
"Dia lagi"
"Kebetulan macam apa ini"
"Selamat pagi nyonya, Selamat pagi Tuan" sapa Widi yang sudah berada di dekat Dian dan Bian.
"Pagi juga nak Widi"
"Panggil tante nak Widi, kan udah Tante bilang kemarin jangan terlalu formal"
"Maaf Tante, Widi hanya belum terbiasa"
"Ini kenalin anak tante yang sulung, kakaknya Bianka" ucap Dian memperkenalkan lelaki yang ada disampingnya.
Lelaki yang Widi kenal tanpa tau namanya.
"Widi Zakeisha"
"Fabian Dewangga Kalandra"
Widi dan Bian berjabat tangan di depan Dian seperti orang yang baru pertama kali bertemu.
"oh jadi dia WO nya"
"Ya ampun dia lagi"
Widi dan Bian hanya mampu bergumam dalam hati.
"Bianka dan calon suaminya gak bisa ikut Wid, mereka ada foto prewedding hari ini" kata Dian kepada Widi.
"Iya tante gak apa-apa, semalam Widi juga di kasih tau sama Bianka".
"Yang penting dari pihak keluarga yang di percayakan ada disini" kata Widi lagi.
"Apakah bisa kita mulai Tante".
"Bisa nak Widi".
Mereka bertiga melangkahkan kaki menuju meja dan kursi yang telah disiapkan.
Widi memperkenalkan tim catering yang akan menghandle makanan pas acara nanti.
Dari pihak catering menjelaskan satu per satu makanan yang sudah disiapkan timnya kepada mereka.
Giliran Widi dia menjelaskan ukuran porsi, cara penyajian serta letak tempat makanan yang tidak mengganggu tamu untuk berlalu lalang serta tidak akan mengganggu dekorasi pernikahan pada saat acara berlangsung nanti.
Widi menjelaskan secara luwes dan susunan kata yang tertata dengan apik dengan body language yang pas, sehingga yang mendengar tidak berpikir untuk menyela dan langsung paham apa yang di bicarakan.
__ADS_1
"....Jadi seperti itu Tante" ucap Widi di ujung kalimat yang di bicarakan nya.
"Lumayan juga cara dia nyampein". batin bian
"Tante suka dan setuju-setuju aja apa yang sudah kamu jelaskan tadi.
"Terima Kasih Tante, kalau begitu berikutnya kita tester rasa dari makanan yang sudah dijelaskan tadi ya Tante" ucap Widi yang masih menampilkan senyuman tulusnya.
"Bunglon". ucap Bian dalam hati
Bian ternyata ikut menyimak apa yang Widi Jelaskan, bukan menyimak lebih tepatnya memperhatikan gestur Widi pas menjelaskan.
Satu persatu makanan dan minuman di sajikan mulai dari appetizer, main course, serta dessert menu asli Indonesia serta Western.
Dian dan Bian mencoba makanan dan minuman yang telah di sajikan.
Setelah selesai makan Dian menyampaikan apa yang dirasakannya serta sedikit saran, sedangkan sang anak yang makan dengan lahap tadi hanya mengiyakan apa yang ibunya ucapkan jika sesekali di tanya pendapatnya.
"Kita beralih ke makanan berikutnya ya tante".
"Masih ada lagi".
"Ya ampun perut Tante masih muat gak ya".
"Sesuai dengan permintaan dari Bianka yang ingin menghadirkan streetfood Tante, jadi sudah Widi pilihkan menu yang sesuai untuk di sajikan nanti".
Dari berbagai menu sudah di sajikan mulai dari Tahu bulat, sotong, cilor, cireng, cilok, telur gulung, batagor, siomay sudah memenuhi meja.
"Bian gak perlu lagi nyari jajanan ini diluar, semuanya sudah ada didepan mata" ucap Bian yang tak sabar untuk memakan makanan yang sudah lama tak di makannya itu, seolah lupa sebelumnya dia sudah makan dengan sangat lahap.
"Awas nanti buncit baru tau rasa, gak ada yang mau jadi istri kamu" ucap Dian terkekeh memandangi putranya yang tampak takjub dengan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
Widi hanya tersenyum melihat interaksi Ibu dan anak itu.
Sedangkan Bian tak memperdulikan ucapan sang mama di langsung melahap satu persatu makanan yang ada didepan matanya, sedangkan sang mama hanya menatap tak percaya dengan putranya serakus itu, lalu Dian pun ikut mencicipi makanan itu sebelum sang putra melahap habis tanpa sisa.
Setelah semua piring kosong.
"Gimana Tante makanannya, apakah ada yang ingin di tambah atau di kurangi atau mau mengkoreksi rasanya " tanya Widi setelah menyaksikan ibu dan anak memakan habis semua makanan yang disajikan tanpa berkata sedikitpun.
"Kamu gak lihat Wid semua piring yang tadinya terisi jadi kosong, itu tandanya makanan yang kamu pilih semuanya kami suka, dan gak perlu di kurangin kalau mau ditambah terserah nak Widi aja Tante serahkan kepada nak Widi, Kan Bian ?" ucap Dian menanyakan pendapat anaknya.
"hm, iya ma". ucap Bian yang sudah kembali ke mode kulkas jika ada orang bukan dari anggota keluarganya di dekatnya
"Terima kasih Tante atas kepercayaannya".
Setelah selesai semuanya Widi mengucapkan terima kasih kepada Dian dan Bian karena sudah menyempatkan waktu untuk hadir, serta tak lupa tim catering yang sudah bekerja keras menyajikan makanan.
__ADS_1
"Nak Widi Tante juga mengucapkan terima kasih udah jauh-jauh datang kesini mengurus pernikahan anak Tante" ucap Dian tulus.
"Memangnya dari mana dia, sampai mama bilang jauh-jauh datang kesini" Batin Bian.
"Sudah tugas kami seperti itu Tante, malah kami senang mengurus acara ini sering-sering aja pakai jasa Wedding planner kami" canda Widi kepada Dian.
"Gimana mau sering Wid, setelah ini aja gak tau kapan lagi akan ada acara nikahan, gak mungkin juga kan nak Widi jauh-jauh dari ibu kota hanya untuk mengurus acara selamatan kantor, nak Widi pasti lebih memilih acara yang lebih besar dan lokasinya dekat".
Widi hanya menampilkan senyumannya tak tau harus menanggapi ucapan Dian yang benar adanya.
"Widi disini jadi sampai lusa kan" tanya Dian.
"Maaf Tante sepertinya yang Widi ucapkan kemarin berubah rencana. Widi pulang ke Jakarta nanti malam".
"Kenapa mendadak, padahal Tante mau ngundang kamu kerumah sekalian ketemu calon pengantinnya".
"Maaf sekali lagi Tante Widi tidak dapat memenuhi permintaan Tante, Mia sudah bising nanya Widi kapan pulang, karena kerjaan disana juga masih ada yang menunggu".
"Gak perlu minta maaf, bukan salah kamu Wid, nanti kita lewat telepon aja kalau mau berbincang lagi".
"Kalau begitu kami pamit dulu" ucap Dian setelah itu cipika cipiki kepada Widi.
Widi lanjut mencium tangan Dian dengan takzim.
"Widi kalau masih ada yang di butuhkan di hotel ini bicarakan saja dengan staff itu" ucap Dian menunjuk staff yang berdiri di depan pintu ballroom.
"Siap Tante, Terima kasih".
Ibu dan anak itu berjalan keluar dari ballroom tersebut.
"Kamu kenapa dari tadi diam aja Bi" tanya Dian curiga.
"Bian mau ngomong apa juga ma" jawab Bian.
"CK ngomong apa kek gitu, jangan diem kayak patung, kamu gak terpesona dengan gadis tadi, mama aja yang perempuan naksir sama dia".
Bian hanya diam memutar bola matanya malas mendengar ucapan sang mama
*
Sementara itu di dalam ballroom Widi masih berbincang dengan pihak catering setelah itu dia pamit untuk melihat kondisi rooftop.
Ya selain didalam ballroom pesta juga dilaksanakan di rooftop. Ballroom tempat kolega bisnis orangtua pengantin rooftop tempat sahabat dan rekan bisnis pengantin.
Setelah itu Widi bersama staff yang sudah di tugaskan Dian tadi sudah berada di rooftop, Widi melihat kondisi rooftop yang terawat itu yang sekelilingnya di pagari dengan kaca, Widi memfoto setiap sudutnya, sedikitpun tempat tak ia lewatkan.
Setelah selesai Widi mengucapkan terima kasih kepada staff hotel itu dan siap menuju tempat bertemu klient selanjutnya.
__ADS_1