Cinta Dibalik Heroin

Cinta Dibalik Heroin
Bab 20 Aku memilih Kamu


__ADS_3

 


Sedan hitam model klasik terus saja menyusuri jalan, langit sebentar lagi akan terlihat dengan warna jingga disekitarnya. Sesekali mata si supir melirik spion, menatap si penumpang di belakang. Sekarang terlihat jelas disudut bibir Feni ada luka dan warna yang membiru.


“Kita mau kemana bos?” tanya Roni.


“Kita harus bisa menyelinap ke kapal nelayan untuk kabur”


Sebentar lagi mereka sampai ditepi pantai,


“berhenti”kata Marko.


Roni melirik Marko kemudian, menginjak pelan rem mobil.


“kenapa Bos”


“Kita gak butuh dia lagi” kata Marko melirik ke spion.


“Bunuh dia” kata marko lagi, menyerahkan pistol yang tadi di daspor.


Roni menatap marko, kemudian melirik Feni yang tampak ketakutan. Ia semakin merapatkan tubuhnya kesudut mobil.


Roni menerima pistol itu dengan ragu, namun tak lama dia membuka pintu mobilnya. Kemudian memutar, membuka pintu mobil sebelah kiri bagian belakang.


“Keluar” kata Roni menarik tangan Feni.


“Lepasin aku” pinta Feni memelas, berusaha menarik tangannya.


Roni mendorong Feni hingga gadis itu terhuyung kebelakang, ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Sebuah pistol terarah kewajahnya saat dia menatap kedepan kearah Roni. Wajah Roni datar tanpa ekspresi. Feni tidak tau apa yang pria ini pikirkan, dan ia juga tidak tau harus berbuat apa sekarang. Jika ia lari akan sama aja hasilnya, Roni mungkin saja akan tetap menembaknya.


“Jangan bergerak dari sana” ucap Roni kemudia menarik pelatuk.


“Aaaaaaa…..”teriak Feni, tubuhnya lemas. Lututnya terasa lemas seperti jelly. Dia terjatuh terduduk.


Suara tembakan kedua terdengar ditelinga Feni yang lagi-lagi membuat Feni berteriak kuat. Ia menutup telinganya dengan kedua tangannya karena takut. Ia menangis tanpa ia sadari.


Roni mendekat, memeluk gadis itu. Tubuh Feni terasa berguncang, menggigil karena takut.


“Apa Erlang datang”tanya Feni dalam hati saat merasakan sebuah tangan kekar memeluknya.


“Semua akan baik-baik aja” kata si pemilik tangan berusaha menenangkan, Feni tau persis itu bukan suara Erlang tapi suara Roni.


Feni membuka matanya, dihadapannya terlihat Roni menatapnya dengan wajah tersenyum. Senyuman itu seakan ingin menyampaikan, semuanya akan baik-baik saja.


Roni mengusap pelan sudut bibir Feni yang tadi di tampar Marko, Feni meringis pelan.

__ADS_1


“Aku memilih kamu” ucapnya kemudia berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Feni.


Feni menatap Roni, kemudian menyambut uluran tangan Roni yang menariknya untuk berdiri. Roni menarik tangan Feni, untuk mengajaknya pergi dari tempat itu. Mereka melewati mobil yang tadi mereka tumpangi.


Feni dapat melihat dari sudut matanya, banyak cipratan darah dikaca mobil itu. Roni kembali menarik Feni untuk segera pergi dari tempat itu.


 


***


Sebuah serine memekakan telinga terdengar, mobil polisi itu berhenti tepat didepan sebuah rumah. Dengan buru-buru turun dari mobil, dengan senjata lengkap. Sebagian menggunakan senjata laras pendek. Sebagian lagi menggunakan senjata laras panjang.


Toni mengecek kondisi diteras, kemudian membungkuk saat mendapati salah satu anggotanya tertelungkup disana. Dia adalah Wahyu, orang yang disuruh mengawal Feni dan Adek.


Toni memeriksa denyut nadi di lehernya kemudian menggeleng kearah Andre dan Erlang.


“Tolong” terdengar suara dari dalam rumah.


Kemudian mereka masuk rumah dengan pelan-pelan dan siaga, senjata api ditangan mereka siap tembak. Isakan dan teriakan minta tolong terdengar dari dalam rumah yang mengundang perhatian mereka.


“Adek” panggil Andre.


Adek terlihat terisak, ia memeluk seseorang yang telah bersimbah darah. Pria itu terlihat sekarat, perutnya mengeluarkan darah yang ditahan Adek dengan kain.


“Ryan” kata Erlang kemudian mendekat. Ia mendekat melihat kondisi Ryan, Ryan berusaha bernafas walaupun sangat susah, kemudian dia terbatuk. Darah keluar dari mulutnya.


“Panggil ambulance” perintah Andre.


“Mana Feni dek” tanya Erlang.


Adek hanya diam dan terus menangis.


“Dek” Erlang lagi cukup keras.


“Dibawa Marko” katanya disela isakannya. Ia masih berusaha menahan Ryan diperlukannya.


Erlang lansung menatap Andre,


“Cepat cari, mereka pasti belum jauhr” kata Andre pada anggotanya.


***


 


Mobil fan yang di tompangi Erlang berhenti mendadak, membuat semua yang diatas mobil bertanya-tanya ada apa.


“kenapa” tanya Andre yang duduk disebelah Erlang.

__ADS_1


“mobil itu mencurigakan ndan”kata si sang sopir.


Mereka semua keluar dari mobil sampil menotongkan senjatanya yang siap tembak kearah mobil sedan itu.


“Marko” ucap Andre mengenali seorang laki-laki yang tersandar di depan mobil dengan wajah penuh darah.


Terlihat anggota Andre memeriksa seseorang yang ada diatas mobil itu.


“ndan, dikonfirmasi itu adalah marko. Dia tewas dengan luka tembak dikepala” lapor sang anggota.


“lalu Feni dimana” tanya Andre.


Andre dan Erlang saling pandang, suasana masih gelap, sebentar lagi subuh pasti datang. Melihat Marko tewas di kursi penumpang. Pasti ada yang duduk dikursi pengemudi. Berarti Feni dibawa pergi bukan hanya oleh Marko.


Erlang membuka pintu belakang mobil, menggeledah semua isi mobil. Mencari petunjuk, mungkin saja ada petunjuk yang tak sengaja ditinggalkan Feni.


Erlang melihat sesuatu berwana  disudut jok mobil, ia memungut benda itu. Ingatannya kembali saat ia memasangkan bemda itu ketangan Feni. Ya, itu adalah gelang dengan bandul bintang yang ia berikan pada Feni.


“Ini milik Feni” ucap Erlang mengangkat kopi itu tinggi kearah Andre.


“Gue yang kasih gelang ini ke Feni” ucap Erlang kembali menjelaskan. Ia menatap gelang itu.


Andre melihat Erlang yang terus saja memperhatikan gelang itu, ia tau bahwa pria itu sangat khawatir saat ini, sama dengan dirinya.


“Cuman Roni yang belum ketemu” kata Toni.


“Kalaupun ia Feni dibawa Roni, gue rasa mereka belum jauh”


“Sepertinya mereka pergi jalan kaki” jelas Andre


Semua mengangguk setuju dengan pendapat Andre.


“Tambah anggota untuk mencari Feni didaerah sini” perintah Andre.


***


 


Ambulance putih melaju cepat dijalan, sirinenya memecah jalanan yang masih sepi. Di atas ambulance suara monitor jantung berbunyi.


Adek mengenggam tangan Ryan erat, tangan keduanya sudah merah karena darah. Dua orang petugas medis duduk saling berhadapan, satunya terus menekan luka diperut Ryan, yang satunya memastikan sungkup masker oksigen tak lepas sambil memantau monitor.


Kondisi Ryan buruk dengan tensi 70/50 mmHg, denyut jantung 99 kali permenit tapi lemah, saturasi 97%. Tangannya terasa dingin, Adek mengusap-usap tangan itu agar tetap hangat.


 


***

__ADS_1


(sesuai pendapat teman semua, jadi aku selamatkan Ryan ya...


semoga suka ya... )


__ADS_2