Cinta Di Ujung Penantian

Cinta Di Ujung Penantian
#9


__ADS_3

Perusahaan yang dipimpin Melinda mendapat tender besar-besaran, seorang pengusaha dari negeri Malaysia memesan produk yang dikeluarkan perusahaannya. Orderan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


" Aries, aku tidak sedang bermimpi kan?" Meli memukul-mukul pipinya dengan pelan untuk memastikan kalau ia sekarang berada di dunia nyata.


" Tidak nona, kita memang memenangkan tender itu." dengan wajah yang sumringah Aries meyakinkan Melinda.


" O...Aries kita perlu merayakan ini." Melinda bangkit dari duduknya dan merangkul Aries dengan tiba-tiba.


Aries hanya berdiri tegak, ia sama sekali tak merespon apa yang baru dilakukan Melinda padanya. Ia mengerti betapa bahagia bossnya itu saat ini.


"Aries, kau bisa pesan restoran tempat kita makan , maksudku bukuan kita berdua tetapi semua jajaran managemen."Melinda merasa canggung karena tidak menyadari kalau ia sedang memeluk Aries.


" Siap nona, Aku akan pesankan." Aries menundukkan kepalanya mengiyakan perintah Melinda.

__ADS_1


Sebenarnya perusahaan yang dipimpin Melinda tidak sedang dalam kondisi bangkrut, perusahaan itu berjalan dengan baik, bahkan sistim managemennya sangat rapi, hal itu karena kakakMelinda, Bian bisa mengawasi secara langsung perkembangannya.


Sejujurnya Melinda tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis seperti yang dilakoninya saat ini, ia lebih senang bila dijadikan sebagai model usahanya saja. Syukurlah Aries selalu dengan sabar membibing Meli, selain mandat dari kedua orang tuanya, perintah Bian kakak Melinda juga.


Itulah sebabnya Aries tidak setuju bila Melinda ingin menjual sebahagian saham perusahaan, ia segera memberitahu Bian, dan ternyata respon Bian sangat cepat, semula Bian akan pulang dan akan menegur adiknya itu, tetapi karena banyak pekerjaan yang belum bisa ditinggal, ia terpaksa menunda rencana ke Singapura.


*


*


"Ini hadiah buat kalian yang sudah bekerja keras untuk kemajuan perusahaan. Aku pribadi berterima kasih untuk semua loyalitas kalian." Melinda mengangkat segelas anggur ditangannya mengajak semuanya bersulang.


Tak jauh dari tempat Melinda dan karyawannya duduk, Alvino juga sedang duduk bersama El dan Nie untuk makan malam. Al benar-benar melarang El memasak di apartemennya karena takut kotor dan berantakkan. Pedro juga ikut bersama mereka.

__ADS_1


"Aku ke toilet dulu." Al berdiri dari tempat duduknya.


Baru saja ia berjalan, tidak sengaja ia berpapasan dengan Melinda yang juga ingin ke toilet.


"Hai, selamat malam." sapa Melinda dengan canggung.


"Hmm." Al hanya menganggukan kepalanya setelah itu ia berjalan kembali menuju toilet pria.


Melinda tersenyum sinis, wajahnya kelihatan kecut, ia tahu kini kalau Alvino memang bukan pria sembarangan, kemarin ia menemukan asal-usul keluarga Al yang membuat ia penasaran. Dan akhirnya ia mengetahui kalau keluarga besar Al adalah pengusaha yang disegani di dunia bisnis, bahkan sebelum lahir Al itu sudah konglomerat (hehewkwk😃)


" Mel, kau masih di dalam?" Melinda tahu itu suara Toni yang berada di luar.


"Kenapa lama sekali? Aku kawatir kau kenapa-kenapa?"

__ADS_1


"Kau berlebihan Ton." Melinda menjawab Toni dengan ketus. Terkadang pemikiran kekasihnya itu tidak masuk akal.


Alvino melihat interaksi Melinda dan Toni setelah ia keluar dari toilet. Tanpa sengaja pandangannya beradu dengan Melinda. Tanpa ekspresi Al berjalan meninggalkan Meli dan Toni yang tampak mesra di mata Al.


__ADS_2