
"Nona....tunggu sebentar. Anda tidak bisa seperti itu nona." Pria itu mengimbangi langkah wanita yang dihadapannya. Aries, ia adalah sekretaris Melinda, orang kepercayaan tuan Hadi. Ayahnya Marissa.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang." Melinda menjawab Aries tanpa menghentikan langkahnya, justru ia semakin cepat berjalan, karena sepuluh menit lagi ia akan bertemu dengan seseorang yang sangat penting untuk kemajuan perusahaannya.
" Boy belum mengetahui hal ini, nona. Tolong jangan mengambil keputusan hanya sepihak."
"Aries ! Kalau kau tidak bisa diam, lebih baik kau pergi dari sini." Melinda merapikan sedikit rambutnya yang berantakan, karena tepat di depannya ruangan meeting tempat ia bertemu dengan partner bisnis barunya.
Aries menelan salivanya demi mendengar bentakan nonanya, meskipun suaranya pelan tapi nadanya begitu kejam di telinganya.
Melinda mendorong pelan pintu kaca dihadapannya. Dua orang pria gagah sedang menunggunya.
"Selamat pagi." Melinda mengembangkan senyum di wajahnya, entahlah terlihat kaku atau tidak, karena baru saja ia kesal melihat sekretaris cerewetnya itu.
" Hmm." Pria yang berjas biru dongker hanya menjawabnya dengan deheman.
"Selamat pagi, nona Melinda." rupanya pria yang satu lagi lebih ramah dan bersahabat.
__ADS_1
Melinda menganggukan kepalanya dan membalas salamnya dengan senyum. Sedangkan Aries tetap berada di dekat Melinda untuk mendampinginya membuat kesepakatan kerja dengan perusahaan baru.
"Jadi saham perusahaan ini akan kau jual?"
"30%, hanya 30% saja."
"Aku mau beli 75%"
"Maaf, itu diluar ketentuan dari perusahaan kami." Melinda mencoba tersenyum menanggapi ucapan-ucapan pria yang sok cool dihadapannya.
"Baca ini!" Sebuah amplop besar berwarna coklat didorong kehadapannya.
"No, Saya tetap pada keputusan semula. Hanya 30% saja. Meskipun kau berani membayar dengan harga yang begitu tinggi."
Aries memicingkan matanya, hatinya bertanya-tanya berapa harga saham yang ditawarkan oleh rekan bisnisnya itu.
" Pedro. Batalkan perjanjian jual beli ini. Aku tidak tertarik dengan penawarannya." Pria tegas itu adalah Alvino.
__ADS_1
Melinda terkejut mendengar perkataan Pria yang dianggapnya sok cool itu.
" Maaf nono, kami permisi dulu." setelah membereskan berkas-berkasnya, Pedro mengikuti tuannya berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Aries menatap Melinda yang masih duduk di kursinya, terlihat jelas wajahnya memerah menahan amarahnya.
" Nona."
"Aries. Pergi dan tinggalkan aku sendiri." dengan suara gemetar Melinda meminta sekretarisnya itu pergi dari ruangan tersebut.
Bukan kesal, Aries malah tersenyum sebab rencana penjualan saham perusahaan gagal total, bukan meremehkan usaha bossnya itu, tapi rencana Melinda terlalu berani tanpa memberitahu kepada Boy Bastian selaku pemegang kuasa tertinggi di perusahaan.
Boy Bastian adalah kakak dari Melinda. Beberapa perusahaan dari Tuan Hadi memang sudah dibagi-bagi kepada keturunannya. Marissa dan Bima diwariskan beberapa perusahaan yang berada di dalam dan luar negeri.
Dengan alasan sudah lanjut usia, Hadi menyerahkan sepenuhnya urusan perusahaan kepada putri dan menantunya.
Tahun demi tahun perusahaan yang dijalankan Marissa dan Bima memang semakin maju, termasuk perusahaan yang memproduksi under wear dengan brand yang cukup terkenal, yang di pegang dan di kembangkan oleh Melinda.
__ADS_1
Tetapi secara garis kuasa, Melinda masih berada dibawah Boy Bastian, putra pertama keturunan dari pasangan Marissa dan Bima. Boy harus kesana-kesini mengurusi beberapa perusahaan yang dipegangnya.
"Kenapa pria itu begitu sombong." Melinda yang sedari tadi masih merasa jengkel dengan sikap Alvino.