Cinta Dibalik Heroin

Cinta Dibalik Heroin
seumur hidup


__ADS_3

Feni turun dari mobil diikuti Erlang, Erlang mengantarnya tepat di depan rumah bercat krem dengan pagar hitam. Itu adalah rumah Lina. Sahabatnya yang hari ini menelpon untuk minta berkunjung.


"Nanti pulangnya hati-hati ya" kata Erlang.


"Iyah, kamu juga hati-hati ya" pesan Feni.


"Pulangnya jangan di antar Yudha ya" goda Erlang.


"Apaan sih, gak. Yudha tuh suaminya Lina tau gak" jelas Feni.


"Iyah, tapi dulu dia pernah naksir kamu"


"Tapi sekarang dia udah punya anak lo Erlang"


"Mana tau kan dia masih suka kamu"


"Ih... Apaan sih" Feni cemberut mulai tak suka dengan perdebatan mereka.


Erlang tertawa kecil kemudian, mengacak pelan rambut Feni. Menatap kedua bola mata kekasihnya itu.


"Aku suka godain kamu, jangan ngambek ya" kata Erlang di bales cubitan di lengannya.


"Gak lucu"


Erlang kembali tertawa kecil,


"Aku harus balik ya, ingat pesan aku. jangan pernah tempatkan diri kamu dalam bahaya. Ngerti" kedua tangan Erlang menangkup di kedua belah pipi Feni.


"Siap pak, mengerti" jawab Feni.


"Aku balik ya" Erlang kembali berdiri tegak setelah sebelumnya mengecup kening Feni.


Feni mengangguk, Erlang masuk ke atas mobilnya, melambaikan tangannya dan kemudian pergi menjauh.


Feni sendiri berbalik dan masuk ke rumah Lina, di teras rumah ia telah disambut oleh Lina dan putra kecilnya bernama Rafqi.


"Ngapa aku di suruh datang" tanya Feni langsung memeluk anak berusia 1 tahun itu.

__ADS_1


"Aku masak banyak, Yudha lagi keluar kota. aku gak punya teman" jujurnya tertawa kecil.


"Dasar" kata Feni melangkah masuk ke rumah sahabatnya itu sambil mengendong Rafqi.


                                 ****


Erlang berhenti tepat di persimpangan saat lampu merah di sudut dan kanan jalan menjala. Panas sore masuk kedalam mobil yang membuat Erlang menutup rapat jendelanya.


Erlang menatap ke arah zebra cross saat seseorang yang mirip dengan seseorang yang ia kenal menyeberangi jalan.


Suara klakson yang menandakan lampu hijau menyala membuat Erlang mau tak mau memajukan mobilnya. Erlang sempat berhenti di pinggir jalan, melihat ke arah belakangnya memastikan siapa yang dia lihat tadi.


Namun karena tak ia lihat, Erlang kembali melanjutkan perjalanannya.


Sementara sosok yang ia lihat tadi adalah seorang perempuan dengan rambut di sanggul berjalan menuju kafe yang gak jauh dari lampu merah tadi.


"Udah datang Dek" sapa seorang perempuan seumuran dengannya, ia adalah Sukma pemilik dari cafe ini.


Sore jam 5 cafe ini mulai di buka untuk menerima pengunjung.


Adek segera ke ruang Staf untuk berganti baju, disana udah ada Ria yang juga baru selesai berganti pakaian dengan pakaian berwarna coklat dengan abron berwana krem.


"Jadi" jawab Adek singkat.


Ria telah kenal teman 1 kerjanya itu sekitar 8 bulan, Adek bukan orang yang banyak bicara. Ia hanya akan bicara seperlunya saja.


Ria mengangguk dan kemudian mengunci lokernya. Ria dan Adek keluar dari ruang staf bersiap untuk bekerja di hari ini.


...----------------...


Adek menjatuhkan tubuh lelahnya di tempat tidur sederhana di rumah kontrakannya, badannya terasa pegal. Kaki dan pinggangnya kram, ini lelah ia rasakan tiap hari. Namun ia bersyukur masih ada yang mau menerima ia bekerja, apa lagi dengan statusnya seorang mantan narapidana.


Besok adalah hari paling ia tunggu, ia telah menunggu sekian hari untuk menjumpai orang itu. Rindu telah memuncak di dadanya.


Sekarang seseorang yang begitu ia rindukan itu telah duduk di hadapannya, kedua tangannya di borgol.


""Kamu jangan terlalu sering kesini" kata si pria dengan baju orange itu.

__ADS_1


"Emang gak sering kan, jadwal besuk kamu hanya boleh 1 kali dalam 2 minggu" jelas Adek.


"Dek.." panggil Ryan.


"hmmm"


"Lanjutin hidup kamu" pinta Ryan.


Adek tertawa kecil,


"Coba jelaskan sama aku gimana caranya" tanya Adek.


"Lupakan aku" mohon Ryan.


Adek menghela nafasnya panjang, menatap pria yang begitu dicintainya itu. Wajah Ryan terlihat lebih tirus dari biasanya. Janggut dan kumis tipis tumbuh di wajahnya yang tak terawat lagi.


"Caranya" tanya Adek lagi.


Ryan terdiam.


"Kamu sendiri bisa melupakan aku" tanya Adek kemudian.


Ryan menatap bola mata kesukaannya itu, menatap wajah yang penuh candu itu.


"Gak bisa kan" kata Adek lagi.


"Aku di hukum seumur hidup"


"Ya udah, aku juga akan menunggu kamu seumur hidup aku"


"Kamu ngerti kan maksud aku" Ryan tampak mulai kesal.


"walaupun kita nggak bisa hidup di tempat yang sama, paling tidak kita bisa hidup bumi yang sama"


"Aku paling tidak tahu, Kalau kamu masih ada di dunia ini" lanjut Adek.


Ryan hanya menatap wanita yang ia cintai itu, ia tau seberapa keras kepalanya Adek.

__ADS_1


"bisa bertemu satu kali dalam dua minggu itu udah cukup bagi aku" kata Adek lagi yang membuat Ryan terdiam.


...****************...


__ADS_2