Cinta Dibalik Heroin

Cinta Dibalik Heroin
Bunga Primrose


__ADS_3

Feni turun dari mobil, ia hari ini di antar Andre pergi bekerja. Erlang ada urusan pekerjaan jadi dia sama sekali tidak bisa untuk mengantar kekasihnya itu pergi bekerja.


Setelah salim dan dadah-dadah Feni melangkah masuk ke kantornya. Gak kerasa udah hampir 1 bulan ia bolak balik bekerja di kantor ini.


hari ini tidak terlalu sibuk, Feni bisa makan siang keluar bersama teman sekantornya. Ia mengenakan jeans biru dengan atasan kemeja oversize warna putih dengan garis-garis halus berwarna hijau muda.


Feni melangkah ke meja kerjanya, sebuah pemandangan yang tak biasa ia lihat di atas meja itu. Sebuah pot bunga dengan bunga yang tumbuh di atasnya, bunganya berwarna ping muda dengan lingkaran kuning di tengahnya.


Feni celingak-celinguk melihat ke sekitar, siapa kira-kira yang memberinya bunga ini.


"Ciehhh ada yang dapat kiriman bunga nih" goda Niki teman sekantornya.


Feni hanya tersenyum malu,


"Tau yang ngasih gak?" tanya Feni.


"Ada kartu ucapannya tuh Fen" tunjuk Niki.


Memang ada sebuah kartu berukuran 5x4 cm di sisi bunga itu.


Tangan Feni terulur untuk mengambilnya, sebuah tulisan biasa tanpa nama disana.


"Selamat berkerja"


"Apa Erlang" pikir Feni kemudian memfoto bunga itu dan mengirim gambarnya ke Erlang.


Feni duduk di kursinya sambil memandangi bunga itu.


"Bukankah selalu baby breath" pikir Feni menyentuh pelan kelopak bunga yang tampak rapuh itu.


Sebuah suara ponsel menginterupsi Feni memaksa ia mengalihkan pandangannya, satu tangan Feni mengambil smartphonenya.


"Jangan pegang bunga itu" teriak Erlang.


Dengan spontan Feni menarik tangannya yang tadi menyentuh kelopak bunga.


"Maksudnya?" Feni tak paham.

__ADS_1


"Kamu dimana?"


"Kantor"


"Tunggu aku, aku udah jalan kesana. Jangan pegang bunga itu" ucap Erlang lagi.


Erlang sedang mengendarai mobilnya dengan cepat, foto bunga yang di kirim Feni tadi membuat ia panik. Jelas bukan ia yang mengirim bunga itu.


Baby breath adalah bunga yang selalu di kirim Erlang untuk Feni, biasanya bersamaan dengan buket mawar merah dan baby breath.


......................


Erlang sedang melihat cctv kantor Feni, dan sesuai dengan keterangan Security kantor kalau iyalah yang meletakkan bunga itu di meja Feni. Kalau yang mengirim ia tidak tau.


Dilihat dari cctv depan dekat pos, seorang laki-laki yang datang mengantarkan bunga itu. 'Queen flower' itu terlihat dari kaos Hitam yang di pakai pria itu.


"Queen flower" ucap Erlang sendiri. Ia melihat kartu ucapan yang di kirim bersama bunga tadi. Di halaman belakang kartu itu tertulis tulisan yang sama beserta no handphone.


Feni menunggu Erlang di luar ruangan keamanan, Rima berdiri disampingnya dari tadi. Ia sempat menanyakan beberapa pertanyaan.


"Kenapa sih kak?" tanya Feni.


"Iyah, tau. Emang bunga itu dari siapa?" tanya Feni lagi.


Belum sempat Rima menjawab Erlang telah muncul di hadapan mereka.


"Bunganya hanya bunga biasa" kata Rima.


Erlang mengangguk mengerti, ia menyerahkan kartu ucapan yang tadi dipegangnya.


"Oke, aku pamit" kata Rima menerima kartu ucapan itu dan pergi bersama beberapa orang anggotanya.


"Kenapa sih?" tanya Feni tak paham.


"Gak ada apa-apa"


"Gak ada apa-apa gimana? Se isi kantor heboh hanya karena bunga itu" Feni mulai kesal karena ia yakin ada yang Erlang sembunyikan darinya.

__ADS_1


"Menurut kamu siapa yang ngirimin kamu bunga"


"Ya kamu" jawab Feni singkat.


"Tapi ini bukan aku. Bagaimana kalau itu dari Roni" tanya Erlang.


Feni terlihat kaget dengan pertanyaan Erlang barusan, sudah lama ia tak mendengar nama itu disebut. Kenapa juga Erlang harus curiga itu dari Roni.


"Kenapa Roni?" tanya Feni menatap Erlang dengan tubuh mulai gemetar.


"Karena hanya dia yang mencoba melindungi kamu seperti aku melindungi kamu" kata Erlang yang semakin membuat Feni bingung.


"Hah"


Erlang mengambil sesuatu dari balik jaketnya, sebuah foto yang begitu sampai di tangan Feni langsung membuat kedua tungkai kaki Feni lemas tak berdaya.


Erlang berhasil menangkap tubuh itu sebelum jatuh, tubuh Feni gemetar ketakutan. Jelas sekali di foto itu adalah ia yang sedang menggendong Rafqi.


"Seseorang mengirim ini ke apartemen aku"


Feni mencoba menstabilkan badannya, berdiri walaupun tenaganya rasanya habis.


"Roni yang kirim?"


"Mungkin, sama dengan bunga itu. Kurir yang bekerja" jelas Erlang.


Feni tak bisa menahan air matanya, kenapa setakut ini dia kali ini.


"Sayang.. " panggil Erlang lembut, kedua tangannya menangkup pipi Feni, tangannya menghapus air mata yang tumpah itu.


"Semua akan baik-baik saja" kata Erlang meyakinkan, ia menatap mata Feni.


Feni mengangguk pelan, mencoba tersenyum walaupun sangat sulit. Ia teringat dengan pesan terakhir Roni, apa mungkin itu ada hubungannya?


"Sekarang gini aja, pergi dan pulang kerja biar aku atau andre yang jemput" kata Erlang.


Feni mengangguk.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2