Cinta Dibalik Heroin

Cinta Dibalik Heroin
Berbaikan


__ADS_3

Feni menuruni anak tangga dengan malas, terlihat Andre telah siap di meja makan. Ia sudah mengenakan pakaian rapi.


"Pagi Ndre" sapa Feni duduk di salah satu kursi di meja makan.


"Pagi, hari ini masih izin kan?" tanya Andre, karena ia sendiri yang kemaren pergi ke kantor untuk meminta izin soal Feni.


Feni mengangguk,


"besok udah boleh masuk kerja?" tanya Feni.


"Kenapa? Bosan" jawab Andre tapi balik bertanya.


"Iyah" jawab Feni singkat, ia fokus dengan handphonenya.


"Erlang udah hubungi kamu"


Feni menggeleng.


"Dia marah" kata Feni dengan nada memelas, ia berusaha menahan air matanya.


"Biarin Erlang tenang dulu, nanti dia pasti hubungin" Andre coba menenangkan.


"Tapi gak pernah Erlang semarah ini, gak pernah Erlang gak hubungi sama sekali" kata Feni makin terlihat sedih.


Erlang memang orang yang akan selalu menghubungi Feni walaupun sesibuk apapun dia, walaupun hanya pesan singkat. Ucapan selamat pagi dan pertanyaan kegiatan apa aja dia hari ini adalah pesan yang selalu masuk ke WhatsAppnya.


"Erlang" panggil Feni merengek.


Andre menghela nafasnya berat, inilah sisi lain Feni. Manja, ia akan merengek dan Andre akan jadi penenang yang mendengar rengekan Feni.


"Udah..udah, jelaskan aja sama Erlang seperti apa yang kamu ceritakan sama aku semalam" kata Andre menarik adiknya kedalam pelukannya.


Feni mengangguk, menyeka air matanya. Matanya sudah sembab karena menangis dari tadi malam.


................


Feni melirik handphone, gak ada sama sekali notifikasi masuk dari Erlang. Semarah itu kah ia, padahal Feni sama sekali tak ada niat apa-apa perihal kertas itu.

__ADS_1


"Erlang"


"Dimana?"


"aku gak ada maksud apapun dengan menyembunyikan kertas itu"


"Erlang"


Pesan itu masuk ke WhatsApp Erlang, namun sama sekali tak ada balasan.


Pesan dari Feni tidak ada balasan sama sekali sampai ia masuk kerja hari ini. Feni sangat malas kerja hari ini, bahkan saat di ajak makan siang ia menolak. Feni lebih suka menghabiskan waktu dengan memandangi handphonenya.


"Erlang" lirihnya.


Ingin rasanya ia menangis, tapi untung ia ingat kalau saat ini ia sedang ada di tempat kerja.


Feni berjalan lemas di lobi kantornya, jam kerjanya baru saja berakhir. Ia berjalan menuju halaman depan kantornya.


"Kamu pulang sendiri ya" pesan singkat itu terbaca dari Andre.


Feni memutar matanya malas, berjalan gontai keluar gedung. Pintu kaca otomatis kantor itu terbuka begitu Feni sampai di depannya. Mata Feni membulat begitu melihat sebuah mobil yang ia kenal terparkir, seorang pemuda yang ia rindukan dari kemaren berdiri disana.


Erlang membalas pelukan erat Feni pada tubuhnya, ia tersenyum. Bagaimanapun ia sangat merindukan gadis bawelnya ini.


"Kamu gak malu, kita di lihatin semua orang" tanya Erlang merengkuh kepala Feni semakin bersandar ke dadanya.


Feni menggeleng.


"Biar semua orang tau, pria tampan ini pacarnya Feni Wirawan" bisik Feni.


Erlang tertawa kecil.


"Erlang lapar" kata Feni menarik kepalanya yang ia sandarkan ke dada Erlang.


"Mau makan apa?" tanya Erlang masih melingkarkan tangannya di pinggang Feni.


"Udon"

__ADS_1


"Ayo" ajak Erlang.


Feni mengangguk, mengikuti langkah Erlang menuju mobilnya.


"Erlang" panggil Feni saat di atas mobil.


"Hmmm"


"kertas pesan itu..."


"Gak usah bahas soal itu lagi, yang penting kedepannya kalau ada apa-apa. Kamu harus kasih tau aku, apapun itu" Erlang memotong kata-kata Feni.


Feni mengangguk mengerti, Erlang melirik Feni sebentar. Tersenyum dan mengusap pelan kepala Feni, kemudian kembali fokus menyetir.


Feni tersenyum senang, Feni menarik tubuhnya ke arah Erlang bermaksud mencium pipi pria itu, karena sadar Feni bergerak Erlang refleks bergerak. Bibir Feni tepat mencium bibir Erlang, keduanya kaget. Erlang menarik wajahnya, melihat jalan di depan, tepat saat di persimpangan lampu merah menyala.


Erlang melirik Feni sambil tersenyum, wajah Feni terlihat memerah ia mengalihkan wajahnya ke sisi lain.


Erlang menarik tangan Feni dan menggenggamnya.


"Lain kali kalau mau cium bilang dulu, biar agak lama" kata Erlang menggoda Feni


"Jangan menggoda aku" Feni kesal memonyongkan bibirnya.


Erlang tertawa dan mengajak rambut Feni pelan.


"I love you Feni" bisik Erlang tepat saat ia mengecup pipi Feni lembut.


Feni menatap Erlang sambil tersenyum dengan wajah bersemu merah.


"Love you too" kata Feni.


Keduanya saling menatap dan tersenyum.


......................


Sebuah Foto masuk ke dalam pesan WhatsApp seseorang, foto itu adalah Foto Feni yang tadi di peluk Erlang.

__ADS_1


Ia menatap foto itu untuk sesaat, meletakkan handphonenya di meja kayu. Ia tersenyum sinis.


...****************...


__ADS_2