Cinta Di Ujung Penantian

Cinta Di Ujung Penantian
#5


__ADS_3

Lambat laun Alvino mendengar juga, Melinda menjadi buah bibir psra karyawannya. Mereka sengaja membeli majalan yang sampul depannya menampakkan tubuh molek sang model. Bahkan banyak diantaranya yang berhalusinasi membayangkan seandainya model seksi itu menjadi pacarnya.


"Apa yang kalian perbincangkan." Sekelompok karyawan yang berkumpul di satu meja terkejut mendengar suara dan pukulan meja yang keras.


Alvino sangat jengkel, waktu untuk bekerja di pergunakan untuk sesuatu yang sangat-sangat tidak penting.


" Hmm. Maaf tuan, kami hanya..."


"Kesini kan itu." Alvino meminta paksa majalah yang menjadi pusat perhatian para karyawannya.


"Bekerja dengan benar, bila tidak ingin di pecat." Alvino membawa majalah di tangannya dan meninggalkan karyawannya yang semua menunduk kwatir bila benar dirinya tidak dipekerjakan lagi.


Serelah meninggalkan sekelompok karyawannya, Alvino sangat kesal, ia memanggil Pedro untuk datang ke ruangannya.


Pedro sangat terkejut karena tanpa alasan tuannya itu marah-marah padanya.


"Apa kau mendapatkan ini dari orang-orang itu." Alvino melempar begitu saja majalah yang di pegangnya ke atas meja tepat dihadapan Pedro.


"Tuan, majalah itu sudah beredar dimana-mana. Siapapun bisa mendapatkannya dengan mudah." Pedro beralibi, ia merasa tidak masuk akal bila tuannya marah kepadanya hanya karena majalah itu.

__ADS_1


"Ku perintahkan, bersihkan majalah itu dari perusahaan ini. Tidak boleh tertinggal satupun. Sita semua dari karyawan yang memilikinya."


"Tapi..."


"Itu mengganggu jam kerja karyawan. Itu alasannya. "Alvino menekankan kalimatnya.


"Oke..oke. Saya kerjakan." Pedro berbalik meninggalkan Alvino. Bibirnya menggerutu, seharusnya itu bukanlah tugas yang harus dilaksanakannya.


Tidak butuh waktu lama Pedro sudah membereskan pekerjaannya, ia meminta semua karyawan mengumpulkan majalah seperti yang dipegangnya. Pedro mengancam bila tidak mengikuti perintahnya, akan di pecat hari itu juga.


"Tuan, semuanya sudah saya bereskan.Saya ijin akan mejemput nona Elvina." Alvino kembali keruangan Al untuk melaporkan bahwa tugasnya sudah selesai.


"Hmm. Pergilah."


*


*


Elvina menggambil ponselnya, ia ingin mengabari Al, bahwa ia sudah tiba dan menunggunya untuk mejemput. Beberapa kali mencoba men-deal nomornya, tidak diangkat.

__ADS_1


"Damn! Awas kamu, Al." El menggerutu tidak jelas. Kesal dan jengkel itu ysng dirasakannya, El sudah memberitahu kalau pesawatnya datang pukul dua siang.


Akh..apa aku naik taksi saja.


Tidak sabar lagi Elvina akhirnya memutuskan untuk naik taksi. Baru saja ia akan memanggil taksi, sebuah mobil berhenti tepat di depannya.


"Elvina." seseorang memanggil namanya dan sontak ia mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


" Pedro." Elvina berlonjak kegirangan, entah pergi kemana rasa kesal dan jengkelnya tadi.


" Kau sudah lama menunggu?" tanya Pedro tersenyum.


"Hampir setengah jam, menurutmu itu sebentar?" Elvina sengaja mengubah raut wajahnya, kini ia tampak manyun.


Pedro tergelak, ia mengetahui kurang lebih sifat Elvina, ia tahu kalau saudara kembar bossnya itu sedang berpura-pura.


"Sorry. Aku telat karena beli sesuatu untukmu." Pedro menghiburnya. " Roti kesukaanmu." menyerahkan paper beg yang disembunyikan di belakangnya.


" Pedro. Kau masih ingat ini." Elvina begitu senang karena Pedro masih mengingat makanan kesukaannya.

__ADS_1


"Tentu aku ingat." Pedro ikut tersenyum, rasanya lucu sekali memandang wajah imut di hadapannya.


"Thank You, kau temanku yang paling perhatian." Elvina reflek merangkul Pedro.


__ADS_2