Cinta Gadis Wedding Planner

Cinta Gadis Wedding Planner
BAB 12


__ADS_3

"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam" Sahut Bu Marni yang telah menunggu kedatangan anak angkatnya dari tadi.


"Maaf ma telat" Ucap Widi seraya mencium tangan Bu Marni dengan takzim.


"Gak apa-apa, kamu udah makan" tanya Bu Marni lagi.


"Udah ma"...


"Widi bahan masakan di kulkas mama udah habis, gimana kalau kita ke mall dulu belanja bulanan, kamu gak ada kerjaan kan yang mendesak"


"Kan Widi udah janji sama mama mau masak sore ini itu artinya waktu Widi hanya untuk mama, kalau diajak belanja Widi malahan seneng bisa jalan-jalan sama mama" Jawab Widi yang tak canggung lagi dengan Bu Marni.


"Kalau gitu mama siap-siap dulu, kamu juga siap-siap"


"Oke ma" jawab Widi seraya mengangkat tangannya menyatukan jari jempol dan telunjuk membentuk huruf o kepada Bu Marni.


Widi segera keluar dari rumah Bu Marni menuju rumahnya dan segera mengganti celana dengan jeans panjang dan melapisi bajunya dengan cardigan rajut lalu mengambil tas dan dompetnya.


"Sip, Sudah cantik" gumam Widi setelah melihat bayangan dirinya di cermin.


Widi segera menuju mobilnya berada dan langsung mengemudikannya menuju rumah Bu Marni.


Tin Tin


Bu Marni segera keluar rumah mendengar suara klakson mobil di depan rumahnya.


"Ma, udah siap belum"


"Lah mana kira papa sudah pulang, ternyata kamu. bentar mama ambil tas dulu" jawab Bu Marni.


Bu Marni bergegas mengambil tasnya yang sudah di siapkan di ruang tamu dan segera menuju Widi berada tak lupa ia mengunci pintu rumahnya.


"Berangkat" ucap Bu Marni.


"Gas Ma" ucap Widi


Mobil yang di kemudikan Widi melaju meninggalkan rumah Bu Marni.


"Akhirnya mama bisa jalan-jalan lagi sama anak perempuan mama" ucap Bu Marni.


"Emang udah berapa lama ma gak jalan sama anak mama" tanya Widi merespon ucapan Bu Marni.


"Semenjak Dewi nikah dengan Suaminya dan ikut suaminya keluar Negeri, nanti kalau dia pulang mama kenalin ke kamu ya"


"Siap ma".


"Nanti kalau kamu punya suami cari yang orang Jakarta aja Wid, dan tinggalnya jangan jauh-jauh dari mama supaya mama gak kesepian lagi"


"Mama punya anak cowok gak" tanya Widi.


"Mama punya anak cuma Dewi aja dan sekarang tambah kamu, emangnya kenapa ?"


"Yah sayang banget dong, coba kalau ada bisa dong jodohin sama Widi, jadinya Widi bisa jadi anak mama selamanya dan gak bakalan jauh dari mama


Bu Marni yang mendengar ucapan Widi merasa terharu.


"Kamu selamanya bakalan jadi anak mama, sekalipun kamu menikah nanti dan mengharuskan kamu pergi jauh dari mama yang penting kita komunikasi terus".


"Btw Kamu udah punya calon suami belum".


"Jangankan calon suami, pacar aja Widi gak punya teman lelaki aja gak ada hehe".

__ADS_1


"Ahh kamu masih muda juga jangan terlalu di pikirkan lah nanti juga ketemu sendiri"


"Umur Widi udah 25 ma, bentar lagi 26" Widi menyunggingkan senyumnya.


"Lah beneran 25 mau 26 mama kira baru 19 tahun, kalau umur segini emang seharusnya kamu udah punya calon sih Wid" goda Bu Marni.


Widi memanyunkan Bibirnya seolah merajuk mendengar ucapan Bu Marni.


"Mama" rengek Widi.


"Hehe mama cuman becanda, jangan terlalu dipikirkan tentang suami nanti juga datang sendiri apalagi kamu cantik lelaki mana sih yang gak mau" ucap Bu Marni menenangkan anaknya.


"Tapi faktanya emang gitu ma, teman chating lelaki aja Widi gak punya, gimana mau dapat suami coba" sahut Widi yang tak sadar secara langsung curhat kepada Bu Marni.


"Kamu terlalu pemilih kali Wid"


"Enggak juga, Widi dulu ada temen chat tapi sekali dua kali chat aja udah dan gak lanjut Chat lagi"


"Oh ya, udah pernah ketemuan dengan temen chat kamu itu" tanya Bu Marni.


"Gak pernah ma hehe, Widi chat dengan dia juga karena aplikasi chat".


"Foto profil kamu di aplikasi chat bagus gak" tanya Bu Marni.


"Bagus ma, itu fotonya jauh-jauh Widi ambil di Pantai Kuta, sengaja Widi nunggu sampai sore supaya Sunsetnya bagus" jawab Widi.


"Hahaha" Bu Marni seketika tertawa, ia merasa lucu dengan Anak angkatnya yang ternyata sangat polos dalam urusan lelaki ini.


Widi yang melihat Bu Marni tertawa hanya mengernyitkan mukanya.


"Pantes aja chatnya sekali dua kali udahan, lah mereka gak tau kamu secantik ini aslinya, coba kamu pakai foto sendiri pasti banyak yang chat".


"Widi malu ma kalau pakai foto sendiri"


"Gak ada yang berani ma soalnya pas sekolah Widi tukang berantem dan tomboy, hehe"


"tapi biasanya cowok kan jadi penasaran dengan cewek yang kayak gitu" tanya Bu Marni lagi.


"Gak tau ah ma,tapi dulu pas sekolah Widi juga gk mikirin sih orang merhatiin Widi apa enggak, pas kuliah juga Widi fokus kuliah sama part time kerja"


"Dulu Widi gk ada mikirin laki-laki ma, tapi akhir-akhir ini gak tau kenapa kepikiran aja, faktor umur kali ya"


"Mungkin juga, saran mama sih kalau mau ada temen laki-laki kamu jangan terlalu cuek dengan mereka, tapi kalau mau cari suami juga jangan dari tampangnya aja lo Wid tapi kepribadian dan bagaimana cara dia berinteraksi dengan Tuhan, dan satu lagi Seiman" nasehat Bu Marni kepada Widi.


"Siap ma, akan Selalu Widi Ingat kata-kata mama".


Tak terasa mobil yang membawa mereka telah sampai di pusat perbelanjaan yang mereka tuju, setelah memarkirkan mobil Widi dan Bu Marni memasuki pusat perbelanjaan dan langsung menuju barang dapur di jual.


"Ma Widi ambil Trolly dulu ya"


"Ok, mama ke sana nanti kamu nyusul ya" ucap Bu Marni seraya menunjuk tempat dimana segala jenis deterjen berada.


"Ok ma"


Widi dan Bu Marni menuju tempatnya masing-masing, Setelah mengambil Trolly Widi langsung berjalan menuju tempat yang di tunjuk Bu Marni berada.


Sebelum sampai ke tujuan Widi memasukkan beberapa barang ke trollynya.


"Cairan Pembersih lantai kayaknya di rumah juga habis deh" ucap Widi seraya menyusuri deretan cairan pembersih lantai mencari merk yang sama dengan di rumahnya.


"Nah itu dia" gumam Widi ketika melihat merk cairan pembersih lantai yang sama dengan dirumahnya tetapi hanya tersisa 1.


Widi segera mengambil pembersih lantai itu dan memasukkan nya kedalam Trolly.

__ADS_1


"Eh ini punya saya kenapa kamu yang ambil" ucap tiba-tiba seorang wanita setengah baya dan mengambil cairan pembersih lantai itu lalu memasukkan kedalam trolly yang di dorong oleh anak laki-lakinya.


"Tapi ini saya yang ambil duluan ibu" Widi tak mau kalah mengambil kembali cairan pembersih lantai di dalam Trolly ibu-ibu itu.


"Saya sengahja membiarkannya dulu di situ"


"Tapi siapa yang ngambil memasukkannya kedalam keranjang paling dulu berarti itu punya dia" Widi tak mau kalah.


"Tapi saya yang lihat dulu, dan sengahja gk memasukkannya dalam Trolly karena takut bercampur dengan sayur dan daging"


"Ibu kan bisa ngambil trolly satu ulagi atau keranjang kecil atau gak ibu pegang kayak gini aja, jangan banyak alasan deh Bu ini itu punya saya titik".


"Punya saya dulu titik" sahut ibu itu tak mau kalah.


"Punya saya ibu" mereka saling menarik sebotol cairan pembersih lantai itu.


STOP.


"Udah ma, mama cari merk lain aja" ucap anak lelaki ibu itu yang mendorong trolly menengahi perseteruan ibunya dengan Widi.


"Dia aja yang cari merk lain, itu tu merk yang sama dengan di rumah kita" jawab ibu-ibu itu.


"Ini juga sama dengan merk di rumah saya ibu"


Anak lelaki ibu-ibu itu menepuk jidatnya melihat dua wanita berbeda umur itu bersiteru memperebutkan cairan pembersih lantai.


"Wid kenapa" tanya Bu Marni tiba-tiba menghampiri Widi


"ini ma, ibu ini mau ngambil ini padahal kan Widi yang ngambil dulu dari rak itu" Ucap Widi seraya mengangkat cairan pembersih itu memperlihatkannya kepada Bu Marni.


"Eh enak saja, saya dulu yang lihat ciaran pembersih lantai itu, itu artinya punya saya, lagian kamu cari yang merk lain aja yg lebih murah, rumah saya yang besar hanya mau dengan cairan merk itu"


Widi membelalakkan matanya


"ya ampun sombong sekali dia"


"Astaga, kamu mama tunggu lama cuma karena memperebutkan itu, udah kasih aja ke orang itu"


"Tapi ma cairan pembersih lantai di rumah Widi Habis"


"Nanti mama kasih kamu sekotak atau kamu mau beberapa kotak mama ambilin di kantor papa yang merk itu juga"


"Beneran ma" tanya Widi


"Beneran lah, lah itu produk dari kantor papa kok, Pembersih lantai itu Idenya mama yang kasih ke Papa"


Bu Marni Menyunggingkan senyumnya melihat ekspresi terkejut ibu-ibu yang berebut pembersih lantai dengan Widi itu.


"Jangan kamu kira anak saya yang hanya memakai celana jens dan cardigan rajut ini bisa kamu sombongi, kalau kamu melihat mobilnya pasti akan terkejut, kamu gak tau kan apa perkerjaan nya".


Ibu-ibu itu hanya menggelengkan kepalanya dia sudah kepalang malu dengan ucapannya menyombongkan rumahnya, ia tak bicara sedikitpun.


"Sama saya juga gak tau, hehehe"


Widi menepuk jidatnya dari tadi ia terkagum melihat ibu angkat nya membela dirinya di depan orang lain tapi ujung-ujungnya ibunya seperti melucu.


"Ini buat ibu saja, maaf atas ketidak nyamanan ya ucap Widi seraya memberikan cairan pembersih itu dan membungkukkan tubuh nya hormat kepada ibu itu.


"Ayo ma kita lanjut belanjanya" ucap Widi seraya menarik tangan Bu Marni dan tangan satunya mendorong trolly, sebelum ucapan mamanya melebar kemana-mana dan ujung-ujungnya gak jadi belanja, lebih baik Widi mengikhlaskan cairan pembersih lantai itu.


Ibu-ibu itu agak sedikit syok melihat Widi memberikan cairan pembersih lantai itu padahal dari tadi Widi bersikeras tidak mau memberikan nya terlebih lagi dia cukup kagum dengan aksi Widi minta maaf dan membungkuk hormat kepadanya, dia jadi malu dengan kesombongannya tadi.


"Ayo ma kita pergi juga" ucap anak laki-laki ibu itu.

__ADS_1


"Ehhh, ayo" ia tersadar dari lamunannya.


__ADS_2