Cinta Di Ujung Penantian

Cinta Di Ujung Penantian
Rasa Pedro


__ADS_3

Sejak kedatangan El dan Nie, hari-hari Pedro dihabiskan dengan segudang pekerjaan. Sebenarnya Al sudah memberi kebebasan kepada Pedro untuk hadir atau tidak pergi ke kantor, karena asistennya itu mendapat mandat mengurus adik dan sepupu bossnya, sehingga asisten yang lain Al tugaskan untuk menghandel pekerjaan sekretarisnya itu. Semuanya demi kesejahteraan bersama, Al tidak mau pekerjaannya direcoki El dan Nie, paling tidak dua hari lagi dan waktu liburan akan berakhir, mereka akan segera pulang, El ke Jakarta dan Nie ke Medan.


"Sampai kapan aku begini? Pekerjaan ini sama sekali bukan keahlihanku." umpat Pedro sambil menyiapkan omelet untuk El dan Nie.


"Kakak sedang ngomong dengan siapa?" Nie tidak sengaja mendengar suara Pedro, meskipun ia tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Pedro.


Nie berjalan ke arah kulkas untuk mengambil susu dingin, Pedro menoleh melihat ke arah Nie sebentar, kemudian ia fokus kembali dengan menu sarapan mereka bertiga pagi ini.


Nie penasaran dengan apa yang dikerjakan Pedro, kelihatannya terlalu serius sehingga mengabaikannya.


Nie melihat bagaimana Pedro memasak, terlihat kaku." Kalau kakak tidak bisa memasak, jangan dipaksakan. Kita bisa pesan online kok." ucap Nie yang berdiri begitu dekat dengan Pedro.


"Menjauhlah! Nanti kulitmu kena bakar." mendorong tubuh Nie agar menjaga jarak dengannya.

__ADS_1


Pedro hampir saja lupa bernafas, mungkin Nie tidak merasakan apapun berbeda dengan Pedro, dia setengah mati menahan rasa kikuk, jantungnya berpacu kencang, diam-diam Pedro tertarik dengan sepupu atasannya itu.


" Hei...kenapa kakak mengusirku." Nie tidak terima karena Pedro mendorongnya.


" Aku hanya tak ingin kau celaka." Pedro menjawab apa adanya.


"Sini aku bantu." Nie mengambil sebuah piring ceper, ia melihat Pedro sudah mematikan api kompor. " Ini, ambil. Aku mau memakannya." Nie menyerahkan piring yang ditangannya kepada Pedro.


" Kak El sudah bangun dari tadi, ia sedang bermain ponsel di kamar." Nie duduk di kursi yang berhadapan dengan meja makan.


" Kau mandi dulu, baru sarapan." Pedro menahan rasa geli ketika mulut Nie mangap-mangap kepanasan, baru saja ia mencicipi makanan yang dihidangkan Pedro.


" No need. Aku lapar kak. Tadi malam aku kelaparan, tapi kak El bilang tidak boleh makan malam, nanti badannya gendut." sambil terus makan.

__ADS_1


" Hmm. Terserah kau saja. Aku mau mandi dulu." Pedro meninggalkan Nie yang masih asyik menikmati makanannya.


Dia imut sekali, lucu dan juga cantik.


Pedro memalingkan wajahnya untuk melihat kembali sosok Nie, senyum kecil terbit di pipinya. Setelah itu ia masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


*


*


Sementara Melinda sangat penasaran di ruang kerjanya, ia sama sekali tidak mendapatkan ucapan terima kasih dari Al, Melinda tahu kirimannya sebuket bunga sudah sampai kepada Al, ia yakin sekali Al pasti menyukainya dan kemudian akan meneleponnya untuk berterima kasih. Tapi sampai detik ini tidak ada telepon atau message di ponselnya dari Al.


Melinda sangat bersemangat untuk membuat Al tertarik padanya, hal itu didasari karena Meli ingin membalaskan sakit hati mamanya atas perlakuan keluarga Al. Dulu Mama Meli sangat mencintai Rey, tetapi dengan mudah dan gampang Morin membatalkan pertunangan. Opa dan Omanya sangat malu, hal itulah mengapa terbersit di hati Meli untuk mempermainkan cinta Al, cuman sampai sekarang belum ada kemajuan atas rencananya itu, bahkan Al mencuekinya.

__ADS_1


__ADS_2