
Erlang mencoba berbaring di tempat tidurnya, mencoba memejamkan matanya namun tak bisa. Pikirannya melayang pada penyataan Ryan kemaren padanya
Sampai sekarang ia masih belum sanggup sekedar bertanya pada pacarnya yaitu Feni.
Apa lagi Toni sampai membahas makna dari bunga Primrose yaitu "Cinta sejati, kamu milikku"
Erlang menghela nafasnya pelan, ia bangun dari tidurnya. Mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Sayang aku mau bertemu sebentar" pesan itu yang ia kirimkan pada Feni.
Feni yang bersiap-siap tidur di kamarnya melirik jam dinding kamarnya, tempat pukul 11 lewat 5 menit malam ini.
"Ada apa" tanya Feni penasaran. Tak biasanya Erlang ingin bertemu dengannya malam seperti ini.
Pesan itu tak kunjung dibaca, Feni yakin kalau Erlang sedang menyetir. Ada apa dengan prianya?
Tak berapa lama, Feni melihat ke arah jendela sebuah mobil hitam baru sampai disana. "terburu-buru sekali" ucap Feni pada dirinya sendiri.
"sebentar" Feni mengirim chat, kemudian berdiri sebentar di depan cermin. Merapikan rambutnya dan baju piyama dengan setelan celana bermotif kotak-kotak.
Feni turun dari lantai 2, Andre menunggunya dengan wajah bertanya.
"Erlang didepan" kata Feni.
"Kenapa tengah malam datangnya?"
Feni menggeleng dan mengangkat bahunya tanda tak tau.
"Jangan lama-lama, segan sama tetangga" ucap Andre kemudian.
"Siap" Feni bergegas menuju depan rumahnya. Saat Feni membuka pintu, barulah Erlang turun dari mobilnya.
"Kenapa?" tanya Feni.
"kamu udah mau tidur?"
Feni mengangguk.
"Fen" Panggil Erlang.
Feni menatap Erlang yang memanggil namanya, kedua mata keduanya bertemu.
"Ada apa?" tanya Feni mulai penasaran.
"Apa Roni meninggalkan sebuah pesan sama kamu?" tanya Erlang.
Feni tersentak, kenapa tiba-tiba ada pertanyaan itu muncul? Apa Erlang tau sesuatu tentang surat kecil itu?
__ADS_1
"Kok kamu nanya gitu" Feni terlihat gugup. Matanya menghindari tatapan mata Erlang. Erlang sangat hafal saat pacarnya itu berbohong.
"Aku hafal gimana kamu panik, gimana kamu bohong. Kamu gak aka berani menatap mata aku" jelas Erlang.
"Aku gak bohong" bantah Feni.
"Trus" Erlang menatap penuh desakan.
Feni menatap kearah lain, padahal Erlang tepat berdiri didepannya. Feni menggigit bibirnya dengan gelisah.
"Fen" panggil Erlang lagi, tak ada nada marah. Nada lembut yang biasa, hanya saja membuat Feni panik.
"ada secarik kertas didalam jaket yang aku pakai saat di pantai" akhirnya Feni menatap mata Erlang.
"huhhh" Erlang menghembuskan nafasnya kasar. Matanya beralih menatap langit malam.
Feni dapat melihat jelas ada wajah kecewa dari Erlang mendengar pengakuannya.
"Apa isinya?" Erlang menarik nafasnya pelan sebelum akhirnya bertanya lagi.
"Aku akan ambil kertasnya" Feni berlari masuk kedalam rumah.
"Ada apa?" tanya Andre yang memperhatikan dari tadi dari jendela.
Feni hanya diam, ia berlari ke kamarnya yanga ada dilantai 2 kemudian tak selang berapa lama berbalik turun.
"Fen" panggil Andre lagi dan lagi-lagi dicuekin.
"Ini" kata Feni.
Erlang menerima kertas putih yang berukuran 3 x 7 cm itu. Erlang sangat yakin itu adalah kertas dari struk belanja. Bagian rincian belanjanya sudah mulai menghilang, tapi masih bisa terbaca "Cafe Maliva Bali". Erlang membalik kertas itu sebuah tulisan yang membuat dada Erlang terasa tertusuk.
"Aku akan menjemputmu" tulisan itu tertulis dengan tinta hitam.
"Kenapa gak kasih tau aku?" tanya Erlang menatap Feni.
"Aku.." Feni tak jadi menyelesaikan kalimatnya, ia bisa melihat wajah kecewa Erlang saat ini.
"Apa?" desak Erlang.
"Aku pikir itu gak terlalu penting" Feni mulai cemas.
"Kenapa ini gak penting? Kalau gak penting kenapa kamu simpan?" tanya Erlang dengan nada sedikit tinggi.
"Lang" panggil Andre keluar dari rumah.
"Kalau kalian mau ribut, sambung aja besok pagi. Ini udah malam" Andre datang mendekat.
__ADS_1
Erlang sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Andre disana.
"Fen" panggil Erlang lagi.
"Kenapa?" desaknya lagi.
"Aku gak tau" Feni mulai terisak.
"Selain kertas ini apa lagi yang ditinggalkan Roni" tanya Erlang. Mendengar nama Roni disebut, Andre merebut kertas ditangan Erlang.
"Apa Artinya ini?" tanya Andre setelah membaca kalimat di kertas itu.
"Fen" Andre ikut mendesak Feni.
"kenapa kertas itu gak kamu buang? Apa Roni sepenting itu?"
"Lang" Feni makin terisak.
"Bagi aku kertas itu sama sekali gak penting, hanya saja aku gak yakin untuk buang kertas itu" jelas Feni disela tangisannya.
"Gak pernah sekalipun aku berfikir Roni itu penting buat aku" lanjut Feni.
"Lang" panggil Feni menggenggam kedua tangan Erlang erat.
"jujur aku kecewa" kata Erlang dengan nada datar.
"Aku benar-benar gak ada apa-apa sama Roni, hanya kertas itu yang ia tinggalkan. Gak ada apapun lagi" tangis Feni semakin kuat.
"Lang udah, ini udah malam" tegur Andre.
"Kamu masuk kedalam, istirahat. Aku akan pulang" kata Erlang.
"Gak mau, jawab dulu. Kamu percaya sama aku kan" Feni menahan tangan Erlang menariknya kuat.
Erlang menarik tangannya, menatap kekasihnya itu. Hatinya ikut menangis melihat air mata Feni. Tangannya mengusap lembut air mata di pipi itu.
" kamu masuk dan istirahat ya" kata Erlang lagi dan kemudian berbalik pergi.
"Gak mau, Lang" panggil Feni berusaha mengejar tapi ditahan Andre.
"Udah Fen, biarkan Erlang tenang dulu. Kita masuk yuk" ajak Andre
"Tapi Erlang" Andre membawa Feni dalam pelukannya. Sementara Erlang langsung pergi begitu saja dari depan rumah itu. Jujur ia sangat kecewa.
Feni terisak dalam pelukan Andre, Andre berusaha menenangkan Feni yang semakin menangis.
"Hanya Erlang Ndre, aku gak akan khianati dia" ucap Feni disela tangisnya.
__ADS_1
Andre mengangguk, mengusap lembut rambut Feni. Ia juga harus bertanya tentang kertas itu, tapi sebaiknya besok ia tanyakan setelah kondisi Feni agak membaik.
...****************...