
Sebagai seorang pengangguran yang punya waktu banyak Feni telah muncul lagi di rumah Lina, ia sedang bermain dengan Rafqi. Mengajak Rafqi ngobrol, memamerkan foto Erlang di Hpnya. Mengajak Rafqi sesekali ber-selfie dengan beberapa efek yang lucu.
Lina sedang sibuk di dapur, sahabatnya yang sedang sibuk dengan Rafqi dari tadi merengek kelaparan. Lina seperti merawat 2 anak sekarang.
Feni mengajak Rafqi ke teras rumah dengan sesekali bersenandung, ia seperti baby sister sekarang ini. Mengasuh Rafqi adalah bagian kegiatan ia tiap hari.
Tak Feni sadari seseorang memotret gerak gerik Feni yang sibuk bersenandung di teras. Pria di mobil itu kemudian pergi setelah ia dapat apa yang ia mau.
Feni masuk kembali kedalam rumah tanpa curiga akan sesuatu.
Andre sedang mengiringi langkah kaki adiknya yang dari tadi keluar masuk toko. Keduanya sedang ada di salah satu pusat perbelanjaan.
Sehari yang lalu Feni mendapat email dari perusahaan yang beberapa waktu lalu memanggilnya untuk interview. Dan sekarang ia diterima sebagai pegawai training di perusahaan itu.
Dan malang nasib Andre ia kena palak, Feni merengek minta belikan baju dan sepatu baru.
Feni memilih beberapa kemeja kemudian menenteng 2 untuk ia coba.
"Satu ya" Andre memperingatkan
Tanpa menjawab peringatan Andre barusan, Feni melenggang ke kamar ganti.
“Fen, tadi kan aku bilang 1”protes Andre ketika tiba di kasir ia harus membayar 2 kemeja.
“Tapi dua-duanya bagus “ ucap Feni tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Dua tapi gak ada sepatu “ ancam Andre mulai jengkel.
"Mau dua-duanya"rengek Feni manja, ia menarik perhatian beberapa orang di toko itu. Mungkin mereka berfikir ia adalah seorang cewek yang minta di belanjakan pacarnya.
"Gak" tegas Andre gak terpengaruh rengekan Feni.
"Ya udah deh, dari yang dua ini mana yang paling mahal" tanya Feni pada kasir wanita itu.
"Warna mint ini, harganya Rp 999.000" jelas si kasir.
"Kalau yang putih garis-garis ini" tanya Feni menunjuk kemeja putih dengan garis-garis kecil berwarna krem.
"ini harganya Rp 899.000"jelasnya lagi
Feni mengangguk.
"Kalau gitu yang warna mint aja, tapi yang ini izin foto ya mbak" tanya Feni tanpa menunggu persetujuan si mbak kasir.
__ADS_1
Feni sempat sibuk dengan Hp nya beberapa saat.
"Ngapain sih" tanya Andre merasa ada yang tak beres.
Feni hanya diam sambil tersenyum, baju yang warna mint tadi selesai di bungkus dan siap dibayar. Andre membayar dengan kartu debitnya.
"Yang ini jadi ya mbak" kata Feni.
"Kok jadi, kan aku bilang satu" Andre protes.
"Nih, Erlang udah kirim sejuta, jadi aku bsa beli baju" ucap Feni riang dengan menunjukan bukti transfer.
Andre menghembuskan nafasnya kesal, ada akalnya. Gak dapat sama dia, pasti sama Erlang dapat.
"Pake QRIS ya mbak" Feni menyodorkan Hp nya.
"Baik ya kak, sebentar"
"Kamu tukang palak ya, matre" ucap Andre.
"Matre sama kakak dan pacar sendiri gak apa-apa kan"
Andre mengerlingkan matanya kesal, andai saja ia bisa memaki adiknya disini. Apa yang ada di kepala orang-orang ini melihat tingkahnya
"uang Erlang banyak" lanjut Feni dengan suara pelan.
"Terserah lah"
Mendengar kata-kata itu Feni tertawa.
"Ini ya kak" Mbak kasir menyodorkan barcode yang mau scan. Kemudian Feni melakukan transaksi dan ia menerima paper bag nya dan kemudian menarik Andre pergi
"Ayo, sepatu lagi" Ajak Feni.
Ngomong-ngomong tentang Erlang, Erlang memang seorang anak dari Bos perusahaan. Ayahnya adalah seorang pemilik perusahaan periklanan yang cukup besar di Indonesia. Andre sempat curiga saat Feni di terima kerja, ia pikir Erlang ikut andil.
Andre melirik adiknya yang sedang memilih sepatu, meskipun suka malak Erlang, tapi Feni tidak pernah meminta uang lebih 1 jt. Elang pernah transfer uang sampai 50 jt yang membuat keduanya bertengkar hampir 1 Minggu.
"Ndre, yang hitam atau yang putih" Feni membuyarkan lamunan Andre. Feni menenteng dua sepatu kets dengan warna yang berbeda.
"Putih" jawab Andre.
"Tapi kata Erlang bagus cream" ucap Feni membaca chatnya dan Erlang.
__ADS_1
"Kalau gitu gak usah tanya aku, tanya Erlang aja" Andre mulai kesal lagi.
"Jangan beli dua, trus uangnya minta lagi ke Erlang" lanjut Andre memperingatkan.
"Iya tau" ucap Feni.
......................
Feni keluar dari kediamannya di iringi Andre dari belakang. Erlang berdiri di depan mobil range Rover sport berwarna hitam. Mobil yang dia kendarai sekarang aja telah menandakan betapa kayanya ia.
Erlang menatap pacarnya dari atas kepala sampai ke kaki.
" Itu baju yang gw beliin, sepatunya yang warna lo pilih" Andre menjelaskan tanpa di minta.
"Sekalian bilang ini tas yang di belikan Erlang" ucap Feni melirik Andre kesal. Feni memakai tas pemberian Erlang pas ulang tahunnya kemaren.
Andre cuek gak peduli jika adeknya meliriknya dengan wajah kesal.
"Masih pagi Ndre" tegur Erlang.
"Aku pergi ya kak" Feni pamit.
Andre mengangkat alisnya satu, kata kakak hanya akan keluar kalau dia kesal atau mau sesuatu.
"Oke adik sayang" Andre mengulurkan tangannya.
Feni menyambut uluran tangan itu untuk salim, kemudian melangkah dengan cemberut ke pintu mobil.
"gw pergi ya" Erlang ikutan pamit.
"Yop, hati-hati. Pastikan dia gak bikin masalah"
Erlang tertawa dan melirik Feni yang sudah duduk di jok mobil sebelah sopir.
"Aman"
"Lo jangan terlalu manjain dia"
"Kan lo pernah bilang adik lo cuman satu jadi gak apa-apa di manjain, pacar gw juga satu dia, makanya gw manjain" jelas Erlang.
"ya... ya. pergi sana" usir Andre.
Erlang hanya tertawa dan melangkah menuju mobil. Andre sempat melambaikan tangannya sebelum mobil itu benar-benar pergi jauh.
__ADS_1
...****************...