
"Sayang, kenapa wajahmu cemberut." Toni sang kekasih Melinda mengetahui dengan jelas kalau kekasihnya itu sedang ada masalah.
"Singkirkan tanganmu, Ton." Melinda menegur Toni ketika tangannya memeluk erat pinggang Meli.
Toni menelan salivanya, meskipun sudah dua tahun mereka terbilang dekat, hubungan mereka hanya seperti ini. Pergi berdua itu kegiatan yang mereka lakukan.
"Hmm. Sorry." Toni melepaskan tangannya dari pinggang Melinda dan menggeser duduknya agar tidak menempel ke tubuh Meli.
Pacaran model apa seperti ini, bahkan aku belum pernah memeluknya, kurasa ada yang salah dengan Meli, apa ia hanya berpura-pura mencintaiku.
*
*
Tidak beberapa jauh dari tempat Meli dan Toni yang sedang duduk, Aries tetap memperhatikan gerak-gerik bossnya itu. Ia mendapat mandat dari Bima untuk mengawasi putrinya itu.
Secara Melinda memang wanita berparas cantik dan seksi, sifatnya hampir serupa dengan mamanya Marissa, ingin bebas dan semaunya.
Tapi satu hal yang dapat dipuji dari Melinda, ia memiliki kepintaran yang luar biasa, dalam tangannya perusahaan warisan kakeknya berkembang dengan pesat.
__ADS_1
"Aku ingin pulang sekarang, mood ku rusak karena pria sombong itu."
"Siapa maksudmu, beb?" Toni mengimbangi langkah Meli yang lebih dulu berjalan meninggalkan meja tempat mereka sedang makan siang.
Toni penasaran dengan orang yang disebut Meli baru saja ia ingin bertanya, Meli sudah menutup pintu mobil dengan keras.
Toni menggelengkan kepalanya, Melinda selalu bersikap seperti itu, jau di relung hatinya menggeram karena Melinda seperti tidak menghargai dirinya. Kalau bukan karena cinta butanya, Toni sudah lama meninggalkan bahkan mungkin bisa menyakiti wanitanya itu.
Di dalam mobil, Toni memilih berdiam diri, bertanya pun tidak ada gunanya, yang ada Melinya itu bisa bertambah emosi.
"Turunkan aku disini saja."
Toni hanya bisa memandang nanar sosok wanitanya dari dalam mobil. Tangannya mengepal melihat perlakuan Meli kepada dirinya.
*
*
Sementara Aries juga sudah tiba di perusahaan, ia sempat melihat bossnya itu sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Nona,..."
" Aku tahu sekarang aku harus memimpin meeting lagi." Melinda menyela perkataan sekretarisnya itu dengan suara keras.
"Aku sedang tidak mood, kau saja yang memimpin meetingnya, dan segera laporkan hasilnya padaku." dengan duduk santai sambil menopang kaki, Melinda memerintahkan Aries memimpin meeting.
"Nona, ini tidak mungkin. Kau bossnya. Pertemuan kali ini sangat penting."
"Kenapa kau selalu membantah, Aries!" Meli bangkit dari duduknya dan menunjuk wajah Aries dengan garang.
"Baiklah." baru kali ini Aries melihat mata bossnya itu melotot memarahinya. Oh God...ia sedang tidak baik-baik saja.
Dengan cepat Aries membalikkan tubuhnya, dengan pikiran yang berkecamuk ia meninggalkan Meli yang sedang marah.
Sepeninggal Aries, Meli menjatuhkan dirinya di atas kursi empuk dengan kasar.
Ia berpikir sejenak, menenangkan dirinya kembali, agar otaknya dapat berpikir dengan waras. Meli merasa tertolak dengan sikap Alvino. Rencana penjualan sahamnya mungkjn akan gagal. Ia hanya berniat menjualnya kepada Perusahaan Two Win yang dipimpin Alvino.
Melinda menyalakan laptopnya, ia ingin mencari informasi tentang peruasahaan Two Win dengan segala latarbelakang keluarga pemiliknya. Dan Meli berharap mendapatkan informasi yang menguntungkan untuk dijadikan senjata yang ampuh, yang membuat Alvino bertekuk lutut, dan mau membeli saham milik perusahaannya.
__ADS_1
Hari ini merupakan hari terburuk dalam sejarah kepemimpinannya di perusahaan yang dipercayakan orang tuanya.