Cinta Dibalik Heroin

Cinta Dibalik Heroin
Bertemu


__ADS_3

Feni sedang mengendarai mobil milik Lina. Feni sebenarnya pandai nyetir mobil, hanya saja ia tidak pernah di izinkan oleh Andre untuk bawa mobil sendiri walaupun ada mobil terparkir di rumahnya.


Feni menyetir di mobil Civic putih itu di dampingi Lina, Lina sedang duduk di sampingnya sambil mengendong Rafiq. Mereka berdua berencana untuk pergi jalan-jalan sore ini.


"Fen...fen" Lina berseru tiba-tiba yang membuat Feni kaget dan menginjak rem mendadak.


Suara klakson panjang terdengar dari belakang, Feni menurunkan kaca mobilnya sambil berucap maaf walaupun ia yakin makian yang ia dapat.


"Kenapa sih?" Feni berkata pada Lina setengah berteriak.


"Maaf Fen, tadi aku lihat Adek" Lina duduk gelisah dan celingak-celinguk melihat kearah belakang.


"Adek" tanya Feni memperjelas pendengarannya.


"Iyah Adek" jawab Lina meyakinkan.


Feni langsung mencari juga dengan melihat ke arah belakang,


"itu yang pake topi, yang pake baju hitam" kata Lina melihat seorang dari arah belakang.


"Tunggu...Kita harus mutar di depan" kata Feni menjalankan mobilnya kemudian memutar arah dan mengejar target.


"Adek" panggil Lina namun yang di panggil sama sekali tidak ada respon.


"Lin..." panggil Lina lagi. Feni memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


"Adek" panggil Feni keluar dari mobilnya.


Sosok yang di panggil tadi akhirnya membalikkan badannya. Dia memang sang sahabat yang dari tadi di panggil.


Wajah adek terlihat kaget melihat yang memanggil namanya tadi. Adek tak sempat bereaksi saat ia di peluk oleh Feni erat.


Senyuman mengembang di wajah Adek saat Lina ikut memeluk Adek. Ada perasaan bahagia yang tak bisa ia katakan.

__ADS_1


"Kalian duduk dulu, minum dulu" kata Adek meletakkan segelas orange jus dan ice lemon tea.


"Kamu kerja disini?" tanya Lina.


Adek mengangguk.


"Aku ganti baju dulu, kalian tunggu disini dulu" ucap Adek pamit dan masuk ke ruang staf.


Feni dan Lina saling tatap, banyak sekali pertanyaan di kepala keduanya saat ini.


Feni meneguk es lemon tea itu, kemudian menghela nafas pelan.


Lina menggenggam tangan Feni, walaupun mereka bertiga dekat tapi Lina tau persis seperti apa dekatnya Feni dengan Adek. Lina menatap Feni dengan wajah tersenyum.


"Rafqi mau makan kue" tawar Adek pada Rafqi. Suasa cafe sudah tidak terlalu rame, Adek sudah minta izin untuk duduk bersama dengan 2 sahabatnya itu.


"Makasih nte" Lina menerima kue keju yang tersaji di piring kecil itu.


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik, aku bebas 4 bulan lebih cepat karena pengurangan masa tahanan" Jelas Adek, ia yakin itu yang ingin mereka ketahui.


"Kenapa gak cari kami?" tanya Lina.


"Aku akan ngerepotin kalian, walaupun kalian akan bilang gak. Tapi aku yang gak enak" jawab Adek, ia bicara dengan nada tenang seperti biasa.


"Aku beruntung pemilik cafe ini orang baik, dia mau nerima aku kerja disini meski dengan latar belakang yang buruk" lanjut Adek.


"Dek" tegur Feni menggenggam tangan sahabatnya.


"Itu kenyataannya Fen"


"Kamu gak sendirian lagi, aku tau persis kamu seperti apa. Kamu bisa merasa kesepian sesekali, bisa mencari kami tanpa alasan. Kami akan sangat senang" jelas Feni kemudian.


"Iyah, Feni bener"

__ADS_1


Adek tidak bisa membendung air matanya, itulah sahabatnya. Yang tetap memeluknya walaupun apapun yang terjadi, tetap berdiri disampingnya walaupun tau ia seperti apa.


"Ryan gimana? Kamu ada temui dia" tanya Lina.


Adek mengangguk,


"Kalian pasti tau kalau dia di hukum seumur hidup, tapi gak gampang pergi begitu saja"


Feni dan Lina mengangguk mengerti.


......................


"Jadi kamu pernah lihat Adek" tanya Feni menarik kepalanya yang dari tadi ia sandarkan di bahu Erlang.


Keduanya sedang duduk di cap mobil milik Erlang, mereka baru saja selesai lari pagi.


"Iyah, tapi kalau aku bilang ke kamu aku lihat Adek. pasti kamu akan langsung nyari dia, sama seperti kejadian 2 tahun yang lalu" Jelas Erlang sebelum Feni sempat mengomel.


Feni diam, ia tau persis apa maksud dari Erlang.


"Dia masih berhubungan sama Ryan"


"Aku tau, menurut informasi adek mengunjungi Ryan 2 kali dalam 1 bulan" kata Erlang.


Feni terdiam sesaat, entah apa yang ia fikirkan.


"Jangan berfikir berlebihan, yang penting adek bahagia dengan apa yang ia jalankan sekarang" Erlang mengusap kepala Feni lembut.


Feni mengangguk.


" Iyah" Feni mencoba tersenyum.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2