
Malam itu Pedro, El dan Nie memutuskan menikmati kuliner di satu resto ternama, setelah El dan Nie merengek-rengek meminta agar Pedro membawa mereka untuk berjalan-jalan sambil menikmati indahnya kota Singapura.
"Dimana kalian?" Alvino memeriksa setiap sudut apartemennya ia tidak menemukan Pedro disana. El dan Nie juga tidak ada di kamarnya.
Alvino mencoba menghubungi melalui ponselnya, Ponsel Pedro tidak diangkat, Al menghela nafasnya, mencoba kembali menghubungi asistennya itu. Panggilan kelima ponsel Pedro baru diangkat.
"Sial, kau bawa kemana adik dan sepupuku, Pedro." Alvino tampak kesal karena ia sudah terburu-buru ingin melihat keadaan El dan Nie.
"Kami sedang makan di luar boss, ini aku share lokasinya kalau boss mau menyusul." Pedro menahan rasa geli, ingin rasanya ia tertawa, karena ia bisa membayangkan betapa paniknya Al sekarang.
Di apartemennya Al sedikit lega, setelah mengetahui adiknya ada bersama Pedro, jangan sampai mereka berkeliaran di luar sana tanpa seijin Al.
Al memeriksa setiap sudut apartemennya, ia lega dan syukurlah tidak ada yang berantakan, sebaliknya semua perabotnya dalam posisi aman, tampak rapi dan bersih.
__ADS_1
Untuk mempersingkat waktu, Al berlari ke kamar dan menukar kemeja kantornya dengan kaos, ia akan menyusul ketempat yang baru saja di share lokasinya di ponsel Al, setelah memastikan tampilannya sudah rapi, Al buru-buru menuju basement dimana mobilnya terparkir.
Meskipun Al sangat sibuk dengan urusan perusahaan, ia tidak pernah lalai memperhatikan El dan Nie, ia tidak mau kedua wanita itu mendapat masalah atau malah celaka.
Setengah jam berlalu akhirnya Al tiba ditempat dimana Pedro berada dengan El dan Nie. Al berjalan dengan cepat, ia penasaran sedang apa ketiga orang yang dicarinya disebuah cafe.
"Upss..sorry." Baru saja Al menabrak seorang wanita yang sedang berjalan di depannya. Wanita itu jatuh dan terduduk di lantai.
"Kau rupanya, dasar ceroboh." Al sedikit terkejut karena wanita yang ditabraknya itu tidak asing dimatanya.
Melinda enggan mengulurkan tangannya kepada Al, ia lebih memilih bangkit sendiri dari lantai dimana ia jatuh dan terduduk.
"Sayang, apa yang terjadi?" Toni dengan cepat membantu Meli untuk berdiri, setelah merapikan baju dan rambut yang sedikit berantakan, Meli akhirnya mendekat kepada Al.
__ADS_1
"Lain kali pakai matamu jika sedang berjalan." Toni dengan cepat menarik lengan Meli dengan pelan, ia tahu wanitanya itu sedang marah, Toni berusaha menenangkannya. " Ayo, duduk dulu." Toni hanya menatap Al dengan pandangan tak suka. Kemudian ia membawa Meli ke tempat duduk yang ada di dekat mereka.
Al menarik nafasnya kasar, ia baru tahu kalau ada wanita sekasar Meli.
Bukankah ia telah mengirimkan sebuket bunga padaku? Apa yang kupikirkan ternyata salah besar.
Al menggelengkan kepalanya dengan kasar, ia sedikit kesal melihat Toni yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Maaf, aku tidak sengaja. Bawalah wanitamu ke rumah sakit. Pakai ini untuk bertemu dokter dan menebus obatnya." Al meletakkan sebuah kartu gold di kursi kosong di samping Toni yang sedang membantu mendudukkan Meli.
Sontak Meli marah, ia merasa Al memang terlalu sombong. "Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan uang." Meli berteriak ketika Al berjalan beberapa langkah meninggalkan ia dan Toni.
Al tidak pernah tahu kalau dua orang yang di depannya itu sepasang kekasih. Al
__ADS_1