
Kenalkan namaku Fikha, usiaku 23 tahun, saat ini aku bekerja sebagai staf percetakan di Grafika Media, 6 tahun lalu, semenjak lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), aku melalang buana di ibu kota, bukan melanjutkan studi ku, tapi untuk bekerja, aku harus membantu ayah ibuku mencari nafkah, untuk menyekolahkan adik-adik ku.
Aku anak 3 dari 6 bersaudara, kedua kakak-kakakku sudah memilih mengikuti suaminya masing-masing.
Jadilah aku sebagai anak tertua dirumah harus bisa ambil andil dalam tanggung jawab.
Memang dulu sempat ingin melanjutkan studiku tapi aku sadar adik-adikku juga perlu pendidikan, akhirnya aku yang mengalah, saat aku selesai sekolah dulu, adikku yang bungsu baru kelas 4 SD, sedangkan adikku yang nomor 5 masuk SMA, dan yang nomor 4 kelas 3 SMA, jadi aku memilih mengalah dan membantu mencari biaya sekolah untuk adik-adik ku.
Masih ku ingat dulu saat aku putuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib ke kota, benar-benar hanya berbekal nekat dan keyakinan, yakin bahwa akan ada perubahan saat aku bekerja di kota, sementara ibu dan ayahku jadi buruh harian dipabrik Tahu di desaku.
Lumayan menguras waktu, aku melamar kerjaan, untungnya dalam beberapa hari aku dapat panggilan dari salah satu media cetak tempatku melamar, aku di interview, dan beberapa hari kemudian pengumuman hasil interview, dan hasilnya sangat memuaskan, aku diminta training 3 bulan, selepas itu aku jadi karyawan tetap.
Aku bekerja menjadi staf di sebuah media cetak dan ada kerja sampingan, akhir-akhir ini keuangan keluarga sedang merosot dari biasanya, ayah jatuh sakit, dan ibu juga tak bisa meninggalkan ayah, karna harus merawatnya dirumah.
Untungnya adikku yang nomor 4 sudah wisuda S1nya 6 bulan sebelum ayah sakit, dan membantu bekerja juga, meskipun masih masa-masa training tapi ya lumayanlah membantu.
"Kamu sudah berumur nak, pikirkan dulu masa depanmu, adik-adik mu pasti akan seperti kamu kelak, mulailah pikirkan diri sendiri, menikah, mengurusi anak dan suamimu juga" kata-kata ayah yang masih terngiang di telingaku saat aku menelepon kekampung seminggu yang lalu.
__ADS_1
Ayah benar aku selalu memikirkan keluargaku diatas kebahagiaanku sendiri.
Sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya aku membahagiakan diriku sendiri, aku bahkan lupa mencari pasangan atau cintaku, karena aku memang sedang trauma dengan cinta, yang terakhir saja aku kecewa berat.
Hobbyku mendengarkan musik, membaca, bernyanyi meskipun suaraku benar-benar tidak merdu, ngemil, traveling.
Pekerjaanku padat dua minggu lalu, dan hari ini aku mendapat libur, dan bonus cuti selama dua minggu, dan cuti kali ini aku jadikan hari-hariku, rencananya aku mau pulang kampung, menjenguk ayah yang sakit, tiket pesawat pun sudah kubeli, tinggal tunggu tanggal berangkat lagi.
"Fikha pulang ya buk besok pagi, soalnya dapat cuti dari kantor, kebetulan juga karena Fikha udah lama gak pulang kekampung" ujarku pada ibu saat aku menghubunginya via telepon tadi pagi.
Ibu yang mendengar ucapanku sangat senang.
Suara haru ibu di ujung telepon membuatku menitikkan air mata, bagaimana tidak dalam dua tahun belakangan aku tak pulang sama sekali. Tak dapat libur dari kantorku.
#Keesokan harinya
Hari yang paling aku tunggu tiba, yaitu pulang kampung, bertemu keluarga tercintaku.
__ADS_1
Pagi-pagi buta aku bangun, merapikan barang-barangku dan menyiapkan diri juga, mandi, sarapan, dan turun ke bandara.
Setelah check-in, mendapatkan nomor kursiku, aku menunggu di ruang tunggu.
Sembari menunggu keberangkatan aku masih melirik-melirik ponselku.
"hmmm, kayaknya cuma diread" batinku pada diriku saat aku lihat dengan iseng pesanku di messenger pada akun seseorang kemarin.
15 menit menunggu, akhirnya pesawat yang aku tumpangi lepas landas juga. Didalam pesawat aku tidur dan terjaga saat telah tiba di bandara tempat kami mendarat. Satu jam setengah dalam perjalanan, turun dari pesawat aku mencari Taxi, dan menuju rumahku.
Suasana dirumah sudah ramai karena keponakan-keponakanku dan adik-adikku rebutan oleh-oleh yang aku bawa. Sedangkan aku duduk didekat ayahku yang terbaring lemah, tampak wajah lelah dan tua dimuka ayahku, aku benar-benar tidak tega.
"Ayah juga mau menimang cucu dari kamu Kha, lekas lah menikah" begitu kata ayah, aku hanya bisa tersenyum saja.
Selama di kampung hari-hariku benar-benar indah, berbaur dengan keluarga dan tetangga yang cukup lama tak ku jumpai, sampai-sampai aku enggan untuk pulang kembali ke kos-kosanku yang sepi.
Tapi apalah dayaku waktu berliburan ku sudah berakhir, dan selama aku dikampung ayah nampaknya lumayan membaik, itulah yang membuat aku sedikit bahagia meninggalkan mereka lagi.
__ADS_1
Dan kembali ke rutinitas sehari-hariku yang padat di penerbitan.