Cinta Gadis Wedding Planner

Cinta Gadis Wedding Planner
BAB 4


__ADS_3

BRAK


"Aduh" Keluh Widi


"Shitt"


"Kalau jalan lihat-lihat ini bukan bandara punya nenek moyang lo seenaknya aja nabrak orang" Maki seorang pria yang sayangnya menurut Widi berwajah tampan.


"Hey, Situ yang jalannya gak pake mata, seenaknya aja nuduh orang" balas Widi tak mau kalah.


"Cih dimana-mana juga jalan itu pake kaki bukan mata" balas pria tersebut.


"Elo ya, Udah salah bukannya minta maaf malah ngeles"


"dih elo yang salah, malah nuduh gue".


"Salah lo".


"Elo yang salah".


"Salah lo".


"Elo".


"Elo".


Mereka terus saling menyalahkan tak ada yang mau kalah dan mengalah.


"CK, awas aja ya kalau kita ketemu lagi" ujar pria tersebut ketus.


"Siapa juga yang mau ketemu orang kayak kamu"


Keduanya pun berlalu dengan wajah yang masih mengandung kemarahan, tak ada yang minta maaf dan memaafkan.


Lelaki tersebut berjalan menuju sahabatnya berada.


"Kenapa muka Lo bi, kena sawan?" Tanya sang sahabat.


"Iya sawan hantu bandara" jawab Bian asal.


Ya pria itu adalah Bian yang hari ini pulang ke kota B sesuai dengan permintaan orangtuanya.


"CK, Dasar mana ada hantu pas orang lagi rame begini" kata sahabat Bian.


"Ada tu orangnya" tunjuk Bian kepada seorang wanita yang sedang memainkan handphone nya.


"Cantik" Gumam sang sahabat yang masih terdengar oleh Bian.


"Yang begitu lo bilang cantik" tanya Bian.


"Cantik banget malah, Tinggi, langsing, kulit putih dan aduhai" jawab sang sahabat masih memandangi seorang gadis yang tak jauh dari mereka.


"Ehhh Rian buaya, lo gak tau aja dia itu kayaknya bukan wanita, mana ada wanita yang garang kayak singa, sombong, malahan tadi dia maki-maki gue" kata Bian kepada sang sahabat.


"Benarkah, finally ada juga perempuan yang gak terpesona lihat elo" ujar asisten yang bernama Rian tersebut.


Beberapa saat terjadi kegaduhan seorang gadis yang di pandangi Rian yang tak lain adalah Widi tiba-tiba berlari mengejar seorang laki laki.


Widi menyerang laki-laki tersebut dengan ilmu bela diri yang dia pelajari.


Widi memiting kaki laki-laki tersebut dan mengunci pergerakannya lalu mengambil Tas pada tangan laki-laki tersebut


"Dasar Bajingaan brengsek, gak tau diri, pemalas" maki Widi kepada lelaki yang rupanya mencopet Tasnya.


Widi menyerahkan penjambret tersebut kepada petugas bandara yang sudah menghampiri Widi karena mendengar kegaduhan tersebut.


"Maaf atas ketidak nyamanan Nona, kami akan mengurus penjambret ini " ujar petugas bandara.


"Hmm" jawab Widi cuek.


Widi tidak menambahkan kata-kata nasehat atau pun saran kepada petugas bandara tersebut, salah dia sendiri yang lengah membiarkan tasnya tergeletak di kursi samping dia duduk dan menurutnya bandara sudah menjaga pelayanan dengan baik tidak mungkin mereka memperhatikan setiap orang yang ada dalam bandara yang sangat luas tersebut.


Sementara beberapa orang yang memperhatikan tampak kagum terhadap aksi yang dilakukan oleh Widi mengejar jambret tersebut, tak terkecuali 2 orang lelaki yang tak jauh dari mereka yaitu Bian dan Rian.


"Gilaak, ternyata bukan gadis biasa" celetuk Rian.


"Biasa aja" sahut Bian.


Bian bukannya tak terpesona dengan aksi yang dilakukan Widi melawan penjambret, cuma memuji bukanlah tipe seorang Bian.


Beberapa saat berlalu mobil jemputan Bian dan Rian sudah datang.


Begitu juga dengan Widi yang langsung menaiki salah satu taksi bandara menuju hotel yang sudah di pesannya melalui sebuah aplikasi.

__ADS_1


Kedua mobil itu berlalu meninggalkan bandara menuju tujuan masing-masing.


Widi sampai di kamar hotel yang sudah dia pesan.


Widi membersihkan diri dan bersiap untuk tidur supaya besok bisa memulai hari dengan semangat bertemu dengan para klient


*


*


*


Sementara di sebuah rumah mewah Bian baru sampai bersama sahabatnya.


Bian dan Rian turun dari mobil lalu menghampiri dan menyalami sorang wanita yang menyambut mereka, yang tak lain adalah Dian mamanya Bian.


"Assalamu'alaikum ma".


"Waalaikumussalam".


"Sehat ma ?"


"Sehat, Papa juga sehat".


"Akhirnya pulang juga kamu Bi" sambung mamanya Bian.


"Udah makan" tanya mama Dian kepada anaknya


"Udah ma, tadi di bandara makannya"


"Kalau begitu mandi dulu lanjut Istirahat, besok kita ngobrol lagi".


"Kamu juga Rian, menginap aja disini besok baru pulang kerumah mu"


"Iya Ma".


"Iya Tante".


Keduanya berlalu menuju kamar.


*


"Hey anak nakal" sapa seorang pria paruh baya suami Mamanya Bian.


Deg


Papa Bian memang mengharapkan anak sulungnya tersebut menjadi penerus bisnisnya tapi Bian kekeh ingin membangun bisnisnya sendiri.


"Hey juga suaminya mama" jawab Bian seraya menghampiri papanya.


Bian agak canggung sebenarnya, tapi dia harus mencairkan suasana.


"Ck Dasar" Decak papa Bian yang bernama Bayu Permana Kalandra.


"Sehat Pa ?" Tanya Bian.


"Sehat Alhamdulillah" tambah sehat kalau kamu mau jadi penerus Kalandra grup" jawab papa Bayu.


"Bian kan udah punya perusahaan sendiri pa" ujar Bian.


"Kamu kan bisa menghandle keduanya, papa percaya padamu" jawab Bayu Enteng.


"Hmm, Bian sama Rian ke kamar dulu pa, capek mau istirahat" Bian mengalihkan pembicaraan.


"Huhhh" Bayu menghela napasnya kasar.


Anaknya yang satu ini selalu mengalihkan pembicaraan kalau Bayu membahas tentang perusahaan.


Bian dan Rian melanjutkan jalannya, mereka menaiki lift menuju lantai 3 dimana kamar mereka berada, Rian memang dianggap keluarga oleh orang tua Bian, itulah mengapa dia juga punya kamarnya sendiri di rumah mewah yang di sebut Mansion itu.


"Lo gak kasian sama bokap lo Bi" sang sahabat tiba-tiba berbicara setelah dari tadi hanya diam menyaksikan ayah dan anak itu.


Bian tak menjawab pertanyaan asistennya.


Bian masuk ke kamarnya, disusul Rian juga masuk ke kamararnya setelah tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. sudah biasa itulah mengapa Rian tidak tersinggung sedikitpun ketika melihat Bian diam saja.


Mata Bian bergulir memperhatikan setiap sudut kamarnya.


"Masih sama" Gumam Bian.


Bian melanjutkan aktifitasnya membersihkan diri dan memakai pakaian tidurnya lalu mengistirahatkan diri setelah seharian lebih duduk didalam pesawat.


*

__ADS_1


*


*


Pagi menyapa


Semua Keluarga Kalandra mulai dari Oma, Opa, Mama,Papa, Bian, Rian dan Adiknya sudah berada di meja makan.


Mata Oma Bian tampak berkaca-kaca menyaksikan rutinitas pagi yang sudah lama tidak mereka rasakan lengkap seperti ini.


"Oma kenapa, ada yang sakit ?" Tanya Bian.


"Gak ada, lanjut aja makannya" jawab Oma Bian yang bernama Maya.


Keluarga yang lain hanya memperhatikan mereka, mereka juga merasakan apa yang Oma rasakan.


Setelah makan pagi semua anggota keluarga kecuali Papa Bayu karena sudah pergi bekerja dan Rian yang pulang kerumahnya, mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Bi gimana kabarmu".


"Baik oma".


"Oma dan opa Gimana kondisinya sekarang" tanya Bian.


"Oma Opa baik juga".


"Perusahaan kamu gimana".


"Lancar Oma, sekarang udah ada cabang di 3 negara".


"Syukurlah".


"Lalu kapan kamu mau kasih Oma cicit".


Deg


Ini lah yang Bian hindari jika kumpul dengan keluarganya.


"Oma minta aja sama Bianka, kan dia yang udah mau nikah" jawab Bian.


"Heiii brother, Oma mintanya sama Abang ya kenapa bawa-bawa nama Bianka, bianka masih kecil juga mau punya anak kecil" celetuk Bianka adik Bian.


"CK, masih kecil tapi udah minta nikah" jawab Bian.


"Cihhh, Bianka udah 23 tahun, udah dewasa, udah memenuhi syarat nikah, dari pada nanti khilaf kan lebih baik nikah, lagian juga ada yang ngajak nikah ya Bianka maulah" jawab Bianka.


"Stop, berhenti cekcoknya" sela mama Dian.


"Kalian kalau bertemu pasti ada aja yang di cekcokin" tambah Oma Maya.


"Cekcok tanda sayang Oma" jawab Bian.


"Ciiihh" Bianka hanya berdecih.


Laki-laki yang ada di ruangan tersebut yang tak lain adalah Opa Bian yang bernama Haikal hanya menyimak tanpa bersuara, senyum tak surut dari bibirnya.


Pria paruh baya tersebut merasakan hal yang tak biasa hari ini, hal yang sudah lama tidak dilihat dan didengar, hal itu dia merasa sangat bahagia.


"Bi, nanti siang temenin mama ya ketemu WO nya nikahan Bianka".


"Bianka yang nikah kenapa Bian yang nemenin mama ketemu WO".


"Bianka gak bisa nemenin mama, Bianka udah janji mau ke Rich jawelry dengan Adit ngambil cincin kawin" jawab Bianka.


"Mama sama Oma aja perginya, kan perempuan lebih tau tentang hal begituan" jawab Bian lagi.


"CK, Oma gak bisa ikut, Oma sama Opa mau shopping ke mall nanti" jawab Oma Maya.


"Bian ikut ya Oma, Bian juga mau beli baju" usul Bian.


"Izin dulu tuh sama mama kamu bi, kan tadi mama mu yang ngajak kamu keluar rumah" jawab Oma Maya.


"Mamaku yang cantik, Bian ikut Oma ke mall aja ya, besok-besok baru Bian temenin mama" Rayu Bian.


"CK, iya mama izinin tapi janji ya besok-besok kamu temenin mama".


"Iya janji" Jawab Bian seraya mengecup pipi mamanya.


Manisnya mereka...


...****************...


...Sampai BAB 4 Masih banyak Typo dan tidak sesuai PUEBI. Harap maklum ya masih pemula, kritik dan saran yang membangun ya guys (Kalau ada yang baca)....

__ADS_1


__ADS_2