Cinta Dibalik Heroin

Cinta Dibalik Heroin
Jangan terlalu tampan


__ADS_3

Sudah beberapa kali dari tadi perempuan itu scroll galeri foto di smartphonenya. Memperbesar ukuran untuk melihat detail sesuatu di foto, kemudian tersenyum.


Kegiatan itu berlangsung hampir setengah ham, sejak ia duduk di kursi disalah satu tempat makan di mall itu.


"apa ada yang begitu menarik dari semua foto itu" tanya seseorang berdiri di hadapannya diseberang meja dengan membawa nampan berisi dua mangkok udon.


Tanpa menjawab Feni hanya tersenyum dan tertawa kecil.


Erlang meletakkan mangkok berisi mie dengan kuah bewarna merah itu di hadapan Feni.


Erlang duduk dihadapan gadis itu, menatap Feni dalam diam. Merasa di tatap Feni balas menatap Erlang.


"oke, selesai main Hp nya" kata Feni merasa tatapan penuh hukuman dari Erlang membuat dia ciut. Ia meletakan HP-nya di meja di sampingnya.


Feni menatap Erlang untuk sesaat, ia melihat gerakan tangan pemuda itu mengikat rambutnya sebagian di belakang. Karena cukup menggangu saat nanti ia makan.


Wajah Feni bersemu merah, ia sama sekali tak bisa bohong. Erlang benar-benar tampan, dengan rambut panjang ia yang sekarang malah membuat Erlang terlihat makin tampan.


"Kenapa? Kamu gak enak badan" tanya Erlang sambil memegang pipi Feni yang terlihat memerah.


Feni gelagapan, menepis tangan Erlang dari pipinya.


"Gak" jawabnya cepat.


"Trus kamu kenapa?"


"gak apa-apa" Feni langsung mengambil sumpit dan mengaduk udon di hadapannya.


Erlang tertawa kecil, juga ikut mengaduk udon di hadapannya. Perutnya sudah terasa lapar ingin makan.


"Enak?" tanya Erlang sambil menyeruput udonnya dengan sumpit


Feni mengangguk.


"Ada kabar dari Adek?" tanya Erlang.


Feni menggeleng,

__ADS_1


"Kayaknya habis keluar dari penjara, dia memutuskan untuk putus hubungan dengan kita"


"Tapi aku dengar, dia pernah mengunjungi Ryan"


"Bagaimanapun juga mereka berdua sudah melewati banyak hal bersama, mungkin akan sangat sulit jika harus berpisah" ucap Feni.


"Sama dengan kita" Erlang menambahkan.


Feni tersenyum dan menggenggam tangan Erlang erat.


"Lang, kamu gak mau ganti wallpaper Hp kamu" kata Feni pandangannya teralihkan ke layar Hp Erlang yang kebetulan masuk sebuah notifikasi Sms.


"Emang kenapa sama wallpaper itu" tanya Erlang balik.


Feni mengambil Hp itu, dan sudah bisa di prediksi pasti Feni tau kunci dari Hp itu.


"ini fotonya udah lama kali, kamu juga ngambilnya diam-diam" kata Feni melihat layar ponsel Erlang.


Itu adalah foto dia saat dulu mereka melihat matahari terbit di Bali. Feni baru tahu beberapa tahun belakangan ini kalau Erlang mengambil fotonya diam-diam dan menjadikan wallpaper.


"Foto itu punya kenangan tersendiri buat aku"


"Foto itu adalah pertama kalinya aku sadar kalau kamu penting buat aku" jelas Erlang yang membuat wajah Feni langsung merah.


"Erlang" rengek Feni menutup pipinya dengan kedua tangannya.


"ini" Feni menyodorkan Hp Erlang lagi dan meletakkan ditempat semula.


"kamu sekarang ini sering kali memerah"


"Karena kamu sekarang ini sering kali ngengombal" Feni cemberut, bibirnya maju beberapa senti.


"Jangan bikin tampang ngegemesin kayak gitu. Kamu mau aku cium di tempat ini" goda Erlang.


"Erlang..." rengek Feni lagi yang disambut tawa dari Erlang. Kata-kata Erlang bukan hanya gombalan, ia pernah benar-benar mengecup bibir Feni saat gadis itu ngambek 2 tahun yang lalu. Dan bukan ide bagus jika itu terjadi lagi.


"Aku mau tambahan minum" kata Feni yang sebelumnya menghabiskan lemon tea di gelasnya dengan cepat dan berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Mau aku ambilkan"


"Gak usah" Feni sudah melangkah ke sudut ruangan itu mengisi penuh minumannya.


Feni berbalik menuju mejanya, namun langkah kakinya terhenti. Feni menghela nafas panjang, ini adalah sesuatu yang tidak ia sukai jika pergi keluar dengan sosok Erlangga Aditya Putra. Orang-orang, terutama cewek-cewek akan bergosip dibelakangnya, memuji ketampanannya, bahkan akan ada yang terang-terangan meminta no WhatsApp-nya.


Feni duduk dengan wajah cemberut, ingin marah tapi merasa tak tepat jika harus marah pada Erlang. Tapi dia kesal.


"kenapa lagi" tanya Erlang melihat perubahan mood kekasihnya.


"Erlangga Aditya Putra"


Erlang tertawa kecil saat nama lengkapnya di sebut Feni dengan wajah serius.


"iya, kenapa Feni Wirawan" balas Erlang.


"jangan terlalu tampan bisa gak sih?" ucap Feni dengan wajah serius.


Erlang akhirnya terbahak, ia berusaha menahan tawanya kalau tak ingat pacarnya saat ini sedang merajuk.


"Kamu aneh-aneh aja sih Yang"


"Apanya yang aneh, emang iyakan. Pas kemaren kamu dengan rambut pendek kamu tetap juga ada yang ngegosip, sekarang udah gondrong gini masih juga banyak yang ngegosip"


"Harusnya kamu senang lah pacar kamu dibilang ganteng"


"Iya senang, tapi aku cemburu. Aku selama ini gak ada tuh yang bilang aku cantik" jujur Feni


"bukankah setiap hari aku selalu bilang kamu cantik" kata Erlang.


"Iyah, tapi aku gak suka aja. Kalau dibandingkan orang-orang aku gak ada apa-apanya. Bahkan mereka lebih cantik dari aku, lebih smart, lebih dalam banyak hal. Bisa aja kan kamu tertarik sama salah satunya" jujur Feni lagi panjang lebar.


Erlang menarik nafasnya, berdiri dari duduknya dengan cepat mengecup bibir Feni lembut. Hanya ciuman singkat, Feni yang kaget menatap Erlang yang tersenyum.


"habiskan Udonnya" perintah Erlang.


Feni dengan patuh menyeruput Udonnya yang mulai dingin, menyentuh bibirnya untuk sesaat.

__ADS_1


Erlang melirik kekasihnya itu, siapa bilang dia bukan gadis cantik. Dia sangat cantik dimata Erlang. apalagi jika mengingat bagaimana ia berhasil menarik perhatian Roni. Mengingat itu saja membuat Erlang takut, ia benar-benar takut jika tiba-tiba Roni muncul lagi dan mencoba membawa Feni pergi.


...****************...


__ADS_2