunga serta aksesoris yang akan dipakai, sebenarnya bukan karena ia menyukai atau tertarik kepada Al, melainkan satu trik yang dirancangnya agar Alvino mengaguminya.
" Tolong kirimkan ke perusahaan ini, atas nama Tuan Alvino." Setelah beberapa bunga yang dipilihnya langsung selesai ditata, Melinda memberikan alamat kepada kurir yang akan mengantarkan bunga untuk Alvino.
"Baik, bu."
Senyum tipis terbit begitu saja di bibir Melinda, ia ingin secepatnya tahu bagaimana reaksi tuan muda pemimpin perusahaan Two Win itu.
Setelah meninggalkan Florist, Melinda langsung berangkat untuk bekerja, Aries asistennya pasti sudah mencarinya.
*
*
Pedro mendapat pemberitahuan dari customer service ada kiriman bunga untuk tuan Alvino.
__ADS_1
"What? Bunga." Pedro mulai berpikir dan mengingat-ingat, apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang bossnya itu, memang hubungan atasan dan bawahan antara mereka masih terhitung bulanan, tapi Pedro sudah mengantongi semua tentang tuannya itu, karena sebelumnya Roi sudah memberitahu dan ia juga mencari informasi tentang atasannya itu.
Dua hari ini ia begutu sibuk, selain mengurusi pekerjaannya di kantor, ia juga mengurusi adik dan sepupu Al, Elvina dan Stephanie. Hal ini membuat Pedro yakin kalau ia mungkin melewatkan sesuatu tentang bosnya itu.
" Siapa yang mengirimkannya?" Pedro bertanya kepada dua orang customer service yang bertugas pagi itu.
"Nona Melinda, pak." Pedro terkejut mendengar nama yang disebut kedua wanita dihadapannya.
Pikirannya mengira-ngira sejak kapan bosnya itu punya hubungan dengan Melinda, Pedro merasa Al tidak punya teman dekat yang namanya wanita.
Akhirnya Pedro membawa bunga yang dikirimkan Melinda untuk Alvino, ia membayangkan seperti apa tanggapan bosnya itu.
Setelah perintah masuk, Alvino berjalan mendekati Al yang sedang duduk serius memeriksa file-file yang menumpuk di mejanya.
" Tuan, seseorang mengirimkan ini untuk tuan." Pedro meletakan buket bunga berwarna emas di meja Al.
Al mengangkat kepalanya dan menatap buket bunga yang diletakkan dihadapannya, ia melihat sebuah kartu nama terselip disana. Ia mengambil dan ia membaca sebuah nama tertera disana, dan itu adalah nama pengirimnya." Melinda." gumannya pelan, kemudian ia meletakkan kartu namanya di meja dan beralih menatap Pedro yang masih setia menunggu perintah tuannya.
__ADS_1
" Untuk apa dia mengirim ini?" tanya Alvino dengan respek biasa saja.
"Tidak tahu persisnya, tuan. Lalu harus saya apakan bunga ini?" Pedro melihat Al tidak terlalu tertarik dengan bunga tersebut.
"Bawa saja untukmu." ucap Al tanpa memandang Pedro.
"Tu..tuan...."
Belum selesai berbicara, mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan El dan Nie yang masuk ke kantor Alvino tanpa mengetuk.
"Selamat siang kak Al, Pedro." sapa El dengan enteng.
" Siapa menyuruhmu datang kemari El?" Alvino berdiri dan menegur El yang bersikap tidak sopan masuk ke ruangannya, lagi pula Al merasa kedatangan El dan Nie pasti akan menganggunya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Kami hanya ingin melihat tempat kerjamu." El duduk dengan santai di sofa tanpa rasa bersalah. "Lagi pula sebentar lagi makan siang, sekalian saja kami kesini, Pedro tidak perlu menjemput kami di apartemen." lanjutnya yang membuat Al menelsn salivanya sambil memendam rasa kesal.
"Kak, jangan marah. Aku yang minta kak El kesini, aku bosan diapartemen terus, bukankah itu sama saja seperti aku di rumah." Melihat raut wajah Al yang sedang marah dengan cepat Nie membela El, karena ia tahu Al tidak mungkin memarahinya, sebab ia aksn mengadukannya kepada papa dan mamanya, untunglah raut wajah Al berubah ketika mendengar suara Nie dengan gaya manjanya.
__ADS_1
Pedro yang sedari tadi berdiri hanya sebagai penonton saja, ia hanya bisa diam dan menunggu, ia berulang kali mencuri pandang kepada sepupu atasannya itu, sejak kedatangan Nie di Singapura, diam-diam Pedro memperhatikannya.
Dengan menahan rasa kesal, akhirnya Al mengalah saja, membiarkan adik dan sepupunya itu ada di ruangannya. Al memerintahkan Pedro untuk mengawasi mereka agar tidak membuat kekacauan