Cinta Di Ujung Penantian

Cinta Di Ujung Penantian
Curahan hati


__ADS_3

"Aku hanya butuh gedungnya. Aku tidak tertarik dengan bisnis mereka." Alvino tidak segan-segan menceritakan rencana pengembangan bisnisnya kepada Bianca, ia menganggap Bianca teman bercerita yang asyik, karena Bianca memahami maksud Al.


Bianca tidak sepenuhnya mengerti arah rencana pengembangan bisnis yang di maksud Al hingga ia bermaksud untuk membeli lebih dari setengah saham perusahaan yang dipimpin Melinda.


"Why? Kau bisa membeli tempat yang lebih bagus dari tempat itu kan?" Bianca coba bertanya ketika mereka mengunjungi salah satu cafe, sesekali ia meneguk kopinya dengan santai. Mereka mempergunakan waktu untuk bertemu disela-sela kesibukkan.


"Entahlah, aku merasa tempat itu cocok untuk usahaku nanti."


"Bukan karena pemiliknya cantik?"Bianca menggoda Alvino. Sebenarnya ia tidak suka kalau Alvino punya hubungan dengan Melinda.


"Kau bercanda. Aku belum memikirkan hal itu. Aku masih muda. Mungkin 5 atau 10 tahun lagi baru aku pikirkan hal itu." ucap Alvino sedikit terkekeh, baginya lucu saja kalau sampai menggunakan modus menyukai Melinda untuk mengwujudkan keinginannya.


Bianca bisa melihat dari raut wajah Al, betul kalau ia tidak tertarik untuk membicarakan wanita, Al memang sangat dingin dan cuek dengan kaum hawa. Dulu saat duduk di bangku kuliahpun, Bian tidak pernah mendengar kalau Al mempunyai teman istimewa.

__ADS_1


"Hei...kenapa jadi melamun. Apa perkataanku ada yang salah?" Alvino memukul pelan tangan Bian karena wanita dihadapannya itu diam dan tampak melamun.


"No. By the way kita lanjutkan saja pembicaraan tentang rencana kerja sama kita." Bianca sengaja mengalihkan pembicaraan.


*


*


Setelah memceritakan panjang lebar rencana usahanya dan membahas rencana kerjasama antara Bianca dan Al akhirnya mereka berpisah, Al memilih langsung pulang ke apartemennya, ia ingin tahu bagaimana repotnya Pedro mengurus saidara kembar dan keponakkannya.


"Ada apa di depan pak?" Al coba bertanya dengan seorang bapak yang berdiri di samping mobilnya.


" Katanya ada yang sedang syuting." ucap bapak tersebut dengan nada kesal juga.

__ADS_1


" What? Syuting? Sungguh tak tahu peraturan, seharusnya mereka mengambil lokasi lain, ini jalan raya." Al sedikit menggeram, ia menutup kembali kaca mobil yang sempat dibukanya tadi.


Tidak ada cara lain memang harus sabar menunggu, setelah hampir setengah jam kendaraan tidak bergerak, akhirnya mulai berjalan dengan pelan.


Tepat melewati lokasi syuting, Al sempat melihat ke arah kru yang sedang sibuk mengambil foto seorang model, syukurlah polisi datang cepat waktu sehingga bisa mengatur kembali laju kendaraan, yang lambat laun mulai normal.


Alvino membesarkan matanya, ia tidak salah lihat, tidak jauh dari mobilnya ia melihat sosok wanita yang tidak asing baginya.


"Dia." guman Alvino.


Melinda sengaja diarahkan penata foto untuk berpose di pinggir pantai yang berhadapan dengan jalan raya. Melinda kelihatan sangat seksi, kulitnya yang putih sangat serasi dibalut dengan bikini yang warnanya sangat kontras dengan kulitnya. Ternyata bukan karena ada pemotretannya membuat jalanan macet, melainkan banyak mobil yang sengaja berhenti untuk menyaksikan pemotretan itu.


" Apa dia sudah tidak punya rasa malu." entah mengapa Alvino menggerutu kesal. Apakah karena sudah membuang waktunya untuk bermacet ria atau karena sosok wanita cantik yang sedang melakukan tugasnya.

__ADS_1


Alvino melajukan mobilnya dengan begitu cepat, sekarang ia ingin segera berada di apartemennya,


__ADS_2