
Feni menatap cermin didepannya memastikan tak ada bedak yang luntur atau lipstik yang tak pada tempatnya.
Rambutnya disanggul cantik, ia merapikan anak rambutnya.
Kemudian berdiri dan tersenyum merapikan jubah hitam yang ia kenakan, sebuah kostum yang menandakan ia telah selesai berjuang di bangku kuliah.
"udah, ayok" ajak seseorang pria berdiri di belakang Feni. Pemuda tampan dengan rambut yang sedikit gondrong, pemuda yang lebih tinggi darinya itu kini mengenakan seragam yang di dada kirinya tertulis POLISI.
Andre berjalan menjauh dari depan cermin menuju studio pemotretan.
Hari ini Feni mengajak Andre untuk foto studio, untuk bisa dibingkai dan di pajang di rumah mereka. Meski membawa Andre kesini butuh pengorbanan, karena membujuk si sulung yang punya jadwal sangat padat ini sangat tak mudah.
"oke, mbak mas silakan atur posisinya" kata fotografer.
Feni duduk di bangku dengan Andre yang berdiri disampingnya.
"Toganya" ujar seseorang dari belakang fotografer.
" Oh iya" kata Feni.
Seorang perempuan seumuran Feni yang tadi ikut membantu Feni bersiap-siap segera mengambil toga itu dan memasangkannya di kepala Feni.
Feni tersenyum,
"Makasih"
Feni dan Andre mengambil berapa posisi dalam sesi foto kali ini,
"silakan bertiga lagi" kata si fotografer.
Feni mengangguk antusias, cowok yang dari tadi berdiri di belakang fotografer maju ke depan. Ia sama-sama mengenakan seragam dengan tulisan polisi di dadanya.
Feni langsung menyambut kehadiran cowok itu, bahkan langsung menggandengnya.
"sepertinya Erlang yang lebih diharapkan hadir disini" sindir Andre.
Feni yang merasa langsung menatap kakaknya dan kemudian melingkarkan tangan kananya di lengan kakaknya dan begitu juga tangan kirinya, melingkar di lengan Erlang.
"Ok, kayak gtu aja dulu boleh" kata si fotografer dan langsung mengambil gambar. Berapa kali mereka ganti gaya sampai akhirnya mendapatkan acungan jempol dari si fotografer.
__ADS_1
" kalian berdua aja lagi" kata Andre melangkah keluar.
" Hah.. Boleh" Feni kaget, karena dari awal Andre tak mengizinkan Erlang ikut, yang akhirnya di izinkan setelah berjanji tidak akan ada foto berdua dengan Erlang.
"Hmm hu..uh"
"Tapi jangan dekat-dekat kalau bisa berjarak" lanjut Andre yang merubah mood Feni.
"Gimana pula berfoto berjarak" protesnya.
"bisa kak, biar kami bantu" si mbak yang tadi menengahi, memposisikan Feni dan Erlang berdiri dengan jarak setengah meter.
"Hadap kamera ya kak" katanya lagi.
"ok, senyum" kata si fotografer.
"ok saling tatap" kata dia lagi mengarahkan.
Feni dan Erlang saling menatap kearah masing-masing. Mata mereka bertemu dan kemudian tersenyum.
" oke bagus" kata Si fotografer lagi.
Feni langsung cemberut, walaupun begitu Andre sama sekali tak terpengaruh.
Si fotografer tampak bingung dengan pertikaian yang dari awal tadi terjadi saat mereka datang.
"Terimakasih mas mbak" ucap Erlang menyetujui
"Erlang.." protes Feni.
Erlang menggeleng kearah Feni, ia tidak terima protes.
"Udahlah, dari pada nanti Andre suruh hapus semua fotonya" jelas Erlang.
Feni menarik nafasnya dengan kasar menatap Andre dengan tatap paling mematikan. Andre sama sekali tak terpengaruh, duduk di bangku sambil meneguk minuman botolnya.
“Mas boleh lihat hasilnya gak” pinta Feni akhirnya mengalah dan pergi ke mas-mas fotografer.
Erlang terkekeh, mudah sekali mood feni berubah yang tadi panas membara dengan aura membunuhnya sekarang berubah adem.
__ADS_1
Erlang yang sedang menatap Feni merasakan hawa membunuh dari arah lain. Andre saat ini sedang menatap Erlang dengan tatapan siap menerkam. Erlang malah tertawa melihat tatapan itu, berjalan ke arah Andre dan merangkul bahunya.
"gue udah terbiasa sama tatapan lo" kata Erlang masih memandangi Feni yang sibuk dengan hasil fotonya.
"Jangan pernah berfikir lu bisa menikahi Feni karena dia sudah lulus" ucap Andre dengan nada ketus.
Erlang melepas rangkulannya, sedikit memberi jarak antara ia dan Andre, sambil menatap wajah Andre yang sangat serius.
"Feni juga gak akan kau menikah duluan sebelum lo nikah, jadi lo harus segera menikah" jawab Erlang dengan senyum mengejeknya.
"Jangan biarkan Feni terlibat masalah yang berbahaya lagi"
"gw tau. Gue akan jaga dia baik-baik"
"Kalian berdua ngomongin apaan" kata Feni yang tiba-tiba datang dan merangkul lengan Andre dan Erlang.
"Erlang bilang make up kamu hari ini agak jelek, bikin kamu agak tua" fitnah Andre.
Feni mengerutkan keningnya dan menatap Erlang, Erlang sendiri langsung meninju pelan lengan Andre.
"Kapan gw ngomong gitu"
Feni tertawa kecil, dia tau kakaknya hanya mencoba membuat kericuhan.
"Kita belum ada selfie, selfie yuk" ajak Feni.
"Ayok"
"Pake hp Andre, kameranya paling bagus"
"kenapa pake hp aku, hp kamu aja lah"
"Mati, baterai habis" Feni mengangkat Hp nya dan menunjukan layar Hpnya yang tidak menyala.
Walaupun menggerutu kesal, akhirnya Andre mengeluarkan benda pipih itu dari sakunya, dan langsung disambut senyum sumringah dari Feni.
"Makasih" Feni langsung menerimanya dan membuka kunci layar Hp itu. Sekali gerakan kuncinya terbuka,
"Sister complex" bisik Erlang begitu melihat wallpaper smartphone itu adalah foto pacarnya.
__ADS_1
"Ok.. Senyum" perintah Feni. Mereka bertiga langsung fokus ke kamera.