Cinta Dibalik Heroin

Cinta Dibalik Heroin
Bab 23 Jemput


__ADS_3

Kaki Feni sudah mulai lelah berjalan, suara air laut beradu dengan karang mulai terdengar jelas. Sebentar lagi subuh, matahari akan segera muncul. Tangannya terus digenggam Roni dari tadi.


Roni berbalik menatap Feni, merasakan langkah kaki Feni mulai melambat. Ia tau gadis itu lelah, hampir semalam dia tidak tidur. Apa  mentalnya pasti tak baik setelah apa yang terjadi.


“Kamu capek?” tanya Roni dengan nada lembut.


“Hmmm..” Feni tersadar dengan lamunannya.


Roni kembali tersenyum,


“Kayaknya ditepi pantai sana ada pondok, ayo istirahat disana” ajak Roni.


Feni mengangguk setuju, ia memang sudah sangat lelah. Bukan cuman badannya yang lelah, otanya juga lelah berfikir dari tadi.


Feni duduk disebuah pondok panggung yang terbuat dari bambu, suara ombak terdengar sangat jelas. Laut hanya beberapa meter dari tempat mereka duduk.


Roni duduk samping Feni, ia menatap gadis disampinya. Ia baru sadar kalau dia telah gila karena cewek itu. Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Feni, ia bahkan membunuh ayah angkatnya.


Tangan Roni terangkat ingin menyentuh sudut bibir Feni, Feni kanget dengan reflek dia menarik wajahnya menjauh. Gerakan tangan Roni berhenti sesaat kemudian kembali bergerak menyentuh sudut bibir Feni.


Feni meringis pelan saat tangan Roni menyentuh lukanya, mendengar ringisan Feni, hati Roni sakit rasanya.


“Tidurlah, istirahat lah sebetar. Kamu lelah kan” ucap Roni meletakkan telapak tangannya dipipi Feni yang tadi ditampar Marko.


Feni mengangguk, ia memang sangat mengantuk. Kepalanya sudah terasa berdenyut tadi.


Roni menggeser duduknya menjauh dari Feni, memberi ruang antara ia dan Feni lantas kemudian menepuk lantai pondok. Memberi isyarat kalau Feni bisa rebahan disana.


Feni merebahkan tubuhnya. Mengangkat kakinya, ke atas pondok. Pondok yang tidak terlalu besar itu membuat Feni harus melihat kakinya. Sebuah benda tiba-tiba menutupi tubuh Feni.


Feni membuka matanya pelan, iya bener-bener mengantuk. Sebuah jaket yang tadi dipakai Roni menutupi tubuhnya. Meski hanya menutupi bagian tubuhnya yang atas paling tidak Feni sudah merasa nyaman sehingga memejamkan matanya lagi.


Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Feni makin mengantuk, ia sama sekali tidak tertarik untuk membuka matanya lagi. Karena ia tahu  itu tangan siapa itu.


Feni makin terlelap dalam tidurnya,


“Andai aku bisa bawa kamu pergi” bisik Roni.


Pagi akhirnya datang juga, meski belum terang. Namun mata Roni bisa melihat didepan mereka ada laut dengan ombak yang sibuk menari.


Matanya kembali menatap Feni yang terlelap, ia mengusap pelan pipi Feni. Kemudian membungkuk dan mengecup puncak kepala Feni pelan.


Feni Irawan tidak juga ditemukan, pagi telah datang menyapa dengan embun pagi tipis yang menyelimutinya.

__ADS_1


Erlang, Andre, dan anggotanya telah berkeliling mencari Feni, tapi tak jua mereka menemukan gadis itu. Lelah terlihat jelas terukir diwajah mereka, sekarang mereka sedang menyisir daerah kampung nelayan. Tapi tak ada juga petunjuk tentang keberadaan Feni.


“Kita kemana lagi?” tanya Toni.


Andre terdiam, apa yang harus dilakukannya. Adiknya tak jua ditemukan, pagi sudah datang. Tapi petunjuk tentang keberadaan Feni tak ada sama sekali.


Bagaimanapun juga dia harus menemukan keberadaan Feni, bukan hanya tugas dia sebagai polisi tapi juga tugas dia sebagai seorang kakak.


Erlang merongoh hp nya, di saku celananya. Ia diam sesaat membaca pesan yang masuk ke smartphonenya.


“Jemput dia atau aku bawa dia untuk selamanya”


Erlang terkesiap dengan pesan itu, ia yakin sekali itu dari Roni. Walaupun si pengirim pesan itu adalah nomor asing.


“Cari lokasi nomor ini sekarang” kata Erlang menyerahkan bendah pipih 6 inci miliknya kepada Andre


Andre membaca pesan itu untuk sesaat,


“Cepat cari lokasi nomor ini” teriak Andre.


***


 


“Fen..”Erlang memeluk Feni erat.


“Lang..”panggil Feni mulai sadar dengan situasi saat ini. Ia menagis membalas pelukan Erlang.


“Fen..”


Feni melepaskan pelukan Erlang mendengar suara sang kakak memanggilnya.


“Ndre…” Feni lansung memeluk Andre.


Andre mengusap punggung adiknya lembut. Feni terisak pelan, membalas pelukan Andre erat.


“Disini tim 1, Feni Irawan telah ditemukan” kata Toni melalui walkie tokie nya.


“Dan tersangka berhasil melarikan diri” lanjut Toni


***


 

__ADS_1


Andre dan Feni duduk disebuah bangku, mereka duduk berdampingan. Ruangan itu memiliki cat bewarna cream. Feni memakai jaket yang tadi ditinggalkan Roni. Jaket berwarna abu-abu.


“Jadi itu yang terjadi”tanya Andre


Feni menganguk, dari tadi dia di interogasi oleh kakaknya. Feni hanya menyampaikan apa yang ia tahu. Dan yang ia alami.


“Aku yakin kamu akan dipanggil untuk jadi saksi, bagaimanapun juga Roni masih buron” jelas Andre.


“Aku tau” jawab Feni.


Andre tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Feni lembut. Sebuah suara ketukan di pintu yang terbuka itu terdengar, membuat keduanya mengalihkan pandangan mereka kearah pintu.


“Maaf gue ganggu” kata Erlang mengangkat sebuah kotak P3K kearah Andre dan Feni.


“Gue udah selesai, loe bantu Feni obati lukanya ya” kata Andre berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu. Ia sempat menepuk pundak Erlang dan kemudian pergi.


Erlang berjalan masuk, kemudian duduk disebelah Feni. Dalam diam dia mengeluarkan kapas, kemudian obat merah. Menuang sedikit obat merah ke kapas.


“Tahan sedikit ya”kata Erlang, kemudian tanpa menunggu jawaban Feni. Erlang mengusap pelan luka disudut bibir Feni.


“Sssss…”Feni meringis pelan membuat gerakan tangan Erlang terhenti.


Kemudian kembali mengusap luka itu. Setelah ia rasa cukup, Erlang menyimpan alat P3K nya.


Tangan Erlang menarik tangan kanan Feni, kemudian memasangkan gelang berwarna gold dipergelangan tangannya.


“Gelang ini” ucap Feni mengenali gelang yang telah terpasang di pergelangan tangannya. Beberapa waktu lalu ia baru sadar kalau gelamg itu hilang.


“Hu..uh” gelang ini ditemukan di mobil Marko.


“Lain kali jangan tempatkan diri kamu dalam bahaya lagi” pinta Erlang menggenggam telapak tangan Feni.


Feni menganguk, ia memang bisa melihat bagaimana cemasnya Erlang tadi. Feni membalas genggaman tangan Erlang dan tersenyum.


“Aku mencintai kamu” kata Erlang kemudian mendekatkan wajahnya, mengecup pelan luka di sudut bibir Feni.


Feni terdiam dengan perlakuan Erlang, ia meremas kuat kertas yang ada disaku jaket sebelah kirinya dalam diam.


“ Aku juga mencintai kamu” kata Feni kemudian dan memeluk Erlang.


Kertas didalam saku jaket itu telah remuk, hanya sebuah sobekan kertas yang membuat Feni sangat takut. Feni mengencangkan pelukannya, sangat ingat tulisan di kertas itu.


“Aku akan menjemputmu”

__ADS_1


Kata-kata itu yang tertulis disana, Feni yakin dengan pasti kalau Roni yang meninggalkan kertas itu untuknya. Ia berfikir sebaiknya ia menyembunyikan kertas itu atau membuangnya nanti, pesan yang ditinggakan Roni itu hanya akan membuat Erlang ataupun Andre cemas.


__ADS_2